Menyoal Orang Bertalenta di Startup Indonesia

Inisiator #1000Startup Digital dan Chief Executive KIBAR Yasen Kamto berbicara dalam Google Developers Launchpad Indonesia di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, Minggu (29/10/2017). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Pada 2020, pemerintah menargetkan lahirnya seribu startup. Bagaimana dengan ketersediaan ahli IT?
tirto.id - Pemerintah menargetkan 2.000 startup dengan nilai valuasi mencapai Rp150 triliun hingga 2020 mendatang. Selain seribu startup, pemerintah juga mencanangkan 1 juta petani dan nelayan serta 8 juta Usaha Kecil dan Menengah “Go Digital” dengan perkiraan sumbangsih bagi perekonomian masing-masing mencapai Rp961,1 triliun dan Rp698 triliun.

Namun, target pemerintah tersebut bukanlah suatu hal yang mudah dicapai. Survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia di 2016 mengungkapkan bahwa tingkat penetrasi internet Indonesia berada di angka 51,8 persen. Ini di satu sisi sebagai kendala, tapi juga sebagai peluang di masa depan.

Artinya, masih ada sangat besar penduduk yang belum tersentuh internet. Selain itu, permasalahan sebaran infrastruktur internet juga belum merata. Pada medio April 2017 lalu, Rudiantara, Menteri Kominfo, mengatakan bahwa throughput (tingkat proses maksimum) koneksi internet rata-rata di Jakarta berada di angka 7Mbps.

Berbanding terbalik dengan keadaan di Papua dan Maluku dengan throughput rata-rata yang berada di kisaran 300Kbps. Dua permasalahan ini akan menjadi batu sandungan pemerintah merealisasikan target yang dicanangkan, terutama karena target-target tersebut berhubungan dengan dunia teknologi khususnya internet.

Menyoal target 1.000 startup di 2020 mendatang, halangan bukan hanya datang dari dua permasalahan tadi. Willson Cuaca, Co-founder East Ventures, dalam gelaran Tech in Asia 2017 pekan ini, menyebut bahwa tantangan dunia startup di Indonesia masa kini ialah menyangkut sumber daya manusia bertalenta, terutama di bidang developer/programmer. Menurut Willson, sangat susah mencari talenta-talenta berbakat di Indonesia yang spesifikasinya khusus untuk mendukung kebutuhan startup.

Baca juga: Ramai-ramai Tanam Uang di Startup

Ini penting mengingat sisi teknis suatu produk yang dibuat startup sangat menentukan. Hal tersebut terjadi ketika kini produk dari suatu startup sangat mudah memperoleh perhatian dari pengguna. Memperoleh jumlah pengunduh yang besar bukanlah suatu hal yang mengejutkan di masa kini. Ini menjadikan kualitas teknis sangat menentukan. Suatu hal yang masih bisa ditolerir di masa-masa awal kemunculan era aplikasi.

Ahli-ahli pemrograman merupakan individu-individu yang memiliki kemampuan tinggi. Mengutip Reuters, World Economic Forum mengatakan bahwa hanya terdapat 10 persen pekerja berkemampuan tinggi dari total jumlah karyawan seluruh Indonesia.

Ini menandakan bahwa secara umum pekerja-pekerja bertalenta tinggi memang suatu hal yang langka di segala bidang. Namun menyangkut target pemerintah, pekerja bertalenta tinggi di bidang IT jelas patut menjadi perhatian utama.

Susahnya mencari talenta-talenta berbakat untuk pengembang startup, makin mengerikan manakala perkembangan dunia teknologi memunculkan ranah-ranah baru. Pada Mei lalu, Sundar Pichai, Chief Executive Officer Google, mengatakan bahwa perusahaan yang digawanginya tengah bertransformasi “dari dunia mobile first ke dunia AI first.

Ini membuat kebutuhan developer yang mengerti teknis soal kecerdasan buatan (AI) menjadi sangat krusial. Suatu hal yang belum terlalu dibutuhkan manakala Google masih berada di fase “mobile first world.”

Baca juga: Startup di Indonesia Banyak Lahir dari ITB Hingga Binus

“Bahkan perusahaan teknologi raksasa dan startup asal Amerika Serikat kesulitan mencari talenta di bidang AI,” ucap Sachin Chitturu, Associate Principal dari ‎McKinsey & Company, di Tech in Asia 2017.

Apa yang diungkap Chitturu diamini pula oleh Irzan Raditya, Chief Executive Officer Kata.ai, chatbot berkekuatan AI. “Hal yang paling krusial, untuk urusan AI pada suatu startup ialah talenta untuk data science,” ucap Irzan menjelaskan.







Menilik lebih jauh permasalahan kurang atau susahnya mencari talenta teknis bagi startup maupun perusahaan berbasis teknologi pada umumnya juga dialami negara-negara lain. Termasuk di negara-negara maju seperti Inggris. Silicon Valley Bank pernah mengadakan survei pada 929 responden yang berasal dari dunia startup di Inggris. Hasilnya 57 persen responden mengatakan bahwa akses pada sumber daya manusia dianggap sebagai suatu hal yang penting untuk diangkat menjadi isu utama kebijakan publik.

“Bagi mereka (pelaku bisnis IT), permasalahan terbesar adalah susahnya mendapatkan orang yang benar. (Kesulitan bertambah besar) seiring bisnis mereka tumbuh, dan melampaui kemampuan orang-orang,” ucap Phil Cox, President Silicon Valey Bank.

Salah satu masalah terbesar mengapa dunia teknologi kekurangan talenta berbakat adalah pendidikan. After Collage, yang melakukan sebuah survei bertajuk “Career Insights Survey” di Amerika Serikat pada 2014 lalu mengungkapkan bahwa 52 persen responden mengaku percaya bahwa universitas cukup mempersiapkan diri mereka memasuki dunia kerja. Persentase tersebut menurun dibandingkan survei yang dilakukan setahun sebelumnya yang menunjukkan bahwa 69,4 persen responden masih percaya universitas menolong dunia kerja setelah lulus.

Masalah universitas ini pula diamini oleh Irzan. “Perlu dorongan dari pemerintah dan dunia pendidikan untuk kurikulum harus di-upgrade untuk menjawab permasalahan 5 sampai 10 tahun ke depan. (Salah satu upaya) dari kami ada training, kita cari base on referal, kalau orang pintar mainnya sama orang pintar juga,” ucapnya.

Baca juga: Fukuoka Surga Bisnis Startup

Kurangnya universitas menyiapkan mahasiswanya memasuki dunia kerja nyata jelas merupakan permasalahan mendasar yang wajib segera diatasi. Terlebih, mengutip Wall Street Journal, Burning Glass Technologies dalam sebuah laporannya menyebut bahwa 92 persen lowongan di bidang teknologi masih mensyaratkan titel S1 sebagai sebuah kewajiban. Ini menjadi buah simalakama bagi mahasiswa yang berhadapan dengan biaya kuliah yang semakin tinggi dan kurangnya persiapan yang diberikan universitas bagi sang mahasiswa.

Di Singapura permasalahan yang sama pun tak luput dihadapi. Guna mengatasi masalah kekurangan talenta di bidang IT, pemerintah melalui kementerian informasi dan teknologi menggelontorkan uang senilai S$120 juta (setara dengan $90 juta) untuk mengadakan pelatihan di bidang IT yang salah satu programnya bernama “Industry Preparation for Pre-Graduates (iPrep) Program” bagi para mahasiswa.

Gelontoran uang yang direalisasikan melalui program pelatihan tersebut diambil mengatasi kebutuhan 30 ribu lowongan pekerjaan di bidang IT yang diprediksi harus diisi pada 2020 mendatang. Apa yang dilakukan Singapura nampaknya perlu juga dilakukan Indonesia.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight