"Pasien yang Berniat Operasi Plastik Harus Tahu Risikonya"

Oleh: Aditya Widya Putri - 18 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Memiliki kulit yang putih, mulus dan cantik menjadi dambaan banyak kaum Hawa. Berbagai kosmetika yang menawarkan kulit menjadi lebih putih dan mulus laris manis. Masyarakat masih menyukai segala sesuatu yang instan dan memberikan hasil cepat.
tirto.id - Padahal sebenarnya, cantik secara instan justru ada risiko wajah menjadi merah, alergi, atau sensitivitas kulit meningkat. Gara-gara sembarangan memakai kosmetika, kulit justru menjadi belang-belang dan rusak.

“Saya edukasi bahwa menjadi putih hanya bonus. Kalau kita dilahirkan bukan putih, ya tidak bisa putih,” kata dr. Wiwiet Andhika, pemilik Angel Clinic yang memberikan berbagai layanan perawatan kulit dan kecantikan, saat diwawancari Aditya Widya Putri dari tirto.id, Senin (24/10/2016).

Angel Clinic juga melayani layanan yang bersifat invasif seperti operasi. “Saya menyediakan layanan itu, namun tidak melayani sembarangan,” kata Wiwiet.

Mengapa seseorang yang hendak melakukan operasi plastik harus tahu risikonya? Mengapa sedot lemak juga memiliki risiko fatal hingga kematian? Berikut wawancaranya;

Bagaimana awalnya Anda memilih bidang estetika dan kecantikan?

Pada awalnya saya dokter umum dan praktek di Bintaro sejak 13 tahun lalu. Estetika belum marak dan booming seperti sekarang. Sekitar 2005-2006, banyak kasus estetik karena penggunaan kosmetika yang tidak betul. Banyak di luar sana jenis kosmetika yang hasilnya cepat. Masyarakat kita senang yang cepet, instan, seperti pakai whitening biar jadi putih. Mereka tutup mata. Apapun dipakai yang penting putih dan cantik.

Padahal efeknya wajah jadi bengkak, merah, alergi, atau munculnya sensitivitas sampai leher. Mereka kaget dan panik. Mereka gedor-gedor ke saya. Sejak saat itu saya terjun ke estetika. Jadi sebenarnya terpaksa. Akhirnya buka pelayanan estetika sejak 3-4 tahun lalu di sini (Ciputat). Saya pelan-pelan dan bertahap karena 10 tahunan mendalami estetika.

Apa permintaan terbesar pasien saat ini?

Mindset basic maunya putih. Apapun krimnya, pokoknya mau putih. Saya edukasi bahwa menjadi putih hanya bonus. Kalau kita dilahirkan bukan putih, ya tidak bisa putih. Saya lebih banyak edukasi bahwa sehat itu bukan putih. Masing-masing kita diciptakan dengan pigmentasi berbeda.

Kita hanya menjaga agar sehat sampai umur berapapun. Apalagi sekarang banyak sinar ultra violet (UV), polusi, flek-flek, jerawat tidak karuan, kerut sebelum waktunya, spot-spot daging tumbuh, atau keratosin. Pigmentasi berlebihan sudah bergeser ke umur 20-an, karena pemakaian kosmetika yang salah. Maklum, banyak iklan dan banyak yang jualan tanpa memberikan edukasi.

Kulit sehat yang kita inginkan itu kelembabannya terjaga. Tidak ada spot, hyperpigmentasi di satu tempat dan kerutnya tidak ada. Gara-gara sembarangan pakai kosmetika, malah jadi belang-belang dan rusak. Sebenarnya pigmen yang alami justru membuat kanker kulit lebih rendah karena melindungi dari sinar matahari. Kita malah salah kaprah, menghilangkan pigmen itu.

Bagaimana sebenarnya penjelasan tentang pemutih?

Penanganan merkuri yang belum maksimal karena booming permintaan menjadi putih. Merkuri itu celakanya memang paling bagus untuk kulit. Segala macam masalah kulit bisa diatasi. Tapi kenapa kita tidak boleh sembarangan? Sebab efk sampingnya pun paling jahat. Dia diserap dan diakumulasi paling jahat di tubuh, akhirnya terakumulasi di tubuh. Beberapa tahun kemudian baru memberikan efek samping.

Saya mendapat kasus akibat merkuri dari anak SMP sampai lansia. Mereka senang belanja krim online dengan hasil yang cepat. Lima tahun kemudian balik dengan hasil flek permanen. Sayangnya kita sudah tak bisa perbaiki. Paling beratnya bahkan muncul kanker.

Kalau untuk treatment apa saja yang diminati?

Sejauh ini kita hanya melaksanakan perawatan seperti yang diminta. Kalau suntik hanya yang perlu saja. Kalau penirusan ya kita treatment. Kalau yang lebih dalam seperti invasif jarang. Saya menyediakan layanan itu, namun tidak melayani sembarangan. Misal ada orang yang kulitnya sangat jatuh, sementara dia butuh untuk profesinya. Itu baru kita program. Tapi kalau tidak perlu, saya edukasi lagi. Lebih baik penanganan dari dalam. Lebih ke pola makan dan pola hidup. Tapi kalau treatment dari luar, kita memang siapkan tapi bertahap.

Setiap tindakan invasi ada kemungkinan infeksi. Luka saja bisa infeksi. Kan ada luka terbuka karena kita menusukkan jarum dan membuka kulit. Pasti ada kemungkinan infeksi. Semakin invasif sebuah tindakan, semakin tinggi infeksinya. Kita sebisa mungkin mengurangi. Kita masukkan benang dalam artian dia akan menarik tanpa ada jahitan. Tapi tetap ada luka. Asumsinya, benang ditarik sehingga menarik kulit. Tapi itu harus diulang treatment-nya beberapa bulan. Jadi harus kontinu.

Jadi pasti ada risiko?

Setiap tindakan invasif ada risikonya. Jika posisi tidak tepat, bengkak biru pasti ada karena pecah pembuluh darah. Kan kita memasukkan benang dan jarum yang agak besar. Jadi itu termasuk risikonya. Pasien yang berniat operasi plastik harus tahu risikonya. Bengkak atau infeksi ya harus diterima karena satu paket dengan tindakan itu.

Tapi kita usahakan seminimal mungkin risikonya. Andaikan terjadi, ya itu satu paket dari tindakan. Seperti kita main air, ya risikonya basah. Itu yang kita jelaskan dan tanamkan ke pasien, sebelum treatment agar dia tidak kaget dan panik. Termasuk agar bisa mengatasi bagaimana kalau bengkak atau biru.

Kalau treatment mengubah bentuk apa permintaannya tinggi?

Kalau di saya kurang karena saya edukasi, untuk apa mengubah bentuk karena risikonya berbanding lurus dan tinggi. Jadi kalau tidak terlalu penting, ya tidak usah. Kalau di masyarakat ada layanan seperti itu, pasti untuk level tertentu. Kalau dilihat di daerah Bintaro atau level-level lainnya yang menengah ke atas, ya ada karena paling nyaman dan instan. Tapi daerah pinggiran belum.

Kalau kita untuk teknik invasif yang melukai, ada dermaroller untuk menghilangkan bopeng. Kita melukai permukaan kulit atau bekas jerawat dengan gilingan jarum. Tujuannya melukai kulit agar bopeng tertutup karena kulitnya memperbaiki diri dan naik. Memang hasilnya tidak 100 persen, tapi cukup bagus.

Lalu ada chemical peeling yang risikonya juga tinggi karena menggunakan cairan yang cukup keras dan dioles. Kalau salah dan tidak betul, bisa seperti luka bakar. Mengelupas dan agak gosong karena tujuannya membuang kulit mati. Hasilnya bagus sekali dan paling diminati. Tekniknya sakit dan pedih saat treatment. Dermaroller baiayanya Rp450 ribu sekali treatment plus obatnya. Jangka waktunya 2-3 minggu sekali dan selesai 3 bulan. Yang mahal serum untuk regenerasi jaringan kulit.

Tanam benang Rp1 juta - Rp2,5 juta juga bagus. Daya tariknya besar. Jika umur di atas 50 tahun biasanya tiga tempat. Kalau umur 30 tahun-40 tahun hanya satu benang dengan pengulangan satu tahun.

Sebenarnya apa dampak dari operasi plastik?

Itu tadi, setiap tindakan invasif pasti ada efek sampingnya, mulai dari paling ringan seperti infeksi. Sekecil apapun, hal pertama yang harus kita pikirkan adalah adanya kemungkinan infeksi, walaupun kita antisipasi dengan berbagai macam obat. Apalagi operasi yang tidak urgent, seperti mengubah bentuk untuk kecantikan. Hal itu tidak penting. Bisa jadi nanti bentuknya tidak sesuai. Terlihat aneh. Silikon kalau tidak cocok di tubuh akan bereaksi. Bahaya juga. Tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Ada efek lain?

Pembengkakan termasuk infeksi yang disebabkan kuman. Kalau reaksi sensivitas alergi ya bengkak. Mungkin ada juga penolakan terhadap benang meski jarang terjadi. Jika terjadi, dalam beberapa bulan harus diulang.

Pada pembesaran payudara misalnya, akan ada pemotongan jaringan di dalam payudara untuk memasukkan bahan pembesar. Payudara akan lebih dulu membengkak. Pasti ada bekas luka karena semua jenis operasi termasuk juga operasi plastik, menggunakan teknik pembedahan. Sehingga pasti akan dijahit kembali dan meninggalkan bekas luka.

Bagaimana dengan menghilangkan lemak?

Operasi sedot lemak atau yang lebih dikenal dengan liposuction memang membuat tubuh menjadi lebih ramping. Tapi sebenarnya, operasi plastik tidak menghilangkan selulit, tapi justru memperburuk selulit. Jika jumlah yang diambil terlalu banyak, bakal membuat kulit menjadi semakin berkerut.

Apa pesan Anda kepada mereka yang ingin melakukan operasi plastik atau sedot lemak?

Operasi yang melebihi batas maksimal bisa menimbulkan akibat yang fatal. Bahkan bahaya operasi plastik yang ditimbulkan bisa menyebabkan kematian. Untuk sedot lemak ada standar menurut Asosiasi Dokter Bedah Plastik Amerika Serikat (American Society of Plastic Surgeons). Maksimal jumlah lemak yang diperbolehkan untuk dikeluarkan yaitu 6 pon tiap kali operasi.

Sebab penyedotan lemak juga sekaligus menyedot darah. Terlalu banyak mengeluarkan lemak, otomatis darah yang keluar juga banyak. Hal itu menyebabkan cairan dalam tubuh banyak yang hilang. Bisa menyebabkan pasien dehidrasi, bahkan shock atau membuat gagal jantung sehingga bisa timbul kematian.

Baca juga artikel terkait OPERASI PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Kukuh Bhimo Nugroho
Artikel Lanjutan