Penangkapan 13 Teroris di Makassar, NTB & Jakarta: Ada Atribut FPI

Oleh: Zakki Amali - 30 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sebagian besar dari 13 terduga teroris adalah jaringan Jamaah Ansharut Daulah yang menarget gereja.
tirto.id - Dalam 1x24 jam polisi menangkap 13 orang diduga berkaitan erat dengan jaringan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) lalu. Ke-13 orang ditangkap di Jakarta Timur, Bekasi, Bima, dan Makassar.

Polisi menangkap empat terduga teroris di Jakarta Timur dan Bekasi, termasuk menyita barang bukti lima bom aktif jenis sumbu dan bahan peledak yang sudah jadi jenis TATP. Lima bom itu beratnya 3,5 kilogram dan bisa dipecah untuk bahan baku 70 bom pipa. Kemudian polisi juga menyita bahan kimia untuk membuat bom antara lain aseton cair, hidrogen peroksida (H2O2), asam klorida (HCL) dan sulfur. Barang bukti lain termometer, serbuk aluminium dan gotri.

Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Muhammad Fadil Imran bahan peledak TATP (triacetone triperoxide) punya karakter mudah terbakar dan berdaya ledak tinggi.

Bahan baku dan bom aktif dari pelaku di Jakarta dan Bekasi diledakkan oleh tim gegana dari Polri di lokasi penangkapan dan sebuah lapangan. Bom itu diledakkan karena komposisinya mudah meledak dan terbakar.

Keempat pelaku itu berperan masing-masing ZA (37) di Bekasi membeli bahan baku bom dan mengajarkan cara membuat bahan peledak; BS (43) membuat bahan peledak; AJ (46) membantu ZA bikin bom dan bersama BS menyusun persiapan teror dengan bom; dan HH (56) ditangkap di Condet berperan mengatur taktik dan teknik pelaksanaan teror bersama ZA. HH diduga juga membiayai dan mengirimkan video teknis pembuatan bom kepada tiga tersangka lain.

Dari keterangan Irjen Fadil ada penyitaan atribun Front Pembela Islam (FPI) dari rumah HH di Jalan Raya Condet Nomor 1, Jakarta Timur.


Antara lain ada baju motif hijau dan putih, buku berjudul "FPI Amar Ma’ruf Nahi Munkar", "Spirit 212 Tabligh Akbar Aksi Bela Islam" dan buku "Fisika Modern" serta kartu beratribut FPI. Fadil mengatakan keterkaitan terduga HH dengan FPI belum diperoleh.

"Semua barang bukti di tempat kejadian perkara menjadi temuan awal yang akan didalami tim Detasemen Khusus 88 Polri," kata Fadil, melansir Antara.

Polisi menjerat keempat pelaku dengan Pasal 15 juncto Pasal 7 dan/atau Pasal 9 UU 5/2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Hukumannya minimal 15 tahun penjara.

Jaringan Jamaah Ansharut Daulah

Dalam dua lokasi penangkapan yakni di Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Makassar berkaitan dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD adalah kelompok teroris di Indonesia berafiliasi dengan ISIS. Jaringan JAD pernah melakukan pengeboman gereja di Surabaya pada 2018 lalu.

Lima terduga teroris di Bima adalah anggota JAD yakni Berinisial BU alias Gozi eks narapidana terorisme, LA alias Guru Mudi dan MU alias Abu Zahiroh, RAP alias Abu Ridho dan Y. Polisi masih mengincar pelaku jaringan JAD lainnya.

Sedangkan empat pelaku dari Makassar berinisial AS, SAS, MR dan AA. Keempatnya diduga berperan dalam bom bunuh diri L dan YSM di Gereja Katedral Makassar. L dan YSM merupakan pengantin baru 6 bulan dinikahkan oleh Rizaldi yang diduga terkait dengan jaringan teroris yang meledakkan sebuah gereja di Jolo Filipina pada 2019 lalu.


Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengkonfirmasi pelaku dari Makassar dari jaringan JAD yang terlibat pengeboman gereja di Filipina. Hubungan mereka terjalin lewat kajian di Vila Makassar. Dari hasil penyelidikan polisi, pelaku bom bunuh diri meninggalkan surat wasiat kepada orangtua mereka. Isinya mereka siap untuk mati syahid dengan pengeboman.

“Masing-masing pelaku berperan untuk mendoktrin dan mempersiapkan rencana untuk jihad, juga membeli bahan untuk melakukan bom bunuh diri,” ujar Sigit.

Dampak ledakan bom di Gereja Katedral Makassar terdapat belasan korban. Menurut Sigit empat korban sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan. Sedangkan 13 korban masih dirawat di RS Bhayangkara dan dua korban dirawat di RS Siloam Makassar. Sigit mengatakan kondisi semua korban yang masih dirawat berangsur pulih.

Baca juga artikel terkait PENANGKAPAN TERORIS atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight