tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sedikitnya 30-50 pabrik etanol baru di seluruh Indonesia. Keputusan itu diambil setelah menerima paparan bahwa Indonesia telah memiliki kemampuan untuk memproduksi bahan bakar campuran etanol sebanyak 10 persen atau E10.
“Dan hari ini saya dipaparkan, dikasih lihat tadi, saya minta maaf tadi saya lama melihat pameran, itu ada tadi sudah mulai kita mampu menuju E10, etanol 10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10 persen etanol,” kata dia saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI, dikutip YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (17/7/2026).
Tidak hanya E10, Prabowo bahkan mendapat bisikan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mulai bisa mengembangkan E20. Namun, untuk memproduksi bahan bakar terebut dibutuhkan pabrik etanol lebih banyak. Akan tetapi, saat ini jumlah perusahaan yang mampu memproduksi etanol dengan kualitas fuel grade masih sangat terbatas.
“Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” tegas Prabowo.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan, pemerintah tidak ingin kalah dari India yang sudah mampu memproduksi E20, atau bahkan Brasil yang sudah sepenuhnya menggunakanbahan bakar E100.
“Masak Indonesia nggak bisa. Indonesia bisa kan? Bisa? Bisa. Bisa,” kata dia.
Sementara itu, target produksi E10 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas bauran energi berbasis bahan bakar nabati sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan Indonesia sebelumnya telah lebih dahulu mencatat capaian melalui implementasi biodiesel B50, yakni solar yang dicampur 50 persen bahan bakar berbasis minyak sawit. Dengan produksi B50, mulai bulan ini Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.
Menurutnya, penghentian impor tersebut membuat perputaran uang tetap berada di dalam negeri dan memberi manfaat langsung kepada petani sawit.
"Jadi dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia,” pungkas Prabowo.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































