Periksa Fakta

Menguji Klaim Adanya 'Permainan' WHO & China terkait COVID-19

Oleh: Irma Garnesia - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Belum banyak data terkait virus corona baru penyebab COVID-19. Penelitian mengenai virus ini terus dilakukan dan fakta-fakta terkait virus ini terus mengalami perkembangan.
tirto.id - Misinformasi terkait data COVID-19 sudah banyak tersebar di media sosial. Pada akhir Januari, misalnya, korban meninggal akibat virus corona baru penyebab COVID-19 diklaim telah mencapai 10 ribu orang di China. Ada pula klaim soal angka kematian yang dibesar-besarkan, hingga klaim bahwa virus ini merupakan virus buatan.

Pada 18 April 2020, akun Facebook Mardigu WP (arsip) dan akun Instagram @mardiguwp (arsip) menyebarkan informasi yang mengatakan bahwa China dan organisasi kesehatan dunia (WHO) memanipulasi data COVID. Akun itu juga mengunggah video berdurasi 6:58 menit untuk menguatkan dugaan tersebut.

Video tersebut berisi tuduhan terkait bagaimana WHO kini berpihak pada China sehingga layak disebut sebagai "CHO (China Health Organization)," dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Menurut video itu, berdasarkan data yang ditampilkan dalam acara Larry King Show, China diklaim memanipulasi data COVID-19 sejak hari pertama kasus diumumkan. Karena ketidakjujuran China inilah, banyak negara terkecoh dan tidak membuat kebijakan yang benar untuk menanggulangi pandemi ini.

Video tersebut juga menyebutkan bawa China dengan WHO telah menyebarkan informasi salah, yakni virus corona menyebar hanya dari hewan ke manusia, tidak bisa dari manusia ke manusia. Faktor inilah yang oleh video itu disebut menjadi penyebab mengapa banyak negara terlambat menyadari bahaya penyebaran virus corona baru.

"China bermain dengan siapa? Dengan bos WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus yang menutupi fakta sebenarnya akan fatalitas Corona," sebut video tersebut. Video itu juga menyebutkan bahwa di bulan Januari 2020, China telah membeli 250 juta Alat Perlindungan Diri (APD) di seluruh dunia yang kemudian dijual lagi ke banyak negara dengan harga 10 kali lipat.

Selanjutnya, video tersebut juga menyebutkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menuntut WHO dan akan menghentikan sumbangan dari AS ke WHO serta akan keluar dari keanggotaan organisasi itu. Video itu lantas membahas 'bahaya' dari perdagangan vaksin virus corona oleh Clinton Foundation, perusahaan farmasi besar, dan WHO. Dalam video tersebut, mereka diperkirakan akan 'memanfaatkan situasi' untuk kepentingan bisnis dengan penjualan vaksin tersebut.

Pemilik akun Instagram @mardiguwp adalah Mardigu Wowiek. Ia merupakan pengusaha yang dijuluki "Bossman Sontoloyo" sekaligus pendiri Rumah Yatim Indonesia.


Penelusuran Fakta

Pada deskripsi videonya, akun tersebut menuliskan, “CHINA & WHO MEMANIPULASI DATA COVID 19”. Perlu diketahui bahwa selain WHO, John Hopkins University & Medicine juga mempublikasikan data kasus COVID-19 setiap harinya secara real time. John Hopkins mulai mempublikasikan data seperti kasus terkonfirmasi, kasus baru, dan jumlah kematian sejak 22 Januari 2020. Saat itu ada 555 kasus yang terkonfirmasi.

John Hopkins sendiri memperoleh data melalui aggregator dari laman WHO, US Centre for Disease Prevention and Control (CDC), European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), DXY.cn., BNO News, WorldoMeters, 1Point3Arces, dan COVID Tracking Project. Selain melalui aggregator, John Hopkins juga memperoleh data dari negara bagian di AS, dan sejumlah otoritas kesehatan di berbagai negara.

Jumlah kasus yang disajikan antara John Hopkins dan WHO memang berbeda. Pada 30 April, misalnya, ada 3,257 kasus terkonfirmasi dengan 84,6 ribu kasus baru. Sementara laporan harian WHO menuliskan 3,090 juta kasus dengan 71,8 ribu kasus baru.

Perbedaan data antara John Hopkins dan WHO wajar adanya karena kedua lembaga juga memiliki metodologi pengumpulan data berbeda. Data yang disajikan WHO sendiri berasal dari laporan otoritas kesehatan berbagai negara yang dikumpulkan oleh regional WHO, yakni WHO AFRO, WHO EMRO, WHO EURO, WHO PAHO, WHO SEARO, dan WHO WPRO.

Selain itu, WHO juga menuliskan disclaimer bahwa perbedaan data juga disebabkan perbedaan waktu pelaporan data oleh otoritas kesehatan nasional berbagai negara/wilayah. WHO sendiri memperbarui laporan COVID-19 mereka tiap pukul 10.00 Central Europe Summer Time (CEST) atau pukul 15.00 WIB.


Berbeda dengan John Hopkins, WHO memulai laporan situasi terkini virus corona sejak 20 Januari 2020. Waktu itu, laporan WHO menunjukkan 282 kasus terdeteksi di seluruh dunia. Kasus yang dideteksi merupakan laporan beberapa provinsi di China, 1 kasus di Jepang dan Korea Selatan, dan 2 kasus di Thailand.

Jika menilik dari data John Hopkins yang tidak berbeda sangat signifikan dari WHO di awal, sulit menyimpulkan bahwa China dan WHO memanipulasi data COVID-19. Perlu diperhatikan pula bahwa virus ini memiliki sifat sangat mudah menyebar sehingga hal ini dapat berpengaruh pada akurasi data di kedua lembaga tersebut. Lebih lanjut, penelitian mengenai virus ini juga terus dilakukan dan terus mengalami perkembangan.

Penting untuk menjadi perhatian, menurut catatan Statista dan laman resmi WHO (2018-2019), kontributor utama lembaga itu adalah Amerika Serikat, bukan China.

Klaim selanjutnya dari video itu adalah China dan WHO yang menyampaikan bahwa virus corona menyebar hanya dari hewan ke manusia, tidak bisa dari manusia ke manusia. Penelusuran kami menemukan bahwa pada 7 Februari 2020, dalam laporannya WHO telah menegaskan bahwa virus corona dapat menular antar manusia lewat kontak fisik dengan penderita COVID-19. Kontak yang dimaksud adalah paparan droplet dari penderita.

WHO juga menyampaikan bahwa investigasi yang ketat masih berlangsung terkait asal mula virus corona.

Klaim selanjutnya dari video itu adalah China sedang 'bermain' dengan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Keduanya dituduh menutupi fakta terkait fatalitas COVID-19 bahwa virus corona ini tidak terlalu mematikan.

Menurut data dari CDC, UN, WHO, New England Journal of Medicine, Malaysia Journal of Pathology, CGTN, John Hopkins University, The Lancet, Reuters, CIDRAP dan diolah Business Insider (arsip), fatalitas COVID-19 per 31 Januari 2020 di seluruh dunia adalah sebesar 2,2 persen. Namun, seiring bertambahnya jumlah kasus dan angka kematian, maka tingkat fatalitas/fatality rate dapat meningkat.

Sebagai catatan, tingkat fatalitas suatu wabah diperoleh dari perhitungan "(Jumlah kematian yang disebabkan penyakit tertentu pada periode tertentu / jumlah kasus dari penyakit tertentu) x 100”. Perhitungan tingkat fatalitas pun tidak terbatas pada “seluruh dunia” yang cakupannya sangat luas, namun juga bisa dihitung pada negara masing-masing.

Di Indonesia sendiri tingkat fatalitas COVID-19 berada di angka 8,37 persen pada 19 Maret 2020. Angka itu berada di atas tingkat kematian global sebesar 4,01 persen, per 18 Maret 2020. Padahal, kasus pertama di Indonesia baru diumumkan pada 8 Maret 2020.


Informasi selanjutnya yang disampaikan di video tersebut adalah di bulan Januari, China membeli 250 juta Alat Perlindungan Diri (APD) di seluruh dunia yang kemudian dijual lagi ke banyak negara dengan harga 10 kali lipat.

Berdasarkan penelusuran Tirto, China memang mengimpor banyak sekali masker dan APD ke negara mereka pada awal tahun ini. Beberapa negara yang melakukan impor itu termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. AS, misalnya, mengirim 17,8 ribu masker, alat bantu pernapasan (respirator), dan APD ke China pada Februari. Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari Indonesia mengekspor masker dengan nilai mencapai USD2,1 juta.

Pada Februari, nilai ekspor masker dengan kode HS 63079040 mengalami kenaikan hingga 34 kali lipat atau naik 3.480 persen, yakni mencapai USD70,2 juta. Sayangnya, baik Indonesia maupun AS mengalami kesulitan masker dan APD setelahnya.

Namun, kami tak menemukan informasi bahwa China menjual kembali APD dengan harga lebih tinggi. Catatan penting, pada Januari hingga Februari, China sendiri masih berupaya mengurangi kasus harian dan pasien positif COVID yang terus bertambah.

China diketahui melakukan suplai masker dan alat proteksi kesehatan pada April 2020 setelah munculnya kritik dari Belanda. Kritik itu muncul karena masker dari China yang diimpor ke Belanda tidak sesuai standar. Kritik terhadap kualitas barang kiriman seperti masker, APD, dan alat tes COVID juga datang dari Spanyol, Cheko, Turki, dan Britain.


Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sejumlah informasi yang ada dalam video akun Facebook Mardigu WP (arsip) dan akun Instagram @mardiguwp (arsip) bersifat salah sebagian (partly false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight