Percakapan Irman Gusman dan Dirut Bulog Soal Distribusi Gula

Oleh: Agung DH - 15 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Jaksa penuntut umum KPK mengungkap transkrip rekaman pembicaraan antara mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dengan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti untuk membicarakan perusahaan distributor gula impor di Sumatera Barat.
tirto.id - Jaksa penuntut umum KPK mengungkap transkrip rekaman pembicaraan antara mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dengan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti untuk membicarakan perusahaan distributor gula impor di Sumatera Barat.

Percakapan antara Irman dan Djarot terjadi pada 22 Juli 2016 yang diputar dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Selasa (15/11/2016). Berikut percakapan keduanya sebagaimana dikutip dari Antara:

Irman: Nah, begini. Ada permintaan dari Sumatra Barat.

Djarot: Oh, ya.


Irman: Jadi kan Sumatera Barat tuh kan apa mengenai stabilitas gulanya kan masih belum pas sekali ya.


Djarot: Betul betul betul

Irman: selama ini dispulai dari Jakarta.


Djarot: Oh iya iya

Irman: Sehingga akibatnya eh apa mempengaruhi dalam harga.


Djarot: betul betul betul

Irman: nah jadi kalau bisa melalui apa kadivre Sumbar

Djarot: Iya betul pak. Nggih.


Irman: Kalau bisa pak Djarot bantu untuk mensuplai ke sana itu bagus sekali Pak Djarot

Djarot: Oh baik pak. Baik-baik pak

Irman: Iya tuh. Ha-ah

Djarot: Menjadi perhatian

Irman: Jadi perhatian, namanya pak Benhur ya di sana ya?

Djarot: iya betul betul betul

Irman: Ha ah. Jadi kebetulan ada orang yg sudah berpengalaman sana yang bisa saya rekomendasi

Djarot: OK OK OK

Irman: Ha ah. Bagus ok pokoknya semuanya OK. Pokoknya rapi dia.

Djarot: Iya ha ah. Nggih

Irman: ha ah. Asal pak Djarot bina saja

Djarot: Oh baik Pak

Irman: Ha ah. Jadi, saya namanya Bu Meme. Sebetulnya saya temen lama itu.

Djarot: He em. Nggih pak

Irman: saya ketemu kemarin di Padang. Dia itu betul-betul melakukan operasi pasar Pak


Djarot: Oh iya

Irman: Pak Gubernur mendukung, semua mendukung, sekjen perdagangan mendukung, kalau dia kerja tidak bagus saya kan ga enak kan sama pak Djarot. Nanti kan oh ini Pak Irman nih tapi karena saya tahu orangnya bagus dan memang dia hidupnya di sana.

Djarot: Iya Pak. Iya pak

Irman: Jadi kalau bisa pak Djarot eh bina dia tuh. Menurut saya, apa saya sangat rekomen sekali

Djarot: Baik kalo gitu saya minta

Irman: Yah

Djarot: Apa, sms nomor telepon sama nama ya pak. Nanti biar saya

Irman: Boleh jadi nanti saya minta nomornya. Saya namanya bu Meme. Nanti saya kasih nomornya Pak Djarot. Nomor Pak Djarot boleh ya saya kasih dia

Djarot: Oh siap siap pak. Siap-siap

Irman: Iya kan. Jadi Ha ah. Mohon dibantu kebetulan Pak Benhur di sana. Dia ini cuma kan namanya kadis. Sama kabulog lan jauh bener kan. Kaya lihat matahari.

Djarot: (tertawa) nggak berani dia. Haha

Irman: Dia bilang sudah lewat Pak Irman saja katanya. Ah ya sudah nanti saya bilang kerjanya yang bagus ya. Saya bilang begitu

Djarot: Hhmm. Baik baik baik

Irman: Ha ah. Karena orang ini yang sudah saya yakini anu-nya selama ini dapatnya dari Medan, dari Jakarta. Berapa ongkosnya Pak? Tapi kalau Pak Djarot bisa menjadi dia tuh kan tangan kanan dia bisa disuruh operasi. Dia bisa jadi tangan kanan kita. Kalau semuanya bisa dia ikuti secara aturannya kan

Djarot: Ya ya ya ya

Irman: Ha ah. Dan bahkan dia punya niat juga untuk bisa lebih berkembang lagi untuk gula lebih baik gitu loh

Djarot: Baik pak. Nanti jadi perhatian tuh.

Irman: Ha ah. Jadi, ha ah. Jadi perhatian. Ya bagus lah

Djarot: Nggih


"Jadi apa maksudnya bicara siap-siap?" tanya jaksa KPK Ahmad Burhanuddin.

"Ini hanya karakter saya dan menjawab siap untuk hal yang tidak prinsip," jawab Djarot berkilah.

"Maksudnya usulan Pak Irman ini bagus?" tanya jaksa.

"Ini niat baik dari Ketua DPD tentu saya liat. Ada beberapa yang juga telepon saya dan sepanjang masuk ke logika saya saya akan bantu," ungkap Djarot.

Melihat hal itu ketua majelis hakim Nawawi Pamolango pun menyela.

"Kelihatan sekali saudara berbeda intonasinya antara bicara dengan Irman dan Benhur. Kalau bicara Irman 'siap, siap, siap,' Seharusnya ngomong dengan siapapun intonasinya sama. Kalau bicara dengan Irman 'siap siap', suruh masuk neraka juga disebut 'siap, siap'," kata hakim Nawawi.

Baca juga artikel terkait KASUS SUAP KUOTA IMPOR GULA atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Hukum)

Sumber: Antara
Penulis: Agung DH
Editor: Agung DH