tirto.id - Program Studi (Prodi) Penerbitan, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menggelar pelatihan fotografi jurnalistik di pondok pesantren Uzlifatil Jannah, Karang Tengah, Tangerang Selatan pada 21 Juli 2025. Program ini bertujuan mengajak para santri mengenal dunia digital kreatif.
Pelatihan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Prodi Penerbitan PNJ. Kegiatan pengabdian masyarakat tahun ini berbeda dari sebelumnya, yang lebih banyak berfokus pada pelatihan kewirausahaan atau teknologi tepat guna.
Menurut Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari Prodi Penerbitan PNJ, Drs. Cecep Gunawan, M.Si, pemilihan fotografi jurnalistik sebagai topik pelatihan dilatarbelakangi meningkatnya peran media visual di kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penyebaran pesan dakwah.
Cecep menjelaskan, pelatihan fotografi jusrnalistik bagi para santri tersebut menggunakan pendekatan persahabatan. "Kami datang bukan sebagai guru, tapi sebagai teman berbagi," kata dia melalui keterangan resminya yang diterima pada Senin (28/7/2025).
Materi pelatihan berfokus pada pengenalan dasar fotografi, teknik pengambilan gambar, dan penyampaian pesan lewat media visual. Sekalipun materi dirancang secara sederhana, para santri tidak hanya diajarkan soal teknis seperti komposisi, pencahayaan, dan sudut pandang, tetapi juga diajak memahami makna di balik gambar. Tujuan pemberian materi itu agar mereka dapat menyampaikan pesan-pesan dakwah secara visual dengan efektif.
Para santri peserta pelatihan mengikuti kegiatan dengan antusias, meskipun sebagian besar dari mereka baru pertama kali memegang kamera profesional. Tangkapan gambarnya pun sudah menunjukkan potensi yang menjanjikan.
Selain teknik fotografi, pelatihan ini juga mengenalkan pesan-pesan positif dan nilai dakwah yang bisa disampaikan melalui gambar. Foto tidak sekadar dipahami sebagai hasil visual, tetapi juga medium naratif yang mampu menyampaikan pesan moral dan spiritual.
Pendekatan ini, menurut Cecep, berhasil menciptakan suasana interaktif selama pelatihan berlangsung. Beberapa santri mulai mengembangkan ide untuk menjadikan dokumentasi visual sebagai bagian dari kegiatan rutin pondok pesantren. Mereka ingin membuat buletin foto bulanan atau konten dakwah visual yang bisa disebarkan di media sosial pesantren.
Program ini bertujuan memberikan akses dan keterampilan baru kepada para santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pelatihan digelar untuk memberi para santri tambahan keterampilan yang relevan dengan perkembangan dunia saat ini. Keseimbangan antara nilai-nilai pesantren dan perkembangan keterampilan santri menjadi tantangan sekaligus peluang dalam program ini.
Adapun pengelola pesantren menerima program ini dengan terbuka sekaligus memberikan dukungan penuh. Pimpinan pondok menyebut bahwa pelatihan ini menjadi jembatan yang baik antara nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan zaman modern yang berbasis media.
Kegiatan pelatihan fotografi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para santri mengenal dan memanfaatkan media digital secara bijak. Dengan keterampilan yang tepat, mereka bisa menjadi agen dakwah visual yang menyuarakan nilai-nilai kebaikan melalui lensa. Di era digital, gambar bisa menjadi medium dakwah yang kuat—dan santri, sebagai generasi penerus, perlu dibekali kemampuan untuk menggunakannya dengan bertanggung jawab.
Masuk tirto.id


































