Ramai-ramai Jatuh Hati pada Gadis Bandel Lady Bird

Oleh: Aulia Adam - 2 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bagaimana Greta Gerwig menceritakan si Gadis Bandel Lady Bird.
tirto.id - Greta Gerwig adalah Florence Marr dalam film Greensberg (2010). Ia orang pertama yang muncul di layar dalam film karya Noah Baumbach itu.

Di sana, Greta memerankan asisten rumah tangga keluarga Roger Greenberg, diperankan Ben Stiller, yang tentu saja adalah bintang utama, dan kebetulan akan jadi pasangannya. Itu bukan film pertama Greta sebagai aktor, tapi bisa dibilang lewat film itu namanya meroket di Hollywood.

Kritikus film New York Times AO Scott habis-habisan memuji performa Greta. Menurutnya, ada angin segar dalam metode akting sang aktris. “Film baru Noah Baumbach berjudul ‘Greenberg’, tapi secara seimbang—atau mungkin lebih—ia adalah cerita tentang Florence Marr juga,” tulisnya. “Dia secara kokoh, berhasil, dan terukur tampil nyata.”

Film berikutnya, Greta masih bekerja sama dengan Baumbach. Kali ini bahkan sang aktris ikut ditarik ke kursi penulisan naskah. Baumbach ingin filmnya yang bercerita tentang perempuan dirakit dengan campur tangan perempuan pula. Lewat Frances Ha (2013), nama Greta kian besar. Nominasi Aktris Terbaik Film Drama dan Komedi di Golden Globe jadi salah satu faktornya. Ia kemudian terus tampil dalam sejumlah film bujet besar lainnya di Hollywood, macam Mistress America (2015), Jackie (2016), dan 20th Century Women (2016).

Pada 2017 kemarin, ia mengambil langkah beda. Sang aktris memutuskan terjun ke belakang layar untuk menduduki kursi sutradara. Pengalamannya dua kali sebagai penulis di Francess Ha dan Mistress America serta sebagai asisten sutradara di Nights and Weekends (2008), membuatnya cukup percaya diri. “Setidaknya untuk mencoba,” katanya dalam sebuah gelarwicara malam.

Di film debut ini, Greta juga menulis sendiri naskah filmnya. Sesuatu yang sebenarnya sangat berisiko. Bila tak bagus-bagus amat, ia akan dicap narsis dan berkepala besar. Jenis kritik yang paling dihindari karya-karya debut.

Dasar nasib baik, Lady Bird, judul film itu, justru menuai puji-pujian yang tak berkesudahan. Ia dirayakan New York Times sebagai “Kesempurnaan di Layar Besar”. Rotten Tomatoes, situs agregator kritik mencatat karya debut Greta sebagai pemecah rekor film dengan review terbaik sepanjang masa, dengan 99 persen tanggapan baik. Majalah TIME memasukannya dalam daftar 10 Film Terbaik tahun 2017.

Yang membuat lebih mencengangkan adalah waktu untuk mengoleksi semua pujian itu.

Sebelum resmi tayang di bioskop Amerika November lalu, Lady Bird lebih dulu diputar di Telluride Film Festival pada September. Tapi dalam waktu singkat belaka, ia kini telah mengumpulkan total 148 nominasi dalam 34 ajang penganugerahan film. Termasuk 4 kategori dalam Golden Globe 2018. Besar kemungkinan, Lady Bird juga akan jadi andalan di Oscar tahun ini.

Padahal, gagasan utama yang disuguhkan Greta sangat, amat, amat biasa. Mari kita bedah. Pertama, genrenya adalah coming of age—sederhananya, film tentang remaja menuju umur dewasa. Sebuah tema yang... berjibun di pasar. Arah ceritanya jelas sekali tertebak.

Lady Bird menceritakan hidup Christine McPherson, remaja kelas tiga SMA yang tinggal di kota satelit Sacramento, California. Ia punya mimpi untuk kuliah di New York, kota yang lebih besar dan pusat kebudayaan, tapi terkendala masalah finansial keluarganya. Ibunya harus ambil shift lebih, supaya bisa bantu keuangan keluarga, karena sang ayah dipecat. Dan untuk memenuhi hasrat Christine, yang menamai dirinya sendiri Lady Bird dan lebih senang dipanggil demikian ketimbang nama lahirnya, sang Ibu sudah terang-terangan bilang tak mampu. Tapi, si remaja bersikeras. Dan di sanalah konflik utama film ini: hubungan antar-remaja putri dan ibunya. Tema yang juga sudah banyak diangkat. Misalnya di Mamma Mia! (2008), Brave (2012), LOL (2012), atau Sparkle (2012).


Sebagaimana dalam film-film bertema serupa, Lady Bird juga digambarkan Greta sebagai karakter rebel. Ia tak sungkan mendebat, memarahi, dan bertengkar dengan ibunya. Kebebalan Lady Bird sudah sejak awal ditunjukkan Greta: saat sang tokoh utama yang diperankan aktor Irlandia Saoirse Ronan membuka pintu mobil ibunya yang sedang melaju, dan meloncat keluar—cuma supaya ibunya diam, tak lanjut merepet. Adegan itu bahkan hadir saat film belum berumur 10 menit.

Jadi, bisa bayangkan kebandelan lain yang dihadirkan Lady Bird.

Tapi, tingkah-tingkah menyebalkannya tak sekonyong-konyong memberikan kesan jahat. Pun Marion, sang Ibu yang diperankan Laurie Metcalf juga tak semata-mata jadi serba baik. Di film pertama Greta ini, semua orang hadir abu-abu, sebagaimana di dunia nyata. Konon hal ini yang membuat Lady Bird tak biasa dan mengena di hati penonton.

Liz Braun dari Toronto Sun menyebut perpaduan naskah dan para pemeran yang apik adalah pembeda Lady Bird dari cerita coming of age lainnya. AO Scott dari New York Times juga berujar serupa dalam ulasannya. “Naskahnya benar-benar bagus, penuh dengan dialog dan argumen yang hidup. Setiap baris terdengar seperti sesuatu yang mungkin benar-benar dikatakan seseorang,” ungkapnya.

Infografik Lady Bird


Nyaris semua ulasan di Rotten Tomatos juga bernada sama. Naskah Greta dipuji ringan dan jernih, oleh Berardinelli dari Reelviews terasa tak berlebihan.

Tapi, pujian lain yang tak mungkin diabaikan adalah presentasi para aktornya. Duet Ronan-Metclaf sebagai ibu dan anak benar-benar padu. Dialog mereka—yang sering kali bersahutan—tak pernah terlambat setengah detik pun. Sehingga semua pertengkaran dan perdebatan terasa pas—sering kali lucu—tapi tetap jujur.

Poin jujur ini yang sebenarnya tak mungkin tak menonjol dari Lady Bird. Greta benar-benar memotret Sacramento, keluarga McPherson yang kelas menengah-ke bawah, sekolah Katolik, dan percintaan remaja di tahun 2002 dengan sangat baik.

Ia menceritakan kisah Lady Bird tanpa adegan mengharu biru, sesenggukan, depresi berlebihan, atau dramatisasi lainnya yang sering kali ditunjukkan film-film serupa. Sebab dalam kehidupan nyata keluarga kelas menengah-ke bawah, adegan-adegan itu memang nyaris tak ada. Misalnya untuk menunjukkan hubungan romantis Lady Bird dan ibunya, Greta tak mendudukan keduanya dalam kamar berpenerangan redup lalu dengan kalimat-kalimat indah menginspirasi. Ia justru menyelipkan “Ibuku memang gila, memang cerewet, tapi dia begitu karena sayang padaku kok,” sebagai kalimat yang diucapkan Lady Bird tiap kali ada yang protes tentang karakter ibunya.

Ia juga tak keberatan untuk beli gaun pesta prom di toko baju bekas, sementara ia tahu kawan-kawannya beli pakaian di Abercrombie. Tapi di lain waktu, ia selalu menutupi kemiskinan keluarganya dari kawan-kawan dengan mengakui rumah orang kaya sebagai rumahnya, atau menipu tentang pekerjaan ayahnya. Di sana, Greta berhasil menunjukkan kehidupan nyata para remaja kelas menengah.

Satu hal lain yang mengejutkan adalah Lady Bird sama sekali tak tampil politis, sebagaimana tren film Hollywood saat ini. Saat Greta mengumumkan akan bekerja sama dengan Studio A24 untuk merilis Lady Bird, filmnya diprediksi akan jadi produk feminis karena ia adalah satu dari sedikit sekali perempuan di Hollywood yang bisa menempati posisi sutradara. Nyatanya, tidak juga. Greta justru kentara fokus pada kejujurannya menyampaikan cerita.


Di hidup remaja putri seperti Lady Bird, tetap ada: pria, mean girls, dan dongeng tentang keperawanan. Dan protes tentang kesetaraan lewat feminisme memang bukan fokus Lady Bird, selain ingin keluar dari Sacramento dan mencicipi hidup di kota besar. Namun bukan berarti kritik-kritik itu tidak ada, hanya saja disampaikan tidak dengan menggebu-gebu.

Misalnya, dengan dialog marah-marah Lady Bird saat mengetahui Kyle, orang yang dipilihnya untuk melepas keperawanan, ternyata tidak perjaka seperti pembicaraan di awal. Ia marah dan protes tentang posisinya di puncak saat adegan penetrasi. Lady Bird merasa itu tidak benar, sebab ia hanya gadis 18 tahun yang masih awam tentang seksualitas.

Atau misalnya bagaimana Lady Bird dan Jullie (Beanie Feldstein), sahabatnya berakhir berdansa berdua di malam prom tanpa kehadiran cowok.

Penyampaian yang kalem ini nyatanya menjadikan Lady Bird tontonan menarik. Semua orang jatuh hati pada kisah coming of age si gadis bandel dari Sacramento, yang sebenarnya diangkat dari kisah nyata hidup Greta Gerwig sebelum berangkat ke New York dan mengejar mimpinya di dunia sinema. Film ini pasti jadi kado indah buat ibu Greta, yang sekarang sadar kalau mimpi anaknya tidak terlalu besar.

Hebatnya lagi, debut ini sama sekali tak terlihat seperti ajang narsis, justru sentilan sentimental bagi mereka yang merindu ibu dari jauh.

Baca juga artikel terkait REVIEW FILM atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf