Kebijakan Energi

Potensi Cuan LinkAja saat Beli BBM Subsidi Lewat MyPertamina

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 5 Jul 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Irto menjelaskan pembayaran melalui LinkAja adalah sebuah pilihan bagi warga. Namun, tetap bisa bayar tunai maupun debit.
tirto.id - Taufik Rahmat terpaksa menghapus aplikasi layanan keuangan digital milik MyPertamina di layar ponselnya. Aksi itu dilakukan setelah ia berhasil melakukan pendaftaran agar bisa mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite dan solar.

Pemilik kendaraan roda empat itu awalnya kesal ketika mengetahui MyPertamina terintegrasi dengan salah satu dompet digital milik LinkAja. Karena penasaran, ia akhirnya mencoba memindahkan saldonya ke LinkAja. Meski tidak melakukan transaksi pembelian BBM, namun ada notifikasi potongan biaya admin sebesar Rp1.000.

“Sepertinya tidak berarti karena cuma Rp1.000, tapi saya lalu berpikir berapa banyak biaya admin yang bakal masuk ke LinkAja ke depan dalam transaksi beli BBM bersubsidi,” tulis dia salah satu grup media sosial.


Dia meyakini bakal ada jutaan konsumen mengisi atau top up dana ke LinkAja setiap harinya ketika implementasi pembelian BBM subsidi lewat MyPertamina sudah dilakukan. Jika sedikitnya ada sebanyak 14,5 juta orang mendaftar dan terverifikasi berhak mendapatkan BBM subsidi dari Pertamina, maka potensi nilai dari biaya pemindahannya cukup besar. Asumsinya Rp14,5 juta x Rp1.000 = Rp14,5 miliar yang mengalir ke LinkAja.

Sementara jika dihitung dalam sebulan, misalnya Rp14,5 juta pemilik kendaraan itu rata-rata melakukan top up sebanyak 5x, maka potensi uang mengalir mencapai Rp72,5 miliar. Asumsi perhitungan itu diambil hanya dari 10 persen pemilik kendaraan baik menggunakan mobil maupun motor yang saat ini jumlahnya mencapai 145 juta kendaraan.

Warga asal Jakarta Selatan, Yadi juga ikut menyoroti. Dia mengatakan ada biaya tambahan lain ketika masyarakat dipaksa untuk menggunakan aplikasi MyPertamina sebagai alat pembayaran ketika membeli BBM subsidi. Pertama saat isi saldo ke LinkAja dan kedua ketika pemindahan saldo ke MyPertamina.

“Jadi ada dua komponen yang kena biaya kalau pakai LinkAja, saat isi saldo ke LinkAja itu dari beragam bank itu kena, dan saat tranksaksi dengan MyPertamina dengan pemindahan saldo ke MyPertamina itu kena Rp1000, jadi Rp2000 tuh," kata dia kepada Tirto.

Redaksi Tirto sudah berupaya meminta penjelasan mengenai potongan biaya yang dikenakan dan potensi keuntungan LinkAja kepada pihak manajemen. Namun hingga berita ini dirilis, manajemen tidak merespons pertanyaan.


Pembayaran Beli BBM Lewat MyPertamina Terbatas

Rifka Sri Rahayu (27) sempat menjajal menggunakan aplikasi untuk membeli BBM di SPBU Ketapang, Jakarta Pusat. Dia tidak menampik MyPertamina masih memiliki kendala. Salah satunya metode pembayaran masih sangat terbatas.

Selain menggunakan dompet digital Link Aja, pengguna juga dapat melakukan pembayaran direct debit hanya dengan pilihan tiga bank yaitu: BNI, BRI, dan Mandiri.

"Kendalanya cuma di metode pembayarannya saja sih. Soalnya, kan, cuma ada LinkAja sama debit. Sedangkan gue enggak pernah pakai itu semua. Jadi mau enggak mau kudu registrasi LinkAja dulu yang paling gampang," kata Rifka menceritakan pengalamannya.

Ibu dari satu orang anak ini menilai, aplikasi tersebut dapat menyulitkan masyarakat. Khususnya bagi orang tua, terlebih metode pembayarannya harus terhubung dengan LinkAja.

Namun sebaliknya, jika sudah terintegrasi melalui aplikasi dan dompet digital akan menjadi mudah. Antrean pembelian khusus nontunai tidak mengular panjang seperti tunai.

“Justru antrean di pos nontunai gak sepanjang antrean tunai. Tapi itu kayaknya sih karena belum banyak masyarakat yang pakai aplikasi atau bayar pakai kartu," bebernya.


Respons Pertamina dan Pemerintah

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting menekankan, pembelian BBM bersubsidi tidak mewajibkan pemilik kendaraan bermotor menggunakan aplikasi MyPertamina. Masyarakat tetap bisa membeli secara tunai seperti biasa.

“Pembelian tidak harus pakai aplikasi, dia membayar pakai tunai maupun nontunai," kata Irto saat dihubungi reporter Tirto.

Saat ini, Pertamina Patra Niaga memang telah membuka pendaftaran bagi kendaraan yang ingin mendapatkan BBM subsidi jenis pertalite dan solar melalui aplikasi MyPertamina atau website. Pendaftaran dibuka sampai dengan 30 Juli 2022.

Pada tahap ini, pendaftaran fokus untuk melakukan pencocokan data antara yang didaftarkan oleh masyarakat dengan dokumen dan data kendaraan yang dimiliki. Setelah statusnya terdaftar, masyarakat akan mendapatkan QR Code Unik yang akan diterima melalui email atau notifikasi di website.

“Untuk kemudahan masyarakat, QR Code bisa di-print out dan dibawa ke SPBU. Sehingga tidak wajib men-download aplikasi MyPertamina atau membawa handphone ke SPBU," jelasnya.

Terkait pembayaran menggunakan LinkAja, Irto menjelaskan bahwa itu adalah sebuah pilihan bagi masyarakat. Pemerintah atau Pertamina tidak mewajibkan menggunakan aplikasi maupun dompet digital LinkAja.

“Itu tidak benar infonya [beli BBM lewat LinkAja]. Jadi bisa beli tunai maupun nontunai. Bisa pakai kartu juga. Kartu kredit/debit," jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, Saleh Abdurrahman menambahkan, pembayaran melalui aplikasi LinkAja cakupannya saat ini begitu luas. Artinya tidak hanya digunakan untuk transaksi MyPertamina dalam pembelian BBM subsidi. Sehingga ini hanya menjadi pilihan opsi masyarakat di lapangan ketika tidak ada uang tunai.

“Tetep bisa bayar cash," kata Saleh saat dikonfirmasi terpisah.


Baca juga artikel terkait BBM SUBSIDI atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz

DarkLight