tirto.id - Ada anggapan keliru yang masih melekat di benak banyak orang bahwa trading saham hanya bisa dilakoni dengan modal besar. Faktanya, ketentuan bursa membuka peluang bertransaksi mulai dari nominal yang relatif ringan.
Bursa Efek Indonesia menetapkan satu lot sebagai satuan perdagangan yang berisi 100 lembar saham. Dengan begitu, besar-kecilnya modal awal untuk mulai trading saham ditentukan oleh harga saham yang dipilih investor. Ambil contoh harga saham BUVA yang diperdagangkan di kisaran Rp770 pada 4 September 2026, untuk satu lot, dana yang dibutuhkan hanya sekitar Rp77.000.
Namun perlu dicatat, modal yang kecil justru menuntut kedisiplinan ekstra. Sebab biaya transaksi maupun volatilitas harga berlaku secara proporsional, sehingga sedikit saja kekeliruan dapat memberi efek signifikan terhadap portofolio yang nilainya masih kecil.
Berapa Modal Awal Trading Saham?
Ini adalah pertanyaan yang paling banyak diajukan pemula, dan jawabannya bisa diperoleh lewat perhitungan sederhana.
Karena satu lot setara 100 lembar, saham seharga Rp770 membutuhkan modal sekitar Rp77.000 saja. Sementara itu, saham dengan harga Rp3.000 memerlukan sekitar Rp300.000, dan saham Rp6.000 membutuhkan sekitar Rp600.000 per lot.
Dari perhitungan ini terlihat jelas bahwa keterbatasan modal bukan kendala utama. Justru yang lebih menentukan adalah ketepatan memilih saham dan kemampuan mengelola risiko investasi.
Apa Saja Langkah Awal yang Perlu Disiapkan Sebelum Trading Saham?
Berikut tahapan yang perlu dilalui secara berurutan, dari urusan administrasi hingga eksekusi order.
1. Menyiapkan SID dan Rekening Dana Nasabah
Tahap pertama adalah pembukaan rekening efek, yang nantinya menghasilkan Single Investor Identification serta Rekening Dana Nasabah atas nama investor sendiri, bukan atas nama sekuritas.Prosesnya kini bisa dituntaskan sepenuhnya secara online. Bahkan pada sejumlah aplikasi trading yang banyak dipakai di Indonesia, verifikasi dapat rampung hanya dalam hitungan jam jika diajukan saat bursa masih beroperasi.
2. Menghitung Biaya Sebelum Menentukan Target
Tahap ini sering luput dari perhatian pemula. Sebagai contoh, di aplikasi Ajaib, biaya beli tercatat 0,1513% dan biaya jual 0,2513%, artinya satu siklus transaksi (beli-jual) saja sudah menggerus sekitar 0,4%, bahkan sebelum harga saham bergerak.Konsekuensinya, target profit harian harus ditetapkan melebihi angka tersebut agar transaksi benar-benar memberi hasil. Pemakaian Market Order menambah biaya sekitar 0,1%, sedangkan fitur trading limit menambah 0,2% per hari.
3. Memahami Karakter Volatilitas Saham Pilihan
Tahap ketiga adalah memahami karakter saham pilihan. Harga yang murah bukan jaminan risiko yang rendah, bahkan kerap sebaliknya.Sebagai ilustrasi, BUVA memiliki volatilitas harian sekitar 2,76% dengan beta 3,51, jauh di atas rata-rata pasar. Rentang pergerakannya pun ekstrem: harga tertinggi sepanjang sejarah mencapai Rp2.320 pada 21 Januari 2026, sementara titik terendahnya Rp30 pada 28 Juli 2023.
Perlu diingat, data harga dan volatilitas tersebut sifatnya historis dan bisa berubah setiap hari bursa.
4. Mengenali Batas Auto Rejection
Tahap terakhir adalah mengenali aturan batas gerak harga bursa. Auto Rejection Atas ditetapkan pada rentang 20%–35% tergantung level harga, sementara Auto Rejection Bawah seragam di angka 15%.Batasan ini krusial karena menentukan sejauh mana harga bisa bergerak dalam sehari. Meski sudah menyentuh ARA, saham tetap bisa diperjualbelikan selama masih ada pihak yang mau melepas di harga tersebut.
Kesalahan Apa yang Sering Terjadi pada Trader Bermodal Kecil?
Selain aspek teknis, ada beberapa kebiasaan buruk yang lazim ditemui pada trader pemula.
Pertama, mengalokasikan seluruh dana ke satu saham berisiko tinggi demi mengejar keuntungan cepat. Akibatnya, satu kali koreksi harga saja bisa menggerus sebagian besar nilai portofolio.
Kedua, memperbanyak frekuensi transaksi saat sedang mengalami kerugian. Padahal, setiap kali bertransaksi ada biaya yang harus dibayar, sehingga upaya "balas dendam" ini justru sering memperbesar kerugian.
Ketiga, tidak menyiapkan titik keluar (exit point) sebelum membuka posisi. Tanpa batasan yang jelas sejak awal, keputusan jual-beli cenderung didasarkan pada emosi ketimbang strategi.
Ukuran Posisi Lebih Menentukan daripada Modal
Ketika dana yang dimiliki masih terbatas, cara mengatur ukuran posisi biasanya lebih berpengaruh dibanding sekadar menambah jumlah modal.
Saham dengan beta tinggi sebaiknya dijadikan sarana berlatih membaca pergerakan pasar, bukan andalan utama bagi pemula. Mengalokasikan porsi kecil ke saham volatil jauh lebih masuk akal ketimbang menaruh seluruh dana ke satu instrumen berisiko tinggi.
Mulai dari Satu Lot, Lengkapi dengan Data Memadai
Trading dengan nominal kecil akan jauh lebih terarah bila didukung akses data yang memadai.
Ajaib misalnya menghadirkan Order Book dengan kecepatan pembaruan di bawah satu detik, Running Trade untuk memantau transaksi riil, Watchlist yang bisa disesuaikan sendiri, hingga fitur Chart untuk kebutuhan analisis teknikal dasar. Order Limit dan Auto juga sudah tersedia sejak awal, dengan status order yang dapat dicek lewat tab Riwayat.
Bagi yang sudah lebih terbiasa, panel Fast Trade memungkinkan eksekusi beli-jual tanpa perlu berpindah halaman, lengkap dengan tampilan saldo, sisa trade limit, dan batas lot yang bisa dijual dalam satu layar saja.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































