Menuju konten utama

Penembakan di Sekolah Thailand: 9 Tewas, 30 Luka, Pelaku Remaja

Penembakan di sekolah Debsirin, Thailand, menewaskan 9 orang dan melukai lebih dari 30 orang. Pelaku berusia 14 tahun diduga menembak kakek-neneknya dahulu.

Penembakan di Sekolah Thailand: 9 Tewas, 30 Luka, Pelaku Remaja
Anggota keluarga korban penembakan di sekolah berduka saat jenazah dimasukkan ke dalam ambulans di lokasi kejadian di distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi—sebelah utara ibu kota Thailand, Bangkok—pada 7 Agustus 2026. AFP/Lillian SUWANRUMPHA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penembakan massal terjadi di sekolah Debsirin, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, yang berbatasan langsung dengan Bangkok, Thailand.

Pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 10.27 waktu setempat, polisi datang ke lokasi penembakan yang saat itu masih berlangsung. Media lokal melaporkan ada korban luka dan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Polisi telah mengidentifikasi pelaku penembakan sebagai seorang siswa remaja berusia 14 tahun.

Debsirin merupakan sekolah menengah ternama yang memiliki sejumlah cabang di berbagai wilayah Thailand. Cabangnya di Nonthaburi, tempat penembakan terjadi, berada di wilayah pinggiran barat laut Bangkok.

Sekolah Debsirin yang pertama di Bangkok didirikan pada 1885. Sejumlah tokoh publik Thailand pernah bersekolah di sana, termasuk diplomat, atlet, hingga beberapa mantan perdana menteri.

Sekolah tersebut beserta berbagai cabangnya dikenal luas sebagai institusi pendidikan bergengsi di Thailand.

Kronologi Penembakan di Sekolah Thailand

Menurut laporan BBC, tembakan dilaporkan terdengar dari cabang Sekolah Debsirin di Nonthaburi, sesaat setelah pukul 10.00 waktu setempat.

Video dari lokasi kejadian memperlihatkan staf sekolah bergegas mengeluarkan para siswa dari ruang kelas, sementara petugas kepolisian berusaha mencari pelaku penembakan.

Menurut polisi, pelaku merupakan siswa berusia 14 tahun di sekolah tersebut. Dia melepaskan tembakan ke arah guru dan siswa lainnya sebelum kemudian mengakhiri hidupnya.

Sesaat setelah pukul 10.00 waktu setempat

Tembakan dilaporkan terdengar dari cabang Sekolah Debsirin di Nonthaburi, wilayah pinggiran ibu kota Bangkok.

Pukul 10.27

Menurut Kolonel Polisi Passakorn Chaitaweewong, penembakan masih berlangsung dan polisi menangani situasi tersebut.

Pukul 11.45

Seorang petugas kepolisian mengonfirmasi bahwa tersangka pelaku penembakan berusia 14 tahun. Media lokal kemudian melaporkan bahwa pelaku telah tewas.

Pukul 13.24

Reuters mengutip keterangan polisi yang menyebut pelaku menembak dan membunuh kakek-neneknya di rumah mereka sebelum melepaskan tembakan di sekolah.

Pukul 17.50

Dalam konferensi pers, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengonfirmasi delapan orang tewas, terdiri atas pelaku, kakek-neneknya, dan lima guru. Lebih dari 30 orang terluka, sembilan di antaranya dalam kondisi serius.

Jumlah Korban Tewas Bertambah Jadi 9

Menurut laporan terbaru pada Minggu (9/8/2026), jumlah korban tewas bertambah jadi sembilan orang, setelah polisi mengatakan seorang siswi berusia 12 tahun yang sebelumnya sempat dirawat, meninggal dunia.

Polisi di Kantor Polisi Plai Bang, Provinsi Nonthaburi, mengatakan siswi tersebut sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka kritis.

Dia meninggal sehari setelah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun diduga menembak kakek-neneknya, kemudian menewaskan sejumlah orang di sekolah sebelum mengarahkan senjata ke dirinya sendiri.

Pelaku berusia 14 tahun tersebut melukai lebih dari 30 orang dalam penembakan di Debsirin. Hingga Sabtu malam, 14 korban masih menjalani perawatan di rumah sakit dan tujuh di antaranya dalam kondisi kritis.

Pelaku Tembak Mati Kakek dan Neneknya Sebelum Serang Sekolah

The Guardian melaporkan pada Minggu (9/8), Wakil Komisaris Kepolisian Wilayah Provinsi 1, Atthapol Anusit, mengatakan kepada wartawan, remaja tersebut telah tinggal bersama kakek-neneknya selama 12 tahun setelah kedua orang tuanya berpisah.

Polisi mengatakan pelaku diduga melepaskan sedikitnya 26 tembakan menggunakan senjata milik kakeknya. Setelah itu, dia menyerang Debsirin, tempatnya bersekolah, sesaat setelah pukul 10.00 waktu setempat.

Polisi mengatakan lima guru tewas dalam penembakan di sekolah tersebut sebelum pelaku bunuh diri. Sedikitnya 30 orang lainnya terluka, dan tujuh di antaranya dalam kondisi serius.

Saat ditemukan, pelaku masih membawa 34 butir amunisi tambahan. Pada Minggu, polisi juga mengatakan remaja tersebut pernah memiliki senapan angin yang disita oleh seorang guru pada tahun lalu.

Dia juga diketahui menonton konten kekerasan di internet dan menggunakan media sosial untuk mempelajari cara menggunakan senjata api.

"Berdasarkan wawancara dengan para saksi, pelaku telah menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari penggunaan senjata api selama beberapa waktu, sekitar satu hingga dua tahun," kata Atthapol.

Atthapol mengatakan polisi sejauh ini telah memeriksa 17 saksi. Sebuah pisau juga ditemukan di dalam tas remaja tersebut. Barang bukti lain yang ditemukan di lokasi kejadian antara lain senjata api, selongsong peluru, dan sebuah komputer pribadi.

Para siswa yang berhasil melarikan diri dari lokasi penembakan menceritakan keterkejutan mereka. Salah seorang siswi mengatakan dia melihat seorang guru ditembak di hadapannya dan kemudian memanjat pagar untuk menyelamatkan diri.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul berjanji akan menerapkan aturan baru terkait kepemilikan dan penggunaan senjata api.

Kepada wartawan, dia mengatakan hanya pejabat pemerintah yang sedang bertugas yang nantinya diperbolehkan membawa senjata.

Namun, dia belum menjelaskan secara spesifik aturan tersebut, termasuk apakah regulasi baru akan memperketat persyaratan kepemilikan senjata.

Charnvirakul mengatakan serangan tersebut "dipersiapkan dengan matang" dan situasinya bisa saja menjadi lebih buruk karena pelaku masih memiliki lebih dari 30 butir amunisi ketika menembak dirinya sendiri.

Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN MASSAL atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Fahreza Rizky