Netflix, Hasan Minhaj, dan Pusaran Tawa Keborokan Amerika

Oleh: Renalto Setiawan - 7 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Hasan Minhaj ingin menjadi komika setelah menonton pertunjukan spesial Chris Rock yang berjudul Never Scared.
tirto.id - Komedian Amerika, Hasan Minhaj bersiap menyambut momen yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya. Ia dandan necis. Agar sesuai dengan jumlah cincin juara NBA Jordan, parfum Michael Jordan ia semprotkan enam kali ke bagian tubuhnya. Setelah itu, ia melompat ke luar rumah, mengendarai sepeda ontelnya untuk menjemput Bethany Reed, pujaan hatinya.

Hari itu, Hasan dan Bethany rencananya akan datang ke acara pesta dansa di sekolahnya. Ia adalah kutu buku, pun demikian dengan Bethany. Namun, ketika cinta bergelora di dalam dada, cinta tak akan peduli dengan para kutu buku maupun bukan. Oleh karena itu, pesta dansa pun bisa sama asyiknya dengan laboratorium fisika.

Sayangnya, kebahagiaan Hasan sudah berantakan saat ia baru berdiri di depan pintu rumah Bethany. Ibu Bethany melarang anaknya pergi ke pesta dansa bareng Hasan. Hasan kaget dan tak pernah menyangka bahwa Ibu Bethany mempunyai alasan yang sangat kejam: Hasan berkulit coklat, warga Amerika berdarah India. Sementara Bethany adalah orang Amerika tulen berkulit putih. Apa kata orang nanti jika mereka berpasangan di pesta dansa?

Lantas, gelap malam mengiringi kesedihan Hasan. Ia kemudian pulang dan bermain Mario Kart semalaman. Katanya, "Baju yang aku kenakan malam itu adalah baju terbagus yang pernah aku pakai saat bermain Mario Kart.”

Cerita itu menjadi bagian dari stand-up komedi spesial Hasan Minhaj berjudul Hasan Minhaj: Homecoming King yang tayang di Netflix pada Mei 2017 lalu. Cerita tentang Bethany itu memang terlihat menyedihkan, tapi Hasan mampu meraciknya menjadi sebuah cerita yang menyentuh sekaligus kocak.



Selain tentang Bethany, Hasan juga mengajak para penonton menertawakan banyak hal dalam acara spesialnya itu. Kehidupan keluarga India di Amerika, bagaimana tingkah rasis orang-orang kulit putih, serta mimpinya sebagai warga negara Amerika tak luput dari perhatiannya. Dan saat Kevin Kenneth Lee menyebut " Hassan Minhaj: Homecoming King adalah sebuah mahakarya dalam bercerita", jurnalis Film Companion itu tidak sedang berjualan kecap.

Karena kemampuan bercerita Hasan, para penonton tersihir. Mereka masuk ke dalam dunia cerita Hasan, seolah-olah menjadi Hasan, lalu tertawa dan bertepuk tangan terus-terusan. Setelah itu, para penonton sadar bahwa cerita itu ternyata bukan tentang Hasan, melainkan sebuah cerita tentang masalah-masalah serius yang terjadi di Amerika. Ya, karena cerita Hasan, mereka berhasil menertawakan diri mereka sendiri. Dan hal inilah yang dimaksud oleh Lee, bahwa kemampuan bercerita Hasan nyaris tiada duanya.

"Bercerita adalah cara yang ampuh untuk menyampaikan narasi Anda serta untuk mendapatkan empati dari orang lain— cerita bisa menyatukan kita semua sebagai manusia. Spesifikasi sebuah cerita yang kita miliki bisa memberikan titik unik yang menghubungkan dengan orang lain—dan apa yang mengejutkan dari hal itu adalah semua orang mempunyai cerita. siapa pun Anda, setiap orang pasti mempunyai cerita, dan setiap orang pasti juga mempunyai cerita menarik untuk diceritakan," ujar Hasan Minhaj, mengenai kelebihannya itu, dilansir dari India.


Berawal dari Chris Rock


Hasan Minhaj lahir di Davis, California, pada 23 September 1985 lalu. Ayah dan ibunya adalah Muslim dari India. Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, mereka memilih pindah dari Aligrah, India, ke Amerika beberapa waktu sebelum Hasan lahir.

Orang tua Hasan benar-benar seperti kebanyakan orang India yang tinggal di Amerika. Mereka selalu berbicara dengan bahasa India, menonton film-film Bollywood kesukaan, hingga menerapkan aturan-aturan ketat agar Hasan tak berbuat macam-macam: tidak boleh bersenang-senang, tidak boleh berkawan, tidak boleh pacaran. Pergi ke sekolah, pulang, dan belajar. Dan saat perbuatan rasis menghantam mereka, orangtua Hasan juga selalu mengajarkan untuk diam. Menurut mereka, itu adalah harga yang harus dibayar oleh para imigran India di Amerika.

Namun, Hasan tentu berbeda dengan orang tuanya. Ia adalah orang Amerika yang selalu menginginkan persamaan. Sebagaimana orang Amerika kebanyakan, ia juga mempunyai hak untuk menjadi apa saja. Lantas, sewaktu di bangku kuliah, takdir mengarahkan Hasan untuk ke pintu gerbang masa depannya. Setelah menonton stand-up komedi spesial Crish Rock yang berjudul Never Scared, ia ingin menjadi seorang komika.

“Itu adalah salah satu hal yang paling inovatif, kreatif, dari bentuk ekspresi artistik yang pernah aku lihat. Sama seperti para penonton lainnya, aku hanya bisa terpesona dengan cara Chris Rock berbicara tentang politik, relasi, perang, gender, dan semua hal yang lain yang ia bicarakan. Itu seperti, ‘stand-up komedi: aku harus melakukannya,’” ujarnya.

Kelak profesinya sebagai komika inilah yang membuat Hasan bisa bicara bebas tentang masalah-masalah serius yang terjadi di Amerika. Itu seperti saat rasisme menghantamnya secara telak, ia akan selalu bangkit untuk memberikan perlawanan yang jauh lebih hebat.

Infografik Hasan Minhaj

New Brown Amerika

Mulai melakukan Open Mic saat masih berusia 19 tahun, Hasan Minhaj akhirnya mampu menjadi koresponden Comedy Show pada 2014 lalu. Yang menarik, pencapaiannya itu ternyata belum membuatnya puas. Ia tidak ingin hanya menjadi stand-up komedian biasa. Ia ingin menjadi pencerita, seorang performer yang menjadikan tawa sebagai prioritas kedua.

“Kebanyakan pertunjukan biasanya adalah: ’lelucon-lelucon-lelucon-lelucon, terima kasih dan selamat malam.’ Saya harus mampu mengubahnya secara mendasar,” katanya kepada GQ.

Dari situ, Hasan kemudian merencanakan untuk membikin pertunjukan tunggal dalam bentuk teatrikal. Pertunjukan itu berjudul Homecoming King. Dalam pertunjukan itu, ia akan menceritakan masalah-masalah serius di Amerika berdasarkan kisah hidupnya.

Setelah menjajalnya di Just for Laught Festival di Montreal pada Juli 2015, ia ingin pertunjukan itu diadakan di Cherry Lane Teather, New York. Demi acara itu, Hasan kemudian nekat mengambil risiko. Ia berinvestasi dengan jumlah yang cukup besar, dari membayar sewa gedung, pekerja tiket, pengarah pencahayaan, pengarah seni, hingga orang-orang yang bertanggung jawab terhadap desain panggung.

Hebatnya, pertunjukan itu ternyata sukses. Setelah melakukan tur lebih dari 40 kota, saat Homecoming King diadakan di Davis [rumah Hasan] pada Januari 2017 lalu, Netflix memutuskan untuk merekamnya. Acara itu kemudian mulai ditayangkan di Netflix pada Mei 2017 lalu dan langsung mendapatkan sambutan positif dari publik.

Perkara Homecoming King, Sameer Rao menulis di Colorlines: “Hasan Minhaj tidak bisa menyembuhkan rasisme, tapi ia bisa menolong anak-anak kulit coklat lainnya untuk menghadapinya.” Sementara itu, New Yorker menyebut “Hasan Minhaj’s ‘New Brown America’. Dan puncaknya, karena narasi yang baik, Homecoming King berhasil memenangkan Peabody Award pada Mei tahun 2018 lalu.

Kesuksesan Homecoming King lantas membuat sinar Hasan Minhaj semakin terang benderang. Pada April 2017 lalu, ia dipilih untuk menjadi pengisi acara utama di White House Correspondent’s Dinner 2017 lalu. Hasan pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut: Donald Trump, yang memilih memboikot acara tersebut, menjadi santapan empuk bagi Hasan.



Karena Trump sempat menganggap orang-orang Afrika seperti “lubang kotaran”, Hasan menyindir Administrasi Trump dengan mengatakan bahwa “berita yang muncul dari Gedung Putih membikin stres, aku kemudian menonton ‘House of Card’ agar bisa santai”.

Selain itu, ia juga tak lupa menyindir kebiasaan Trump bermain dalam bermain golf. Katanya, “Setiap kali Trump pergi bermain golf, headline di media seharusnya berbunyi, ‘Trump bermain golf. Kiamat ditunda. Take this W.’”

Selain tingkah absurd Trump, Hasan Minhaj sengaja “menghajar” Trump karena kesal dengan tingkah laku Presiden Amerika tersebut. Menurutnya, dengan memboikot acara tersebut, Trump sejatinya tidak menghormati sejarah panjang WHCD. Padahal, jika tidak ada halangan, presiden-presiden Amerika sebelumnya hampir selalu hadir setiap kali acara tersebut digelar. Mereka memang sedikit disindir dalam acara tersebut, tapi tidak akan sekejam sindiran yang dilakukan Hasan terhadap Trump.

Dari situ, Netflix, sekali lagi, mencium peluang untuk memanfaatkan kemampuan Hasan dalam berkomedi. Lewat acara berjudul Hasan Minhaj: Patriotic Act , Netflix kemudian menjadikan Hasan sebagai orang Amerika-India pertama yang akan mempunyai acara sendiri di saluran streaming yang bermarkas di California tersebut. Acara tersebut akan ditayangkan setiap Minggu, dan edisi perdananya sudah bisa disaksikan pada tanggal 28 Oktober 2018 nanti.

Menyoal acara barunya yang tak jauh-jauh dari komedi dan politik tersebut, Hasan mempunyai pendapat yang sangat familiar dengan dirinya: “Kita membutuhkan acara komedi yang membahas hal-hal serius, termasuk rasisme.”

Baca juga artikel terkait STAND UP KOMEDI atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Suhendra
DarkLight