Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Menurut Darmin Nasution

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 21 Juni 2018
Dibaca Normal 1 menit
"Kedua yang perlu diperhatikan adalah kecendurungan kenaikan FFR. Itu sesuatu kemungkinan akan berjalan beberapa kali," ucap Darmin.
tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan bahwa lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dipengaruhi neraca perdagangan yang membuat defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) neraca perdagangan. Hal itu menjadi faktor internal dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia (BI) mencatat CAD pada kuartal I/2018 sebesar 5,5 miliar dolar AS (2,1 persen dari Produk Domestik Bruto/PDB).

"Bukan cuma current account deficit-nya, tapi neraca pedagangannya juga. Artinya ekspor barang dan impor barang defisit. Itu yang harus diatasi dulu. Sebenarnya current account deficit banyak negara (yang mengalami). Kita dua tiga bulan yang lalu," ujar Darmin di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta pada Kamis (21/6/2018).

Sehingga, pemerintah pun fokus dalam menguatkan neraca perdagangan agar tidak defisit tinggi di tengah perang dagang AS-Cina. Pada April 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 1,63 miliar dolar AS, dipicu oleh defisit sektor migas 1,13 miliar dolar AS dan nonmigas 0,50 miliar dolar AS.

Dibandingkan Maret 2018, neraca perdagangan mengalami surplus sebesar 1,12 miliar dolar AS dan dibandingkan April 2017 (year on year/yoy) neraca perdagangan juga menunjukkan surplus sebesar 1,32 miliar dolar AS.

Sedangkan faktor eksternal yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah adalah suku bunga acuan bank Sentral AS/The Fed (Fed Fund Rate/FFR) yang meningkat secara agresif.

"Kedua yang perlu diperhatikan adalah kecendurungan kenaikan FFR. Itu sesuatu kemungkinan akan berjalan beberapa kali," ucapnya.

FFR tentu akan mempengaruhi suku bunga acuan bank sentral Indonesia (BI 7 Days Repo Reverse Rate/BI-7DRRR) ikut naik agar tidak kalah saing dan bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

"Itu berarti tingkat bunga kita juga akan berpengaruh naik, karena kalau tidak kursnya (nilai tukar rupiah) akan terganggu lagi," kata dia.

Namun, kenaikan BI-7DRRR harus ditetapkan BI dengan bijak karena menjadi acuan bank lain dalam menaikkan bunga deposito dan kredit. Sehingga, perlu adanya kerja sama antara pemerintah, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia mengimbau untuk seluruh perbankan melakukan efisiensi suku bunga.

"Boleh saja tingkat bunga dari kebijakan moneter, suku bunga BI itu naik. Tetapi, bisa juga mendorong efisiensi diperbankan. Artinya tentu saja mendorong supaya biaya-biaya yang tidak efisien, untuk diefisienkan oleh perbankan, yang bisa melakukan (pengawasan) itu OJK," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan saat masih menjabat di BI, ada langkah menjaga efisiensi suku bunga yang dilakukan perbankan, yaitu dengan cara mengumumkan Suku Dasar Bunga Kredit (SDBK) setiap bulannya.

"Diumumkan oleh bank wajib. Sehingga kita tahu SDBK dia berapa, bunga kredit bank itu berapa, yang tidak efisien di bank itu apa. Jadi, ada hal-hal yang bisa dilakukan. Sehingga peningkatan suku bunga acuan, tidak perlu otomatis mendorong naiknya tingkat bunga kredit," ungkapnya.

Kurs rupiah terhadap dolar AS, saat ini berada di level Rp14.093. Kemarin, kurs rupiah berada pada posisi Rp13.932. Kurs rupiah terdepresi di kisaran level Rp14.000 telah terjadi sejak Mei. Sementara itu, Darmin menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kurs rupiah karena penguatan dapat terjadi.

"Karena kan bunga di sananya (FFR) bergerak. Jangan terlalu dirisaukan, nanti juga tenang lagi," kata dia.


Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Yantina Debora