STOP PRESS! Tim Penyidik KPK Geledah Kantor Bupati Kukar

Menengok Kota Gensan yang Pernah Dimatikan Menteri Susi

Menengok Kota Gensan yang Pernah Dimatikan Menteri Susi

Kota pelabuhan ikan tuna di Filipina ini limbung usai aktivitasnya dihambat kebijakan penenggelaman kapal asing oleh Susi Pudjiastuti.
04 September, 2017 dibaca normal 4:30 menit
Kota pelabuhan ikan tuna di Filipina ini limbung usai aktivitasnya dihambat kebijakan penenggelaman kapal asing oleh Susi Pudjiastuti.
tirto.id - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, acap menyebut General Santos ketika ia berbicara kesuksesannya memberantas pencurian ikan. Gensan adalah kota kecil di Pulau Mindanao, Filipina selatan. Gensan disebut-sebut sebagai ibu kota ikan tuna di Filipina.

Semua urusan tuna di Gensan diurus di Pelabuhan Ikan General Santos City. Letaknya 15 kilometer selatan dari pusat kota, tepatnya di Barangay Tambler, dan terletak di pinggir jalan nasional Sarangani-Cotabato selatan. Luas pelabuhan ini mencapai 32 hektare dan terdapat empat blok dengan belasan gudang besar.

Untuk menuju ke sana, kita bisa menumpang becak motor dari pusat kota, cukup membayar 30 peso atau Rp9 ribu. Pelabuhan ini menghadap ke Teluk Sarangani. Ombaknya relatif tenang tetapi lautnya agak dalam. Wajar jika banyak kapal dari bermacam ukuran, termasuk kapal kontainer, bisa berlabuh di dermaga Pelabuhan Gensan.

Lokasi Gensan memang strategis. Ia dekat dengan lokasi yang kaya ikan di Teluk Moro, Laut Sulu, Mindanao, dan Sulawesi. Filipina saat ini didapuk sebagai produsen terbesar tuna kalengan kedua di Asia setelah Thailand.

Mayoritas tuna dari Filipina dilabuhkan dan diolah di Gensan.

Terhitung sejak 2008 hingga 2014, hampir 89 persen dari total 1.012.488 metrik ton ikan di Gensan adalah jenis ikan tuna. Bagi Gensan, tahun 2014 adalah tahun keemasan. Hasil ikan pada tahun itu mencapai 101.480 metrik ton, rekor tertinggi selama 12 tahun terakhir. Hampir 47 persen tuna itu adalah tuna beku, yang 70 persennya berasal dari kapal asing.

Namun, capaian positif ini terhambat pada tahun itu ketika Presiden Joko Widodo memulai kekuasaannya dan menjadikan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Muasal kekusutan di Gensan diawali ketika Susi meneken kebijakan larangan transhipment (alih muatan) di tengah laut dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 57/2014, yang berlaku 12 November. Di sisi lain, Susi mulai menggalakkan perang terhadap pencurian ikan ilegal. Ia menenggelamkan beberapa kapal berbendera Filipina—di antara kapal asing lain—yang masuk perairan Indonesia. Ini bikin ciut nelayan Filipina.

Baca juga: Tenggelamkan Kapal Lagi, Bu Susi?

Setahun usai aturan Menteri Susi berlaku, hasil tangkapan tuna di Gensan turun drastis.

Penurunan ini bisa ditilik dari data ekspor tuna Kementerian Perdagangan Filipina. Data itu mencatat nilai ekspor tuna Filipina pada 2013 mencapai 52 juta dolar AS. Pada 2014 naik 43 persen menjadi 90,7 juta dolar AS. Namun, setelah kebijakan Susi, nilai ekspor itu anjlok drastis hingga -150 persen pada 2015 menjadi 36,3 juta dolar AS. Setahun berikutnya turun lagi -53 persen menjadi 23,7 juta dolar AS.

Data lain untuk melihat dampak aturan Susi terhadap Pelabuhan Ikan Gensan bisa dilihat dari statistik milik otoritas lembaga budi daya perikanan Filipina (PFDA). Lembaga ini saban bulan mencatat data keluar-masuk ikan yang dijual di sembilan pelabuhan ikan di Filipina termasuk Pelabuhan Gensan.

Data PFDA mencatat penurunan tajam ikan tuna di Gensan terjadi pada fase 2014-2015. Pendapatan metrik ton ikan cakalang anjlok 76 persen dari 50,417 metrik ton pada 2015 menjadi 28,658 metrik ton pada 2015. Begitupun ikan tuna sirip kuning yang diperuntukkan pasar domestik, turun -43 persen dari 8.289 metrik ton pada 2014 menjadi 5.794 metrik ton pada 2015.

Imbas paling drastis adalah volume ikan tuna sirip kuning grade A. Inilah ikan pilihan yang biasa diekspor ke Uni Eropa atau Jepang. Harga per kilonya bisa mencapai 400 peso atau Rp120 ribu. Berat satu ekor ikan tuna sirip bisa mencapai 100-300 kilogram. Pada 2014, ikan sirip kuning kelas A yang diolah di Gensan mencapai 3.279 metrik ton, tetapi angka ini anjlok hingga -77 persen menjadi 1.858 metrik ton pada 2015.

Bahkan, untuk kali pertama sejak 2008, dari Februari hingga Maret 2015, ikan tuna sirip kuning kelas A tidak masuk dalam 10 ikan yang diperjualbelikan di Pelabuhan Ikan Gensan.

Menengok Kota Gensan yang Pernah Dimatikan Menteri Susi

Kota Sentra Tuna dan Sentimen Anti-Indonesia

Sebagai kota sentra tuna, industri pengolahan tuna di Gensan amat tumbuh pesat. Ada delapan perusahaan besar yang beroperasi di Gensan: Amadeo Fishing, Atlantis Fishing Industries, Citra Mina Group of Companies, Frabelle Fishing Corporation, General Tuna Canning Corporation, Philbest Canning Corporation, RD Tuna Ventures Inc, dan San Andres Fishing Industries Inc.

Di kompleks Pelabuhan Gensan, kedelapan perusahaan besar ini diberi dermaga dan pasar khusus di blok 1, terpisah dari pemasok lain.

Perkiraan Kementerian Tenaga Kerja Filipina menyebut industri tuna Gensan mempekerjakan lebih dari 200.000 orang, di antara mereka bekerja sebagai nelayan, sebagian lagi di pabrik pengolahan ikan.

Marcelo, 24 tahun, merasakan getir pahit momentum saat tempatnya bekerja, Atlantis Fishing, harus merumahkan lebih dari 1.000 karyawan pada 2015-2016.

“Jika tidak ada ikan, lalu apa yang mesti kami kerjakan?” katanya. “Sejak Indonesia memperketat urusan di laut, nelayan kami tidak ada lagi yang berani melaut. Perusahaan pun tidak berani nekat karena takut kapal mereka ditenggelamkan.”

Sesudah kekalutan sepanjang 2015-2016, sentimen masyarakat Gensan terhadap sesuatu hal yang berbau Indonesia menjadi sedikit negatif.

Seorang perwira TNI dari tim pemantau perdamaian di Mindanao—pusat gerakan bersenjata dari kelompok-kelompok muslim Filipina selatan—yang ditempatkan di Gensan bahkan berkata harus melepas lencana bendera Indonesia pada seragamnya. Ia risih saat pergi berkeliling kota selalu dipandang penuh sinis dan benci oleh masyarakat Gensan.

“Ya, mungkin mereka masih dendam. Jaga-jaga saja,” katanya.

Baca soal konflik di Mindanao dan peperangan di Marawi dalam dua jilid serial laporan khusus Tirto:

Selamat Datang di Marawi, 'Kota Hantu' Penuh Peluru
Senjata Pindad Dipakai Kombatan ISIS Marawi 

Ketika saya mengunjungi Gensan City Fish Port Complex, sikap ketidaksukaan itu juga terasa. Saya datang saat petang hari. Suasana pelabuhan sudah tak seramai pagi atau siang hari. Beberapa gudang tutup dan lalu-lalang orang amat jarang. Kesibukan hanya terlihat di sekitar dermaga. Terlihat puluhan orang menurunkan ikan cakalang dari kapal Noorahman yang bersandar sedari pukul 3 sore.

“Untuk apa Anda ke sini?” hardik seorang kuli yang memindahkan ikan dari kapal ke gudang. Nada suaranya meninggi ketika saya memperkenalkan diri sebagai jurnalis dari Indonesia.

“Karena kebijakan pemerintah Anda, kehidupan kami menjadi berubah,” katanya, kesal.

Melihat rekannya menggerutu, beberapa kuli tersenyum kecut. Namun, mereka tetap bersikap tenang, ramah, dan mau diajak berbincang sejenak.

Si penggerutu itu ternyata pernah ditangkap oleh Angkatan Laut Indonesia pada akhir Maret 2015 dan dibebaskan pada 2 Juni 2015.

“Selama di penjara, tentara Indonesia menyiksanya, mungkin karena itu dia kesal kepada Anda,” ucap Marcos seraya tertawa, seorang nelayan yang tinggal di Calumpang yang sore itu perahunya baru bersandar.

“Ada banyak di sini yang pernah ditangkap. Dan mereka sepakat untuk tidak ingin tertangkap lagi. Untuk bisa bebas, kami butuh uang (ongkos untuk pulang) yang banyak,” katanya.

Sampai Juni 2017, setidaknya sudah ada 200-an nelayan Filipina yang ditangkap dan direpatriasi oleh otoritas Indonesia. Banyak dari mereka ditahan di Ternate, Maluku, atau Bitung, Sulawesi Utara.

Pada saat Kongres Nasional Tuna ke-17 pada 2015, Adrian Cristobal Jr.—saat itu Wakil Menteri Perdagangan Filipina—berharap negara di Asia Tenggara dan Pasifik, khususnya Indonesia dan Papua Nugini, membantu mengatasi krisis pasokan yang memengaruhi industri tuna.

“Kerja sama regional saat ini merupakan solusi paling tepat untuk mengatasi masalah pasokan dengan tuna,” kata Cristobal, yang diangkat Menteri Perdagangan pada Januari 2016.

Alih-alih melihat ASEAN dan Asia Pasifik sebagai daerah yang saling bersaing merebutkan tuna, ia menganggap akan lebih potensial jika ada saling kerja sama antar-negara.

“Kami dapat menawarkan bantuan kepada PNG dan Indonesia dalam hal adopsi teknologi dan peningkatan teknis dengan imbalan, (sebagai gantinya) kami diberi akses ke tempat penangkapan ikan tuna,” katanya, seperti dikutip dari Sun Stars.

Dampak kebijakan Susi terhadap industri tuna di Gensan dibenarkan oleh Manajer Pelabuhan Ikan Gensan, Luisito Romeo M. Correa.

Correa mengatakan, meski sempat terpukul, kini semua telah kembali berjalan normal. “Berdampak, iya. Tapi tidak sebesar seperti yang Anda bayangkan,” katanya.

Ketika ditanya dari mana sumber-sumber ikan itu, dan apakah tetap dari Indonesia, Correa menjawab dengan lugas, “Tentu saja tidak. Kami sudah mendapatkan tempat eksploitasi baru di laut lepas Davao Oriental.”

Soal klaim "semua telah kembali normal" ini ia mempersilakan saya melihat data statistik terbaru mengenai perikanan di Gensan, yang dirilis Kementerian Perdagangan dan Otoritas Pelabuhan.

Usai anjlok pada 2015, statistik penangkapan tuna di Gensan memang relatif kembali naik pada 2016. Hasil ikan tuna sirip kuning kembali naik menjadi 8.146 metrik ton. Begitupun ikan tuna sirip kuning untuk ekspor yang mencapai 2.779 metrik ton. Angka-angka ini tak berbeda jauh ketika 2014, sebelum krisis terjadi.

Tren positif juga terjadi pada 2017. Sampai semester pertama, Juni 2017, tangkapan ikan cakalang yang didapat dari kapal asing mencapai 48.569 metrik ton. Angka ini malah melampaui rentang yang sama pada 2014 yang hanya berkisar 41.778 metrik ton.

Begitupun hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning kelas A, yang lebih banyak dua lipat dari 1.270 metrik ton pada 2014 menjadi 2.453 metrik ton pada semester pertama 2017.

Meski Menteri Susi Pudjiastuti berkata kepada redaksi Tirto pada Juli lalu bahwa ia “tidak peduli” dengan apa yang terjadi pada Gensan—“yang penting tidak nyolong ikan kita,” katanya—dua tahun setelah industri ikan di kota ini limbung akibat kebijakannya, kini Gensan mencoba kembali bangkit.

Baca juga artikel terkait GENSAN atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - wam/fhr)

Laporan 1: Menengok Kota Gensan yang Pernah Dimatikan Menteri Susi
Laporan 2: Derita Para Nelayan WNI di Gensan, Filipina Selatan
Laporan 3: Menteri Susi: Apa yang Terjadi di Gensan, Bukan Urusan Kami!
Laporan 4: Kritik atas Kebijakan Menteri Susi di Industri Ikan Tuna

Keyword