Menuju konten utama

MTN Market Hadirkan Tiga Novelis Terkemuka di JAFF Market 2025

Atas dukungan MTN Market, Dee Lestari, Reda Gaudiamo, dan Felix K. Nesi berbagi cerita mengenai dinamika adaptasi novel ke layar lebar di JAFF Market 2025.

MTN Market Hadirkan Tiga Novelis Terkemuka di JAFF Market 2025
Dari kiri ke kanan: Dee Lestari, Reda Gaudiamo, Felix K Nesi, dan Aan Mansyur mengisi sesi MTN Market di JAFF 2025. Sumber foto/Istimewa.

tirto.id - MTN Market menghadirkan novelis ternama Indonesia Dee Lestari, Reda Gaudiamo, dan Felix K. Nesi dalam sesi eksklusif bertajuk “Write, Camera, Action! Plot Twists in Adaptation” di JAFF Market 2025, Minggu (30/11/2025) pukul 14.15–15.15 WIB di Jogja Expo Center, Yogyakarta.

Dengan moderator penyair Aan Mansyur, sesi tersebut membuka percakapan mendalam tentang bagaimana karya sastra dan budaya menjelma menjadi karya audiovisual yang kuat dan relevan.

Sesi eksklusif ini merupakan bagian dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, program prioritas nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan Indonesia. Program ini dirancang untuk menghubungkan talenta dengan peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar—baik nasional maupun internasional.

Melalui kehadirannya di JAFF Market, MTN Market memperkuat perannya sebagai ruang strategis untuk memperluas wawasan kreator, membuka jejaring profesional, dan memperkokoh posisi talenta Indonesia dalam industri kreatif global.

"Sesi berdurasi satu jam ini membuka proses adaptasi dari balik layar—dari bagaimana sebuah cerita berkembang dan mengalami penyesuaian, hingga proses tafsir ulang demi kebutuhan sinematografi," bunyi keterangan tertulis yang diterima Tirto.id, Selasa (2/12/2025).

Sepanjang diskusi, para pembicara mengulas dinamika kolaborasi dengan sutradara, produser, hingga aktor, serta menyoroti tantangan kreatif, kompromi, dan keputusan-keputusan penting saat elemen literer harus berdialog dengan tuntutan visual.

Percakapan ini membuka proses adaptasi dengan pendekatan yang lebih personal dan mengalir, dimulai dari kisah para penulis ketika karya mereka pertama kali dipilih untuk dihidupkan di layar—momen yang kerap dipenuhi campuran rasa bangga, cemas, dan penasaran.

Dari sana, diskusi berkembang ke proses kreatif di balik layar: bagaimana mereka menimbang elemen yang harus tetap menjadi jiwa cerita dan bagian yang perlu diolah ulang agar bekerja secara visual, sekaligus pengalaman berkolaborasi dengan sutradara, produser, dan aktor yang sering menghadirkan perspektif baru.

Para pembicara juga menggambarkan emosi ketika melihat karakter fiksi menjelma menjadi sosok nyata di set produksi, sambil meluruskan sejumlah mitos umum tentang adaptasi.

Contoh-contoh film dari adaptasi novel yang disebutkan oleh pembicara antara lain Rapijali, Aroma Karsa, dan Na Willa semakin memperkaya gambaran bahwa adaptasi bukan sekadar memindahkan cerita antar-medium, melainkan proses merumuskan ulang cara sebuah kisah dihayati.

Sebagai pasar film terkemuka di Asia, JAFF Market mempertemukan para profesional industri, pencerita, dan pemimpin kreatif untuk bersama-sama membentuk masa depan sinema.

Melalui rangkaian presentasi proyek, showcase IP, jejaring strategis, dan diskusi berbasis kebutuhan pasar, JAFF Market menjadi wadah dinamis bagi terciptanya koneksi bermakna dan kolaborasi berdampak, sekaligus mendorong penguatan ekosistem perfilman di kawasan.

Penulis: Tim Media Servis