25 Oktober 1945

Keangkuhan Mallaby dan Pembelotan Pasukan India di Surabaya

Ilustrasi Inggris mendarat di Surabaya. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Dalam pertempuran Surabaya terdapat sejumlah serdadu asal India yang beragama Islam. Mereka membelot dan membela Indonesia.
tirto.id - Ketika para residen di Jawa Timur tengah rapat di Kantor Gubernuran Kota Surabaya, kesibukan terjadi di Pelabuhan Ujung dan Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal HMS Waveney, HMS Malika, dan HMS Assidious berlabuh serta menurunkan pasukan Brigade 49 dari Divisi India ke-23. Peristiwa itu terjadi pada 25 Oktober 1945, tepat hari ini 74 tahun lalu.

Menurut Brigadir Jenderal Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit, Volume 1 (1995: 167), tiga kapal yang tiba pukul 08.00 itu membawa enam ribu pasukan.

Panglima Divisi dijabat Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn, sementara Komandan Brigade adalah Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby. Pasukan Inggris itu mayoritas terdiri dari orang-orang India, Pakistan, dan Nepal.

Sebagai bagian dari tentara Sekutu, pasukan Inggris datang ke Surabaya sebagai pemenang Perang Dunia II. Tugas mereka di Surabaya adalah melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang, dan menjaga ketertiban.

Kapten P.R.S. Mani, perwira penerangan tentara Sekutu asal India menulis dalam Jejak Revolusi 1945: Sebuah Kesaksian Sejarah (1989: 13), bahwa ketika mereka mendarat di Surabaya, sikap penduduk acuh tak acuh namun penuh kewaspadaan. Mereka juga mendapati banyak coretan berbahasa Urdu di tembok-tembok yang bernunyi: "Azadi ya Kunrezi" yang artinya "Kemerdekaan atau Pertumpahan Darah". Hal itu membuat bulu kuduk mereka bergidik.

“Bala tentara India tercengang melihat situasi ini, dan para veteran Afrika Utara dan Birma ini lalu bertanya kepada perwira mereka apakah mereka diharapkan untuk bertempur melawan kaum nasionalis Indonesia,” tulis Mani.

Menurut data intelijen dari militer Sekutu, Surabaya bisa bergolak karena dianggap pusat kaum pemberontak yang dipimpin golongan komunis. Tentara Inggris bisa dianggap sebagai satu pihak dengan Belanda oleh orang-orang Indonesia yang siap membabi buta. Tak heran jika sambutan kepada tentara Inggris di Surabaya tidak sehangat di Jakarta.

“Kami bertemu dengan beberapa penduduk India setempat dan mereka memperingatkan kami [agar] berhati-hati,” tulisnya.


Mallaby dan Kegelisan Serdadu Muslim

Salah satu orang India yang tinggal Surabaya adalah TD Kundan. Ia jadi penerjemah bagi pihak Indonesia dan tentara Sekutu. Menurut Mani, Kundan yang terpelajar itu dekat dengan golongan nasionalis Indonesia. Sebagai Presiden Asosiasi India Surabaya dan bagian dari masyarakat pedagang India di kota tersebut, Kundan tak mengharapkan terjadi bentrokan.

“Kundan berhasil mencegah terjadinya bentrokan pada hari pertama kedatangan kami, pada tanggal 25 Oktober,” tulis Mani.

Hari berikutnya, Kundan terus berjuang mencegah bentrokan. Namun, sehari setelah pendaratan itu, Kapten Mani melihat sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia melihat Brigadir Jenderal Mallaby memberikan keterangan pers bahwa dia memindahkan markasnya ke daerah kota.

Mallaby yang dikenal sebagai perwira berbakat itu bahkan berkata: “Saya telah memberi tahu Gubernur Indonesia untuk Surabaya bahwa sayalah penguasa kota ini.”

Brigadir Jenderal itu begitu percaya diri dengan pasukannya yang tidak hanya terlatih, tapi pernah ikut melawan tentara Jepang yang dikenal gigih dan nekad. Dalam perhitungan Mallaby, pasukannya tidak akan sulit mengalahkan orang-orang Surabaya jika terjadi pertempuran.

Ia juga tampak tak acuh atas kondisi pasukannya yang tidak punya keinginan untuk berperang dengan orang-orang Indonesia. Lama tinggal di India ternyata tak membuatnya selalu bisa menyelami apa yang dipikirkan pasukannya. Mallaby tak mengindahkan potensi solidaritas yang akan muncul dari pasukannya yang beragama Islam terhadap rakyat Surabaya yang mayoritas Muslim. Ia melakukan kesalahan fatal.





“Saya menilai pendekatan Mallaby sebagai keangkuhan belaka,” tulis Mani yang meninggalkan tempat konferensi pers dengan perasaan kecewa melihat ketidakbecusan pimpinan tentara Inggris dalam menghindari insiden. Sikap Mallaby yang pamer kuasa itu akhirnya berujung pada kematiannya.

Tanggal 30 Oktober 1945, Mallaby terbunuh dalam sebuah kerusuhan di sekitar Jembatan Merah, Surabaya. Kematian Mallaby menjadi alasan bagi Inggris untuk menunjukkan kekuatan militernya dengan menggempur Surabaya habis-nabisan dalam pertempuran yang sangat dahsyat.

Mani tidak diterjunkan dalam pertempuran itu, tak seperti seorang perwira muda asal Pakistan yang beragama Islam bernama Muhammad Zia Ul Haq. Menurut catatan Nigel Barley dalam Snow Over Surabaya (2017), Zia Ul Haq adalah komandan kavaleri lapis baja pasukan Inggris di Surabaya. Bertahun-tahun kemudian, perwira kavaleri itu pernah menjadi Presiden Pakistan.

Dalam pertempuran itu, orang-orang Islam dalam barisan tentara India-Inggris merasa gelisah karena memerangi saudaranya sesama Muslim. Mereka pun akhirnya membelot dan mendukung pasukan Republik.

“Sekitar 600 tentara Muslim India membelot karena dibujuk, kata pihak Inggris yang mengakui bahwa beberapa di antaranya karena tidak suka memerangi bangsa Indonesia,” tulis Mani.

Orang-orang India ini dengan senang hati membantu kemerdekaan Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight