Pandemi Mengendalikan Arah Harga Minyak Sepanjang 2020

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 30 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Harga minyak mentah selama 2020 melemah akibat turunnya permintaan pada masa pandemi.
tirto.id - Pandemi menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar minyak sepanjang 2020. Faktor geopolitik yang sebelumnya mendominasi kali ini kalah.

Pada akhir 2019, harga minyak OPEC tercatat berada di level US$68,89 per barel, menurut Statista. Seiring mulai menyebarnya COVID-19 pada awal 2020, harga minyak terus turun dan menembus titik terendah di US$12,41 per barel pada 28 April.

Setelah titik terendah tercapai, perlahan harga minyak mengalami tren meningkat. Namun beberapa kali kembali melorot setelah muncul kabar buruk soal pandemi. Hal ini misalnya terjadi pada 22 Desember. Harga minyak kembali turun di bawah US$50 per barel, menurut data Reuters. Penurunan terjadi setelah ditemukannya varian baru COVID-19 yang lebih cepat menular di Inggris.

Sejumlah negara bergerak cepat menutup akses terutama dari Inggris. Hal ini kembali memunculkan kekhawatiran semakin berkurangnya permintaan minyak.

Namun, pada 28 Desember, harga minyak kembali naik mencapai US$52 per barel, menurut Reuters. Pasar merespons langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akhirnya menandatangani paket bantuan Coronavirus serta dimulainya kampanye vaksin di Eropa. Tanda tangan Trump penting karena presiden yang akan segera berakhir masa jabatannya ini sebelumnya memblokade paket bantuan dan stimulus senilai 2,3 triliun dolar AS.

Kenaikan harga minyak berlanjut hingga Selasa, 29 Desember. Kali ini didorong ekspektasi kenaikan permintaan setelah AS kemungkinan akan memperluas paket bantuan pandemi. Sentimen lain adalah kesepakatan Brexit yang diharapkan menstabilisasi perdagangan Eropa dan Inggris.

Kondisi ini berkebalikan dengan kuartal II. Ketika itu pandemi benar-benar melumpuhkan aktivitas ekonomi. Pasar perminyakan sempat 'kisruh', bahkan untuk pertama kalinya minyak mentah AS (WTI) berada di bawah 0 dolar per barel, tepatnya minus 37,63 per barel atau turun hingga 306% pada 21 April 2020.

Pada perdagangan hari itu, harga minyak bahkan sempat menembus level terendah hingga minus US$40,32 per barel. Sementara minyak Brent tercatat turun 9% ke level US$25,57 per barel.

Namun, anjloknya minyak WTI tidak mencerminkan kondisi pasar minyak yang sesungguhnya. Hal itu dapat terjadi karena saat itu adalah hari terakhir para produsen memperdagangkan kontrak Mei, padahal pada bulan itu diperkirakan kapasitas penyimpanan sudah mencapai batas terbesarnya.

“Penampungan sudah terlalu penuh untuk para spekulator membeli kontrak ini, dan kilang-kilang beroperasi pada level yang rendah karena kita belum mencabut perintah untuk tinggal di rumah di sebagian besar negara bagian,” kata PhilFlynn, analis dari Price Futures Group di Chicago, seperti dilansir dari Reuters.

Memasuki Mei, harga minyak melonjak tajam. Minyak WTI melonjak 88% ke level US$ 35 per barel, untuk pertama kalinya sejak Maret. Perbaikan harga terjadi setelah muncul pembatasan produksi secara masif dari negara-negara produsen minyak.


Permintaan Turun

International Energy Agency (IEA) dalam laporan November 2020 menyebut permintaan minyak dunia diperkirakan turun 8,8 juta barel per hari (bph) pada 2020. Proyeksi November ini mengalami perubahan 400 ribu bph dibandingkan laporan Oktober, yang memperkirakan penurunan permintaan sebesar 8,4 juta bph.

IEA memperkirakan vaksin tidak akan mendorong permintaan secara signifikan pada tahun depan. Mereka memprediksi permintaan minyak dunia hanya akan meningkat 5,8 juta bph. Namun ini lebih baik ketimbang proyeksi Oktober yang memperkirakan kenaikan permintaan hanya 5,5 juta bph.

Sementara OPEC dalam laporan bulanan yang terbit pada 14 Desember menyebutkan permintaan minyak dunia diperkirakan turun 9,77 juta bph. Untuk tahun 2021, diperkirakan permintaan minyak mencapai 95,89 juta bph, seiring membaiknya aktivitas perekonomian yang akan meningkatkan permintaan.

Dari sisi suplai, ada kenaikan 200 ribu bph (month on month) menjadi 91,2 juta bph pada Oktober. Negara-negara OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk menahan produksi. OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta bph mulai 1 Mei. Pemangkasan dikurangi menjadi 7,7 juta bph pada Agustus dan berencana mengembalikan level produksi pada tahun depan.

Sejauh ini, tingkat kepatuhan negara tersebut menurut IEA sebesar 103%.

Sementara produksi dari negara-negara di luar OPEC+ diperkirakan turun 1,3 juta bph pada 2020 dan meningkat 200 ribu bph pada tahun depan.

Pandemi dan penutupan aktivitas terbukti berpengaruh terhadap terpangkasnya permintaan minyak. Permintaan minyak sedikit membaik setelah sejumlah negara mulai melonggarkan lockdown mulai kuartal III. Namun OPEC khawatir meningkatnya kembali kasus positif akan mengganggu proses pemulihan ekonomi.

“Kasus infeksi baru COVID-19 yang terus meningkat selama Oktober di AS dan Eropa memaksa pemerintah-pemerintah untuk menerapkan kembali sejumlah kebijakan pembatasan. Beragam bahan bakar termasuk bahan bakar transportasi akan menanggung beban ke depannya,” jelas OPEC.


Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Rio Apinino
DarkLight