Simbiosis Mutualisme antara Netflix dan Anak Muda Zaman Now

Cuplikan 'Death Note' Netflix, 2017. FOTO/James Dittiger/Netflix
Oleh: M Faisal - 17 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Anak-anak muda suka Netflix dan begitu pula sebaliknya. Mengapa demikian?
“Gue amazed banget sama serial Netflix terbaru!”

Pesan dari kawan masuk ke ponsel saya beberapa waktu lalu. Nabila Azalia yang berusia 24 tahun, memberi kabar serial keluaran teranyar Netflix berjudul Alexa & Katie telah memesonanya.

“Secara cerita, sih, enggak ada kebaruan. Tapi, gue ngerasa kesentuh. Alexa & Katie enggak lebay, enggak melodrama, meski narasinya dibangun dari hal-hal yang menye,” kata Nabila.

Ia kemudian meneruskan kisahnya dengan begitu antusias. Baginya, Alexa & Katie yang “tidak memunculkan kebaruan" tapi tetap membuatnya ketagihan menonton. Ia bisa maraton berjam-jam dan bahkan mengulangnya dari episode pertama di hari berikutnya, dan sering mengulangnya.

“Sama kaya The End of F***ing World, serial yang ini memuaskan,” tuturnya. “Yah, 8,5/10 lah.”

Jualan Cerita Remaja

Pada 2017 silam, survei semi tahunan dari Piper Jaffray—lembaga riset investasi dan pasar—menyebutkan sebanyak 38 persen populasi muda menghabiskan waktu untuk menonton Netflix. Jumlah itu lebih banyak dibanding mereka yang menonton YouTube hanya 26 persen, TV kabel 23 persen, Hulu 4 persen, dan Amazon 3 persen.

Apa yang membuat Netflix begitu spesial di mata anak-anak muda?

Bagi yang mengikuti Netflix, pastinya paham bahwa dewasa ini, Netflix seringkali menyajikan film atau serial yang didasarkan dari kehidupan remaja maupun coming of age. Inilah yang dianggap banyak pihak sebagai faktor kunci Netflix dalam menggaet penonton milenial.


Di tangan Netflix, remaja diolah jadi barang dagang. Masa keemasannya yang terakhir terlacak pada 1980-1990an melalui The Breakfast Club, Dazed and Confused, 10 Things I Hate About You, That’s 70 Show, sampai Almost Famous, coba dihidupkan kembali oleh perusahaan layanan streaming asal California ini.

Alexa & Katie, yang berkisah mengenai relasi dua kawan di tengah serangan kanker, hanyalah sebagian kecil contoh jualan remaja dari Netflix. Sebelumnya, Netflix sudah lebih dulu punya 13 Reasons Why, On My Block, Riverdale, Stranger Things, American Vandal, Everythings Sucks! sampai Atypical. Itu baru dari serial. Di film sendiri, produk remaja ala Netflix juga tak kalah banyak. Contohnya: Dude, Babysitter, The Kissing Booth, To All the Boys I’ve Loved Before, hingga Alex Strangelove.

Setiap produk tersebut dibangun atas fondasi yang sama yakni kehidupan remaja. Namun, masing-masing produk remaja Netflix punya pengembangan yang bermacam rupa. Riverdale, misalnya, dibalut dengan misteri pembunuhan di tengah realitas sehari-hari anak SMA yang berupaya mengejar mimpinya.

Sementara The End of F***ing World adalah petualangan dua anak muda, James (Alex Lawther), pemuda 17 tahun yang percaya, bahwa dirinya adalah psikopat serta berupaya membunuh manusia untuk kali pertama. Ia bersama Alyssa (Jessica Barden), gadis yang muak akan kehidupan keluarganya yang tak stabil. Keduanya lalu kabur dan menciptakan petualangan.


Selain berjualan bumbu romantisme maupun sikap memberontak anak remaja, produk dagang remaja ala Netflix juga memuat kritik terhadap masalah sosial yang sedang hangat. Alex Strangelove, contohnya menyentil mengenai bagaimana respons lingkungan sekitar terhadap LGBTQ.

Juga ada 13 Reasons of Why mengangkat narasi bullying, bunuh diri, hingga kekerasan seksual. Tak ketinggalan, di On My Block maupun Jane the Virgin, menyodorkan persoalan rasisme serta imigran.

Karen Han dalam “Teenage Stream: How Hetflix Resurrected the High School Movie” yang dimuat di The Guardian menegaskan Netflix telah membuktikan dirinya menjadi penyedia layanan streaming yang menarik perhatian anak-anak muda. Produk-produk jualan Netflix, di samping membangkitkan gairah film remaja, juga telah membawa narasi tentang remaja untuk diperbincangkan lebih lanjut.




Mengapa Anak-Anak Muda?

Keputusan Netflix untuk menjual produk yang menyasar anak-anak muda tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan bisnis. Ada potensi keuntungan besar di pasar ini. Data Pew Research Center pada 2017 memperlihatkan bahwa enam di antara sepuluh orang yang berusia 18-29 tahun, sebanyak 61 persen mengatakan mereka menghabiskan waktu menonton televisi melalui layanan streaming, lebih banyak dibanding mereka yang menonton televisi melalui kabel maupun antena digital.

Selain faktor bisnis, alasan Netflix menggarap kehidupan remaja sebagai bahan baku film atau serialnya, sebagaimana ditulis Liz Shannon Miller dalam “Teenagers Are About Conquer the World” yang terbit di IndieWire ialah karena, pertama banyak potensi pemain muda yang belum terjamah oleh rumah produksi. Kedua, kehidupan remaja menyediakan cerita yang dekat dengan realita. Ia bukan kisah superhero yang sulit dijangkau.

Sehingga, ketika banyak serial maupun film Netflix soal remaja bertebaran, antusiasme penonton, terutama dari kalangan anak muda, tak bisa dibendung. Lebih-lebih, dalam memproduksi film atau serial remaja, Netflix tak asal membuat begitu saja.


Sidneyeve Matrix dalam “The Netflix Effect: Teens, Binge Watching, and On-Demand Digital Media Trends” mengatakan, Netflix memproduksi film dan serialnya secara menarik, punya narasi yang kompleks, karakter kuat, hingga jalan cerita yang membuat penonton terpikat mengikutinya dari satu episode ke episode, dari satu musim demi musim. Faktor itu juga yang semakin mendorong penonton generasi muda berbondong-bondong menonton Netflix. Mereka merasa telah mendapat jaminan bahwa cerita yang disodorkan tak biasa.

“Aku pikir mengapa Netflix bisa mengendalikan pasar dengan baik adalah karena mereka tidak hanya membuat konten untuk anak-anak muda sebagai konsumsi belaka, tapi juga ada sisi edukasi di sana. Konten mereka membantu anak-anak muda tumbuh,” papar Rio Mangini, bintang Everything Sucks! seperti dikutip IndieWire.

Pada akhirnya, bersama Netflix, anak-anak muda ini menciptakan simbiosis mutualisme. Netflix dapat untung, anak-anak muda dapat wadah untuk membicarakan masalah dan kehidupan mereka yang penuh warna di dunia nyata.

Baca juga artikel terkait SERIAL TELEVISI atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Film)

Penulis: M Faisal
Editor: Suhendra
DarkLight