Pasang Surut Karier Soeharto dan Kelahiran Anak-Anaknya

Oleh: Petrik Matanasi - 19 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kelahiran anak-anak Soeharto berbarengan dengan pasang-surut kariernya. Salah satu anak yang lahir di masa jaya konon menjadi anak kesayangan.
tirto.id - Setelah ibu kota Yogyakarta diserang Belanda, Tentara Nasional Indonesia (TNI) tetap setia kepada Republik Indonesia. Meski tanpa gaji atau tunjangan, mereka terus bergerilya. Overste Soeharto adalah salah satunya. Ia bahkan harus meninggalkan istrinya, Siti Hartinah, dalam keadaan hamil tua. Bergerilya demi negara di luar kota Yogyakarta membuat Soeharto tak bisa melihat bagaimana anak pertamanya lahir.

Di tengah gerilya itu, Soeharto dapat kabar gembira. “Istri saya yang saya tinggalkan di kota [Yogyakarta], dikabarkan telah melahirkan pada tanggal 23 Januari 1949,” aku Soeharto dalam autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 61).

Menurut O.G. Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1984: 196), "[Soeharto] tak melihat anaknya selama tiga bulan pertama setelah ia dilahirkan."

Rupanya, Soeharto masih termakan pemikirannya yang cukup kolot. Kata Roeder, dia begitu menginginkan anak laki-laki. Rupanya yang lahir adalah anak perempuan. Meski begitu, Soeharto tetap bersyukur atas kehendak Tuhan itu.

Tutut, Sigit, Bambang

Ada nama Siti di depan nama anak perempuannya, seperti nama depan istri Soeharto. Anak pertamanya itu diberi nama Siti Hardijanti Hastuti—yang dipanggil Tutut. Soeharto mengaku, kelahiran anak pertamanya ini ternyata memberi semangat berjuang. Waktu Tutut lahir, pangkat Soeharto masih letnan kolonel. Jabatannya komandan brigade. Tutut sempat ditinggal Soeharto bertugas di Makassar pada 1950, waktu meletus Peristiwa Andi Azis.

Anak perempuan sekaligus satu-satunya anak Soeharto yang lahir di zaman perang ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang harus dewasa, karena belakangan dia punya banyak adik. Ketika baru berumur dua tahun, Tutut dapat adik pertamanya pada 1 Mei 1951, tepat pada peringatan Hari Buruh Internasional yang tentu saja tidak dirayakan Soeharto.

Waktu itu, sepengakuan Soeharto dalam autobiografinya (hlm. 83), ia sudah menjadi Komandan Brigade O, yang belakangan menjadi Brigade Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta. Tapi, menurut keterangan Roeder (hlm. 196), Soeharto sedang berada di Makassar.

Di mana pun Soeharto berada ketika anak keduanya lahir, anak ini seperti yang diinginkan Soeharto: seorang laki-laki. Namanya Sigit Harjojudanto dan biasa dipanggil Sigit.

Pada 1953, waktu Tutut sudah 4 tahun dan Sigit sudah 2 tahun dan Soeharto jadi Komandan Resimen Infanteri 15 di Solo, lahirlah Bambang Trihatmodjo pada 23 Juli 1953. Di dalam resimen ini terdapat Mayor Sudigdo dan Letnan Untung. Belakangan, Untung menjadi pemimpin G30S.


Titiek, Tommy, Mamiek

Setelah Bambang berumur hampir 6 tahun dan Soeharto berpangkat kolonel dengan jabatan mentereng Panglima Divisi Diponegoro, barulah ia dan Siti Hartinah punya anak lagi. Pada 14 April 1959, Siti Hediati Harjadi lahir. Nama depan Siti dilekatkan lagi di depan nama anak perempuan yang dipanggil Titiek ini. Sayangnya, setelah kelahiran putri kedua, karier Soeharto suram.

“Akibat korupsi Soeharto di Semarang, Soeharto dicopot dari kedudukannya sebagai Panglima Divisi Diponegoro,” catat Anak Marhaen Hanafi dalam A.M. Hanafi Menggugat: Kudeta Jend. Soeharto, dari Gestapu ke Supersemar (1998: 204). Peristiwa itu terjadi empat bulan setelah kelahiran Titiek.

Untung ada Letnan Jenderal Gatot Soebroto. “Hanya karena ditolong oleh Gatot Subroto, ia dapat terus berada dalam jajaran SUAD,” tulis Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2011: 338).

Untuk sementara Soeharto dikirim sekolah ke Bandung, di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad). Soeharto hanya rusak nama. Ia tak punya jabatan, tapi pangkatnya tetap kolonel.

Setelah lulus Seskoad, Soeharto merangkak lagi. Meski bukan panglima dengan daerah teritorial, Soeharto dapat jabatan penting. Pada 6 Maret 1961, dia dijadikan Korps Tentara I/Tjadangan Umum Angkatan Darat (Korra I/Tjaduad). Itu pasukan, menurut Ahmad Yunus Mokoginta dalam Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersendjata Bangsa Indonesia (1964: 157), memang dimaksudkan sebagai cadangan umum.

Di masa-masa ini pula, Soeharto yang sudah jadi brigadir jenderal naik jadi mayor jenderal. Ia memimpin sebuah operasi yang sangat besar dalam sejarah Indonesia, meski tidak sepenuhnya berjalan: operasi militer Mandala Trikora pembebasan Irian Barat. Operasi ini berlangsung setelah Presiden Sukarno mengumumkannya di alun-alun utara kota Yogyakarta pada 19 Desember 1961.

Infografik Soeharto saat Anak anaknya lahir


Pada awal 1962, kepercayaan negara kepada Soeharto bertambah. Ketika Ahmad Yani hendak dijadikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Soeharto diberi jabatan Deputi Wilayah Indonesia Timur sambil memimpin operasi terhadap Irian Barat. Ia kemudian ikut menyiapkan operasi pendaratan pasukan ke Papua dengan nama Operasi Jayawijaya.

Di masa-masa operasi ini, Soeharto kembali dilimpahkan kebahagiaan. Pada 15 Juli 1962, lahir lagi anak laki-laki Soeharto. Anak ketiga laki-laki sekaligus anak kelima. Lahir dalam suasana operasi Mandala Trikora, bocah ini diberi nama Hutomo Mandala Putra.

“Nama itu, dengan panggilan di rumah Tommy, memberikan kenangan-kenangan tersendiri pada tugas yang saya jalankan,” aku Soeharto dalam autobiografinya (1989: 107).

Bocah ini—yang pernah ketumpahan sop panas jelang G30S—disebut-sebut banyak orang sebagai anak kesayangan daripada Soeharto. Kelahiran Tommy tepat di masa terang karier militer Soeharto.

Setelah operasi perebutan Irian Barat berlalu, Soeharto dengan pangkat mayor jenderal menjadi Panglima Kostrad, yang merupakan pengembangan dari pasukan cadangan yang dipimpinnya. Meski statusnya pasukan cadangan, pasukan Kostrad menjadi pasukan pemukul yang diperhitungkan sejak 1965. Itu terjadi setelah Soeharto menggerakkannya untuk menghabisi kaum komunis.


Kala menjadi Panglima Kostrad inilah proyek Ganyang Malaysia ramai didengungkan. Di masa-masa yang dianggap meresahkan ini, Siti Hartinah hamil lagi. Padahal usia Siti Hartinah sudah 41 tahun. Soeharto sudah punya tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Meski istri hamil tua, mayor jenderal ini, yang pada 1964 sudah berusia 43 tahun, tetap ikut latihan terjun payung. Siti Hartinah tahu terjun payung itu berat. Bisa patah tulang atau nyangkut di pohon atau lebih buruk lagi. Letak bayi di dalam rahimnya pun sungsang. Konon karena Siti Hartinah terpengaruh kengerian membayangkan latihan terjun payung itu. Dokter pun harus mengoperasinya.

Setelah itu, Soeharto latihan terjun payung lagi, bahkan ikut terjun malam. Soeharto sehat-sehat saja setelah terjun. Istrinya juga melahirkan dengan selamat.

Anak perempuan ketiga, yang lahir 23 Agustus 1964 ini, diberi nama Siti Hutami Endang Adiningsih dan kerap disapa Mamiek. Jadilah Soeharto dan Siti Hartinah punya enam anak.

Di masa Orde Baru, punya anak lebih dari dua bukan contoh yang baik. Meski begitu, Soeharto menyuruh orang-orang Indonesia untuk mensukseskan program Keluarga Berencana (KB) yang berjargon “Dua Anak Cukup”.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan