Menuju konten utama

Pendaki di Semeru Terperosok ke Jurang 375 Meter Sejak Senin

SAR gabungan menerapkan metode slope rescue untuk melanjutkan proses evakuasi pendaki terperosok ke dalam jurang yang minim pijakan aman bagi petugas.

Pendaki di Semeru Terperosok ke Jurang 375 Meter Sejak Senin
Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (25/2/2026). Berdasarkan data Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada periode pengamatan Rabu (25/2), Gunung Semeru mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati 400-600 meter di atas puncak dan masyarakat diminta untuk mewaspadai potensi banjir lahar akibat curah hujan yang masih tinggi. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom.

tirto.id - Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan menerapkan metode slope rescue untuk melanjutkan proses evakuasi seorang pendaki bernama Cakra yang terperosok ke jurang Gunung Semeru di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan metode ini digunakan karena korban terperosok ke jurang sedalam kurang lebih 375 meter, yang kondisinya minim pijakan aman bagi petugas.

"Kemiringan medan juga dirasa lebih cocok untuk evakuasi dengan metode slope rescue dan dengan metode ini evakuasi bisa dilakukan secara bertahap," kata Nanang di Malang, Jumat (5/6/2026) dilansir dari Antara.

Dia menambahkan evakuasi dengan metode penyelamatan itu dirasa lebih efisien karena mempertimbangkan aspek keselamatan korban maupun tim SAR gabungan yang bertugas dalam misi tersebut.

Secara teknis, metode itu memang kerap digunakan pada proses kegiatan evakuasi di medan miring dan curam, seperti di area gunung.

Ia menjelaskan korban diposisikan dengan keadaan terlentang di atas rolling strercher atau tandu gulung dan diikat menggunakan tali yang dikontrol oleh tim SAR.

Nanang menyampaikan, karena korban diduga mengalami dislokasi pada pergelangan kaki kanan akibat terperosok, petugas terlebih dahulu memberikan pertolongan pertama sebelum melakukan evakuasi.

"Supaya meminimalkan pergerakan dan agar tidak semakin bengkak, kaki survivor memang harus dibidai," ujar Nanang.

Informasi soal kecelakaan pendakian itu muncul pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Korban berhasil ditemukan pada Selasa (2/6/2026) setelah sebelumnya mengirimkan titik koordinat lokasi keberadaannya kepada keluarga sebelum saluran komunikasi terputus.

Ayah korban bersama beberapa orang warga setempat langsung menuju lokasi sesuai titik koordinat yang dikirimkan oleh korban, setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading.

Meski demikian, proses evakuasi terkendala medan yang memiliki kontur terjal, curam, dan minim akses.

Baca juga artikel terkait GUNUNG SEMERU

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto