Peran Gubernur Suryo dalam Pertempuran Surabaya 10 November

Kontributor: Umi Zuhriyah, tirto.id - 28 Nov 2023 18:53 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Ario Soerjo atau dikenal juga dengan Gubernur Suryo merupakan salah satu sosok yang berperan besar dalam Pertempuran Surabaya. Simak penjelasannya di sini.
tirto.id - Pertempuran Surabaya yang meletus pada 10 November 1945 menjadi momen penting dalam sejarah Indonesia. Peristiwa berdarah ini merupakan pertempuran pertama Indonesia setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, juga terbesar dalam sejarah revolusi nasional.

Peristiwa bersejarah di Surabaya pun menjadi simbol perlawanan dan perjuangan keras rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.

Rakyat Surabaya, yang memiliki tekad besar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terlibat aktif dalam Perang Surabaya. Selain arek-arek Suroboyo, terhadap para tokoh penting lainnya yang punya andil dalam Perang Surabaya. Salah satunya adalah Gubernur Jawa Timur, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, yang juga tercatat berperan signifikan dalam Pertempuran Surabaya.

Gubernur Soerjo bertanggung jawab untuk menentukan sikap dan kebijakan dalam menuntun arah perjuangan rakyat, terutama saat Belanda datang ke Surabaya. Lantas, apa saja peran Gubernur Suryo dalam Pertempuran Surabaya?


Peran Gubernur Suryo dalam Pertempuran Surabaya


Setelah proklamasi kemerdekaan, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau kerap disebut Soerjo, diangkat menjadi gubernur Jawa Timur oleh pemerintah pusat. Gubernur Soerjo datang ke Surabaya pada momen yang tepat, yakni saat seluruh rakyat Surabaya telah siap melaksanakan amanat proklamasi kemerdekaan.

Dalam buku Pahlawan Nasional Gubernur Suryo oleh Sutjianingsih dijelaskan, peran Gubernur Suryo dalam Pertempuran Surabaya dimulai sejak pasukan Sekutu dan Belanda datang. Gubernur Suryo merespons kedatangan Tentara Inggris dengan sikap hati-hati tetapi tegas.

Gubernur Suryo memanggil para residen Jawa Timur untuk memecahkan masalah ekonomi dan kesejahteraan umum. Meskipun awalnya bersedia bekerja sama dengan tentara Inggris sesuai permintaan pihak Republik Indonesia, ia menolak kehadiran pasukan atau alat kekuasaan Belanda. Ia menekankan kebutuhan akan stabilitas untuk mengontrol pemerintahan.

Sikap tersebut dipandang tepat sebab kehadiran pasukan Inggris di Surabaya pada 25 Oktober 1945 memicu konflik dengan kelompok laskar rakyat Surabaya. Terlebih, pasukan Sekutu bersekongkol dengan pasukan NICA (Nederlandsch Indies Civil Administration). Tindakan tersebut mengindikasikan perlindungan dari Inggris terhadap kepentingan Belanda yang bermaksud untuk menjajah kembali Indonesia.

Secara lebih lengkap, berikut sejumlah peran Gubernur Suryo dalam Pertempuran Surabaya.

1. Peran dalam perundingan awal

Gubernur Suryo awalnya terlibat dalam perundingan dengan pihak Sekutu, yang mencoba mencapai kesepakatan damai setelah perang. Namun, perundingan ini tidak mencapai titik terang yang mengikat antara kedua belah pihak. Pihak Indonesia merasa memiliki kewenangan untuk mengetahui aktivitas pihak Sekutu, sementara pihak Sekutu merasa tidak perlu memberitahu aktivitas mereka. Ini menyebabkan ketegangan sekaligus memantik insiden, terutama di akar rumput.


2. Pemberian penjelasan setelah insiden Gedung Internatio

Gubernur Suryo terlibat dalam memberikan penjelasan tentang tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby dalam insiden yang terjadi di Gedung Internatio, dekat Jembatan Merah. Gubernur Suryo merasa perlu menjelaskan kejadian dalam insiden tersebut kepada pemimpin Indonesia di Jakarta dan negara lain.

3. Penolakan terhadap ultimatum sekutu

Gubernur Suryo memainkan peran kunci dalam menolak ultimatum yang dikeluarkan oleh Sekutu pada 31 Oktober 1945, setelah tewasnya Mallaby. Dia tidak bersedia menyerahkan senjata, dan dengan tegas menolak permintaan dari pihak Sekutu untuk menyerahkan diri. Hal ini memicu persiapan rakyat Surabaya untuk melawan pasukan Sekutu.

4. Pidato motivasi dan koordinasi

Gubernur Suryo memberikan pidato melalui radio pada 9 November 1945. Dalam pidatonya, ia memotivasi rakyat Surabaya untuk melawan pasukan Sekutu dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pidatonya memberikan semangat kepada rakyat untuk mempertahankan kota, juga kemerdekaan.

5. Pengunduran diri dan pembekuan pemerintahan

Saat terjadi pertempuran besar antara pasukan Sekutu dan rakyat Surabaya, Gubernur Suryo memimpin pengunduran diri staf pemerintahan dan membekukan pemerintahan di Surabaya. Hal ini merupakan tindakan taktis untuk mempertahankan pemerintahan Republik Indonesia di wilayah lain sambil menghindari penangkapan oleh pasukan Sekutu.

6. Pengosongan dan perlindungan persenjataan

Gubernur Suryo dan pasukan republik melakukan pengosongan fasilitas dan perlengkapan militer, yang berpotensi masih dapat dimanfaatkan oleh pasukan Sekutu, termasuk pemindahan amunisi, bahan peledak, dan persenjataan, ke tempat aman. Hal ini dilakukan saat seisi kota sudah dikuasai pihak Sekutu.


Dilansir Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 5, No. 3 (2017), pada dasarnya Gubernur Suryo menunjukkan kepemimpinan yang kuat selama Pertempuran Surabaya dan berperan dalam memotivasi rakyat Surabaya untuk melanjutkan perjuangan melawan pasukan Sekutu demi kemerdekaan Indonesia. Meskipun pertempuran berlangsung dengan sengit, Gubernur Suryo dan rakyat Surabaya bersatu untuk mempertahankan kota mereka dan hak kemerdekaan Indonesia.

Tekad pejuang Surabaya yang dipimpin oleh Gubernur Suryo tampak tak surut meski kalah dalam segi persenjataan. Selain itu, setelah pasukan dipukul mundur dan keluar dari wilayah Surabaya gerilya kota pun tetap dilakukan hingga akhirnya Sekutu yang telah kelelahan merasa kewalahan dan memutuskan mundur.

Setelah peristiwa Surabaya yang berakhir pada Desember 1945, Gubernur Suryo masih tetap memimpin Jawa Timur dan turut membantu membereskan kekacauan pasca-perang. Setelah merampungkan jabatan gubernur selama dua tahun, Presiden Soekarno menugaskan Ario Soerjo untuk menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung pada Juni 1947.

Frank Palmos dalam buku Surabaya 1945: Sakral Tanahku menuliskan bahwa perjuangan Aryo Suryo terpaksa berhenti setelah dirinya tewas dibunuh oleh para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), pimpinan Musso. Gubernur Suryo meninggal pada November 1948 di Kali Kakah, Ngawi.


Tokoh-Tokoh dalam Pertempuran Surabaya


Telah disinggung di awal bahwa Gubernur Suryo bukan satu-satunya tokoh dalam pertempuran Surabaya. Ada sejumlah tokoh lain yang berperan penting dalam perlawanan rakyat melawan Sekutu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berikut para tokoh yang terlibat dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945:

  1. Bung Tomo (Soetomo)

  2. KH Hasyim Asy'ari

  3. Sungkono

  4. Doel Arnowo

  5. K'Tut Tantri (Muriel Stuart Walker)

  6. Soemarsono

  7. Mohammad Mangoendiprodjo

  8. Abdul Wahab Saleh

  9. Soegiarto


Baca juga artikel terkait PERTEMPURAN SURABAYA atau tulisan menarik lainnya Umi Zuhriyah
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Fadli Nasrudin

DarkLight