tirto.id - Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, mengaku enggan perputaran uang industri ayam petelur hanya bergulir di dua perusahaan swasta. Karena itu, pemerintah melalui BPI Danantara mendirikan industri ayam terintegrasi.
"Nah, itu benar [enggan perputaran hanya di dua perusahaan swasta]," kata Amran di kantor Kementerian Koordinator Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Di satu sisi, ia mengatakan pemerintah ingin agar harga ayam umur sehari (day old chick/DOC), harga ayam petelur, dan harga ayam stabil. Untuk menstabilkan hal itu, pemerintah dinilai harus mulai dari hulu peternakan.
Menurut Amran, hulu peternakan berupa pakan, vaksin, serta DOC. Karena itu, BPI Danantara melalui Rajawali Nusantara Indonesia (ID FOOD) mendirikan industri ayam terintegrasi.
"Tanpa itu tidak mungkin. Sampai kiamat pun kita ribut dengan konsumen dan produsen. Jadi, dua-dua berteriak nih. Produsen, padahal kita swasembada. Kita swasembada telur, kita swasembada ayam, tapi dua-dua berteriak," urai dia.
Amran mencontohkan Kementan sempat menemukan penjual DOC yang menaikkan harga hingga 30 persen. Ia lantas memanggil dan meminta penjual itu agar menurunkan harga DOC.
Amran mengklaim pemerintah dapat memberikan sanksi hingga menghentikan jajaran direksi BUMN yang bertindak di luar keinginan pemerintah.
"Kenapa BUMN kita libatkan? Kalau BUMN-nya macam-macam, kita copot. Sederhana kan? Benar enggak? Jadi, nanti bergeraknya BUMN di hulu. Itu di pakan, DOC," tuturnya.
"Ini pemerintah. Enggak mungkin macam-macam direksinya, garis komando. Naikkan harga atau menyusahkan peternak, ya dia ditindak," lanjut Amran.
Sebagai informasi, dua perusahaan ayam terbesar di Indonesia adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Kedua perusahaan itu mendominasi industri unggas terintegrasi mulai produksi pakan, pembibitan, budidaya, hingga pengolahan hasil ayam daging.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id







































