18 September 1948

Musso Gagal Menciptakan Ketertiban, Akibatnya: Madiun Affair 1948

Oleh: Petrik Matanasi - 18 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Belasut sengit.
Madiun dalam derit
palu dan arit.
tirto.id - Pada awal Agustus 1948, Musso kembali ke Indonesia. Dia tak sendiri. Dia bersama Suripno, Duta Besar RI di Praha, Cekoslowakia. Musso menyamar sebagai sekretarisnya. Mereka terbang dari Praha melewati Kairo, Rangoon, dan Bukittinggi.

“Ia tiba dari Bukittinggi dengan menggu­nakan pesawat terbang amfibi Catalina. Pendaratannya tidak menarik perhatian penduduk setempat,” tulis Soerjono dalam buku Surat Untuk Ben Anderson (2016: 55). Mereka mendarat di sekitar Campur Darat, selatan Tulungagung.

“Dari Campur Darat, Musso menuju Yogyakarta, berhenti sejenak di Solo, tapi bukan di Madiun,” lanjut Soerjono.

Waktu Musso datang, Madiun belum jadi kota kiri. Meski saat itu sudah ada markas besar Badan Pekerja Kongres Pemuda pimpinan Sumarsono. Soal pertikaian antar-unit tentara dengan laskar atau antara laskar dengan laskar tidak separah di Solo.

Pada 2 Juli 1948, menurut catatan buku Siliwangi Dari Masa Ke Masa (1968: 234), Kolonel Soetarto, Panglima Divisi Penembahan Senopati, terbunuh di depan rumahnya di Solo. Ia dihabisi oleh orang-orang tak dikenal.

Menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 102), pada 2 Juli 1948 itu, Komandan Militer Kota Solo mendatangi Omon Abdurachman di Markas Besar Siliwangi di Solo. Dia memperlihatkan peci dan lencana Siliwangi di lokasi terbunuhnya Kolonel Soetarto. Omon bilang ke Achmadi, seorang pembunuh tak mungkin tinggalkan jejaknya seperti itu. Setelahnya, tak pernah jelas siapa pembunuh Soetarto.

Ketegangan lain adalah bentrok antar-laskar. Bentrokan antara Sarbupri-Pesindo versus SBII-Hizbullah meletus pada 10 Juli 1948. Pasukan Batalyon Mayor Rukman dari Siliwangi juga bentrok dengan satuan dari Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI).

Musso tak hanya menghimpun kekuatan, tapi juga organisasi. Salah satunya adalah Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dibentuk mantan perdana menteri yang dijatuhkan, Amir Sjarifoeddin.

Musso juga berhasil bertemu kawan lamanya waktu indekos di Surabaya. Si kawan lama bukan main posisinya setelah 1945. Siapa lagi kalau bukan Sukarno. Musso dan Sukarno adalah kawan satu kos di Gang Paneleh Surabaya, di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto.


Musso dan Sukarno bertemu di Istana Gedung Agung Yogyakarta. Harian Revolusioner (19/8/1948) yang dikutip Harry Poeze (2011) memberitakan: “Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Bung Karno.” Mereka bertemu pada 13 Agustus 1948. Mereka ngobrol soal gerakan kiri dunia masa itu. Kemudian Musso dihadiahi sebuah buku berjudul Sarinah (hlm. 28).

“Buat Bung Musso dari Penulis, Djokjakarta, 13-08-1948,” tulis Sukarno pada lembaran awal buku itu.

Tak hanya Sukarno yang bertemu Musso. Fatmawati juga bertatap muka dengannya. Pertanyaan ibu negara itu adalah: "Apa Pak Musso sudah beristri? Kalau sudah di manakah istrinya?"

Ketika Musso dan Suripno hendak undur diri, Sukarno meminta sesuatu kepada mereka agar “suka membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi.” Musso pun menjawab: “Itu memang kewajiban saya. Saya datang ke sini untuk menciptakan ketertiban.”

Terkait dengan Solo

Menurut D.N. Aidit dalam Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948 - Peristiwa Sumatera 1956 (1964: 9-10), pada awal September 1948, lima orang perwira TNI terbunuh. Mereka adalah Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Kapten Supardi, Kapten Suradi, dan Letnan Muljono. Kemudian terjadi penculikan atas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), Slamet Widjaja dan Pardijo. Aidit menuduh Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri Mohammad Hatta ada di belakang semua itu.

Ketegangan di Madiun pun dimulai pada 18 September 1948, tepat hari ini 70 tahun lalu.

“Sesudah penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di Solo yang diatur dari Yogyakarta, keadaan di Madiun menjadi sangat tegang sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan-pasukan dalam Angkatan Darat yang pro- dan yang anti-penculikan-penculikan serta pembunuhan-pembunuhan di Solo, yaitu pertempuran pada tanggal 18 September 1948 malam,” tulis Aidit.

Soemarsono dalam Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah (2008: 128) menyebut bahwa pada “18 September 1948, kira-kira jam dua malam, anak-anak Brigade 29 itu bertindak melucuti pasukan-pasukan yang dianggapnya gelap.” Komandan pasukan Brigade 29 adalah Letnan Kolonel Dahlan.

Sementara itu, Frances Gouda dalam Indonesia Merdeka karena Amerika? (2008: 355) menulis bahwa “dini hari 18 September 1948, para simpatisan lokal PKI dan kader komunis bersama-sama kelompok-kelompok warok (jawara sakti ponorogo) oportunis tapi tidak politis, bangkit memberontak melawan pemerintahan Yogyakarta di Jawa Timur.”

Menurut Aidit, Peristiwa Madiun itu terkait dengan Peristiwa di Solo. Dalam banyak narasi sejarah soal Peristiwa Madiun 1948, kerap hanya bicara soal peristiwa di Madiun, kurang dibahas soal peristiwa di Solo. Saat itu, orang-orang dari Divisi di Jawa Tengah jadi korban pembunuhan dan penculikan.

“Dalam pidatonya tanggal 19 September 1948, Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa Solo dan Peristiwa Madiun tidak berdiri sendiri,” tulis Aidit.

Peristiwa Solo, yang kata Aidit adalah settingan dari Hatta, lalu berbuntut pada ketegangan di Madiun. Para pelaku dalam peristiwa itu tentu dapat konsekuensi. Letnan Kolonel Dahlan dipecat. Musso sendiri dari awal sudah dianggap otak dari pemberontakan yang dikenal dengan nama "Peristiwa Madiun" itu.

“Negara Republik Indonesia yang kita cintai, hendak direbut PKI Musso [...] bantulah pemerintah, bantulah alat pemerintah dengan sepenuh tenaga, untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah yang bersangkutan, kata Sukarno seperti dikutip Harry Poeze (hlm. 181).

Musso pun membalas Sukarno dengan pidato. “Tanggal 18 Agustus 1948, rakyat daerah Madiun telah memegang kekuasaan Negara dalam tangannya sendiri.” Musso menjelaskan betapa lamban Revolusi Indonesia yang menurutnya dipimpin kaum borjuis.

Infografik Mozaik Munawar Musso 1897-1948


Ikut Sukarno atau Musso

Dalam narasi sejarah Orde Baru, Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Front Demokrasi Rakyat (FDR) tentu saja jadi penjahatnya.

“Keesokan harinya, pada tanggal 19 September 1948 diumumkan pembentukan pemerintahan baru. Selain di Madiun, PKI juga membentuk pemerintahan di Pati,” tulis buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945 - 1949 Jilid 1 (1980: 148) yang dirilis pada masa Orde Baru.


Masyarakat zaman itu pun diberi dua pilihan: ikut Bung Karno atau Bung Musso. Sejarah akhirnya mencatat Musso sebagai orang kalah. Tentu saja Madiun jadi cerita mahapenting dalam sejarah Indonesia.

“Akhirnya dosa Musso tersebut harus ditebus dengan jiwanya sendiri. Dalam sebuah pengejaran yang dilakukan oleh anggota-anggota tentara kita di luar kota Ponorogo, Musso berhasil ditembak mati,” tulis Pinardi dalam Peristiwa coup berdarah P.K.I., September 1948 di Madiun (1967:149).

Musso terbunuh pada 31 Oktober 1948. Ia tampaknya pulang ke Jawa hanya untuk mengantar nyawa.

Hingga akhir hayat, Musso gagal “menciptakan ketertiban” seperti yang pernah dikatakannya kepada Sukarno. Banyak orang lebih percaya, ketertiban gagal diciptakan Musso karena ulah dia sendiri.

Baca juga artikel terkait PEMBERONTAKAN PKI MADIUN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan