Pernah Dilecehkan, Hannah Al Rashid pun Melawan

Hannah Al Rasyid. ANTARA/Nanien Yuniar
Oleh: Nindias Nur Khalika - 5 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pemain film Aruna dan Lidahnya itu peduli dan berkampanye soal kekerasan terhadap perempuan.
tirto.id - Pada hari Minggu (25/11/2018), aktris Tatjana Saphira mengunggah video yang memperlihatkan dirinya bersama aktor Dion Wiyoko dan Ferry Salim serta penyanyi Eva Celia menyerukan pentingnya melawan kekerasan terhadap perempuan.

Mereka mengatakan kekerasan pada perempuan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang jenis pakaian yang dipakai, tingkat pendidikan, atau strata ekonomi. Makanya, kepedulian banyak orang untuk tidak diam sekaligus mendukung korban kekerasan sangat diperlukan.

Lewat tulisan caption di akun Instagram, Tatjana menjelaskan bahwa video itu diunggah dalam rangka kampanye anti-kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung selama 16 hari terhitung tanggal 25 November.

“Selama 16 hari dimulai dari 25 November sampai tanggal 10 Desember setiap tahunnya, berlangsung Kampanye Anti-Kekerasan terhadap perempuan yang merupakan salah satu pelanggaran HAM yang paling sering terjadi di dunia. Together, let’s end all acts of violence against women, once and for all,” katanya.

Ferry Salim pada Senin (26/11/2018) juga mengunggah video serupa di akun Instagram @ferrysal1m. “Don’t be araid, speak up!” tulisnya di kolom caption sembari me-mention akun @unwomen. Hingga Jumat (30/11/2018), video tersebut mendapatkan 520 likes dan ditonton sebanyak 3.822 kali.


Kampanye anti-kekerasan pada perempuan yang dilakukan selama 16 hari di atas merupakan kegiatan global tahunan yang dikenal luas dengan nama 16 Days of Activism against Gender-Based Violence. Kampanye ini dilakukan mulai dari tanggal 25 November saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga 10 Desember yang bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia .

UN Women menerangkan Center for Women’s Global Leadership merupakan grup yang pertama kali mengoordinasikan 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence tahun 1991. Kini, inisiatif organisasi tersebut didukung PBB lewat United Nation Secretary-General’s UniTE to End Violence against Women Campaign (UniTE) yang dikelola oleh UN Women.

Selama 20 tahun lebih, kampanye 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence tetap dilakukan setiap tahun hingga sekarang. Hal ini dikarenakan kekerasan gender dalam bentuk homicide, perdagangan manusia, pernikahan anak, pelecehan seksual, pemerkosaan, dan lain-lain masih terjadi di banyak negara menurut UN Women.

Di Indonesia, masalah yang sama juga jadi persoalan besar. Data Komnas Perempuan mencatat ada 348. 446 perkara kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani tahun 2017. Angka terbanyak adalah kasus di ranah privat di mana wanita mengalami kekerasan fisik, seksual, psikis, dan ekonomi. Ketika berada di ruang publik, kekerasan seksual, fisik, serta psikis pun menimpa perempuan.


Adanya problem kekerasan pada wanita seperti di atas lantas membuat individu dari kalangan artis berpartisipasi dalam kampanye 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence. Selain Tatjana Saphira, Dion Wiyoko, Ferry Salim, dan Eva Celia, Hannah Al Rashid adalah tokoh publik yang memiliki perhatian pada isu kekerasan terhadap perempuan. Tahun ini, ia ikut melakukan kampanye anti-kekerasan pada wanita yang berlangsung selama 16 hari itu.

Kepada Tirto, Hannah menjelaskan dirinya pertama kali berpartisipasi dalam 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence pada tahun 2016. Saat itu, ia bersama temannya Nadine Alexandra yang pernah menjadi Putri Indonesia 2010 membuat video yang diunggah di kanal Youtube milik Hannah. Dalam rekaman berdurasi 13 menit lebih itu, mereka membicarakan pengalaman pelecehan yang dialami masing-masing sewaktu di jalan.

Hannah lalu mengatakan bahwa video yang ia buat bersama Nadine itu mendapat banyak respons positif. “Tahun 2017 saya memutuskan untuk membuat series-nya dengan 16 video selama 16 hari activism. Jadi saya mengajak banyak sekali teman dari teman-teman artis yang peduli akan isu ini, saya juga mengajak teman-teman aktivis dari berbagai organisasi. Dan yang paling penting saat saya ajak orang adalah saya harus ajak teman-teman laki-laki juga,” terangnya.

Laki-laki, menurut Hannah, perlu dilibatkan ketika problem kekerasan terhadap perempuan dibicarakan. “Kenapa saya harus mengajak laki-laki itu karena kita semua dilahirkan dari perempuan, oke? Kedua laki-laki memang mayoritas pelaku kekerasan. Jadi supaya mereka tahu apa rasanya sih dilecehkan. Supaya mereka juga setop lakukan catcalling atau candaan seksis,” jelasnya.

Tahun ini, Hannah berencana membuat video season dua yang isinya serupa dengan tahun 2017 tapi terhalang kesibukan. Ia kemudian turut berkampanye dengan cara menyebarluaskan survei yang dilakukan antara lain oleh HollaBack! Jakarta, Lentera Sintas Indonesia, dan Change.org tentang pelecehan di ruang publik.

Selain itu, Hannah mengunggah konten yang memuat informasi soal kekerasan seksual dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di akun Instagram. Rekaman berisi cuplikan 16 video yang dibuat untuk kampanye tahun 2017 pun diunggah pemain film Aruna dan Lidahnya tersebut.




Pengalaman mengalami pelecehan seksual, menurut Hannah, menjadi alasan mengapa ia berpartisipasi dalam 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence.

“Saya pernah jalan kaki ke kos malam hari dan dada saya dipegang oleh laki-laki yang naik kendaraan bermotor. Pantat saya juga pernah dipegang sama orang di jalan tiba-tiba. Saya juga pernah pacaran dan ada kekerasan verbal tapi akhirnya jadi sempat sekali ke kekerasan fisik. Jadi saya paham berada di situasi seperti itu tidak enak,” katanya.

Pengalaman tak mengenakkan tersebut, lanjut Hanna, tak jarang diperparah dengan kenyataan bahwa kekerasan perempuan masih dianggap “aib” sehingga tabu dibicarakan. Makanya, ada korban yang enggan melapor atau mencari keadilan.

“Nah sekarang dengan adanya advokasi ini saya berharap bisa membantu untuk menunjukkan bahwa kamu tidak sendiri, saya juga pernah mengalaminya, dan ayo kita harus bergerak bersama untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Kita harus mulai bicara tentang isu,” tegasnya.

Hannah mengaku bahwa hingga kini dirinya belum punya kemampuan lebih untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah.

“Tapi setidaknya dengan platform yang saya punya sebagai public figure saya bisa menyebarluaskan informasi tentang ini. Situasi ini bisa diubah kalau lebih banyak edukasi masyarakat. Edukasi kepada masyarakat itu sebenarnya luas sekali, bisa dari gender stereotype, relationship, [atau] bagaimana mengangkat posisi perempuan dalam masyarakat kita,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight