Menuju konten utama

Menguaplah Selagi Menguap Itu Menular

Seperti beberapa penyakit menular, kegiatan menguap bisa menular ke orang banyak. Sains mencoba menjelaskannya.

Menguaplah Selagi Menguap Itu Menular
Ilustrasi orang menguap. Foto/Getty Images/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anda pernah menguap setelah menyaksikan orang lain menguap? Bila jawabannya iya, berarti Anda bukan satu-satunya.

Profesor Psikologi, Robert Provine dari University of Maryland pernah punya pengalaman yang sama. Selama beberapa kali diundang menjadi pembicara dalam berbagai seminar, ia sering melihat mayoritas peserta menguap dalam waktu yang sama. Anehnya, ia pun ikut menguap setelah melihat kejadian itu.

Apa yang dialami Provine, juga dialami oleh sebagian besar orang. Menurut penelitian di NCBI, tujuh belas dari 18 orang dilaporkan menguap setelah menyaksikan sebuah video rekaman orang menguap.

Selain itu, menurut laporan di Psycology Today, sekitar 222 orang dari 328 orang dilaporkan menguap setelah menyaksikan rekaman video menguap berdurasi 3 menit. Mereka dilaporkan mampu menguap sebanyak satu hingga 15 kali.

Mengapa demikian?  Seperti dilansir dari BBC, tim dari Birkbeck College, University of London mengatakan bahwa meskipun kadang-kadang menguap adalah hasil respons terhadap stres yang ekstrim dan kelelahan yang berlebihan, tetapi alasan mengapa manusia menguap terkadang sulit dipahami.

Untuk mencari informasi lebih lanjut, pada tahun 2013, para ilmuwan di Zurich, Swiss mencoba meneliti 11 orang untuk menonton rekaman video, masing-masing dari mereka dipasangkan ke mesin Fungsional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) guna melacak aktivitas otak secara nyata.

Video tersebut menampilkan wajah manusia yang menguap, tertawa serta menampilkan wajah manusia tanpa ekspresi. Kebanyakan dari orang-orang tersebut menguap setelah menyaksikan wajah manusia yang menguap.

Para ilmuwan berteori bahwa menularnya menguap itu disebabkan oleh aktifnya bagian otak yang dinamakan inferior frontal gyrus yang terletak di sebelah kiri depan otak manusia. Bagian otak ini memiliki jaringan neuron cermin yang dapat mencerminkan gerakan orang lain.

Ketika kita meniru seseorang menguap, maka hal ini disebabkan oleh neuron cermin yang mensimulasikan tindakan dalam pikiran sehingga memengaruhi perilaku kita yang juga secara otomatis akan ikut menguap.

Selain itu, Dr. Gordon Gallup, seorang peneliti terkemuka dari University of Albany di New York mengatakan tujuan menguap adalah untuk mendinginkan otak agar dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga. Ia juga mengatakan, fenomena menularnya menguap itu merujuk pada ritual kuno yang menyebutkan bahwa menguap dapat membantu suatu kelompok agar tetap waspada dalam mendeteksi bahaya.

"Kami pikir menularnya menguap itu dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk mempertahankan kelompok dari kewaspadaan," kata Dr Gordon Gallup dikutip dari BBC.

Fakta di atas juga didukung oleh pendapat seorang psikolog, Robert Provine yang mengatakan bahwa pasukan terjun payung juga menguap secara serentak sebelum melompat dari pesawat. Menurutnya hal tersebut merupakan cara komunikasi yang paling halus dengan orang-orang di sekitar, mirip dengan kawanan burung terbang pada waktu yang sama.

Hal ini tidak terjadi pada manusia saja. Para ilmuwan juga menemukan bahwa menguap juga bisa menular pada anjing peliharaan. Untuk menguji teori itu, seorang psikolog Dr. Atsushi Senju bersama timnya melakukan penelitian dengan menciptakan dua kondisi.

Pertama, ia meminta seseorang untuk duduk dan menguap di depan anjing. Alhasil, anjing tersebut pun menguap.

"Kami memberi anjing segalanya: stimulus visual dan auditori untuk mendorong mereka untuk menguap," kata Dr Senju kepada BBC News.

Kondisi yang kedua, ia meminta orang itu untuk membuka mulut di depan anjing, tetapi tidak menguap. Alhasil anjing tersebut tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

Dari 29 anjing, sekitar 21 anjing yang ikut menguap. Hal ini membuktikan bahwa anjing hanya mengikuti atau meresepon seseorang yang menguap daripada hanya membuka mulut.

Para peneliti percaya bahwa hasil penelitian tersebut adalah bukti pertama bahwa anjing memiliki kapasitas untuk berempati pada manusia, meskipun tidak mengesampingkan bahwa menguap adalah hasil dari stres yang berkepanjangan.

"Anjing memiliki kapasitas yang sangat khusus untuk membaca komunikasi manusia," kata Dr Senju.

Infografik Menguap

Tak Menular Pada Anak Autis

Meski dinilai menular, menguap ternyata tidak dapat menular pada individu penderita autisme. Dr. Atsushi Senju mengatakan ada bukti bahwa menguap susah menular ke penderita autisme. Hal tersebut juga dipertegas oleh laporan NCBI yang mengatakan bahwa menguap tidak menular pada individu penderita autisme. Untuk sampai pada teori itu, mereka meneliti 24 anak autis dan 25 non-autis, yang sama-sama diminta mengamati sebuah rekaman video orang yang menguap.

Hasilnya menunjukkan bahwa rekaman video tersebut tidak menyebabkan anak-anak autisme menguap. Sementara anak-anak non-autisme menguap hampir selama seperti apa yang ada dalam rekaman video.

Para peneliti meyakini bahwa hal tersebut disebabkan karena terjadinya penurunan empati pada anak-anak penderita autisme. Menurut America Psychiatric Association, autisme atau yang dikenal dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan pervasif yang sangat memengaruhi sosial dan komunikatif, termasuk berempati.

Mengapa manusia menguap? Bisa dibilang studi pertama tentang menguap dilakukan oleh dokter asal Yunani, Hippocrates yang dilakukan hampir 2.500 tahun yang lalu. Dia percaya bahwa menguap dapat membantu seseorang melepaskan udara berbahaya, terutama selama demam.

Sementara menurut laporan Independent, para peneliti dari University of Vienna mengatakan bahwa menguap berfungsi untuk mendinginkan otak dan membantu untuk berpikir lebih jelas. Tidak ada hubungannya dengan kelelahan atau kebosanan.

Seperti komputer, otak juga memiliki suhu kerja optimal dan ketika otak terlalu panas, maka menguap dapat membantu untuk mendinginkan otak, meningkatkan denyut jantung, melancarkan aliran darah serta memberikan udara ke kepala.

Itulah mengapa orang-orang yang kurang tidur dan kelelahan bisa menguap karena kurangnya suhu di otak agar dapat membantu menjaga otak agar beroperasi pada suhu yang tepat. Maka jika Anda melihat seseorang menguap dan Anda ingin menguap, maka menguaplah selagi menguap itu menular.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Suhendra