Mendekati Atta Halilintar, Memburu Pemilih Remaja di Jagat YouTube

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 28 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Target: swing voters di kalangan generasi Z (kelahiran 1995-2010) yang betah menonton kelakuan para influencer di YouTube. Asshiaapp!
tirto.id - Senyum Joko Widodo terlihat lebar saat berfoto dengan Atta Halilintar di Istana Kepresidenan RI Bogor. Atta mengunggahnya di akun Instagram pribadi pada Rabu (20/3/2019). Keduanya sama-sama mengenakan hoodie hitam AHHA, merek pakaian bikinan Atta sendiri.

“Bhinneka Tunggal Ika Id #MrPresident #AGGAgang #AHHANusantara ASHIAAAAAAAPPPPPP”, demikian keterangan yang dibubuhkan YouTuber dengan jumlah subscriber terbanyak di Asia Tenggara itu.

Politikus lain turut bergerilya di dunia YouTube. Mereka memproduksi konten sembari mendekati para influencer, atau figur-figur yang memiliki banyak pengikut. Tapi, menurut pengamat politik sekaligus dosen UNY Halili Hasan, belum ada yang seberhasil Jokowi.

“Dari caranya merebut pasar milenial di dunia digital, kita harus akui dia beberapa langkah lebih maju dibanding yang lain—bahkan politisi muda sekalipun. Orang lain belum atau baru menyentuhnya, Jokowi sudah melakukannya,” kata Halili melalui sambungan telepon, Rabu (26/3/2019).

Halili mengungkapkan alasannya karena Jokowi mampu memanfaatkan sumber daya yang ada agar konten videonya terlihat profesional.

“Salah satu yang paling saya ingat adalah video tentang mudik. Dia menunjukkan infrastruktur yang dia bangun tidak hanya bermanfaat untuk mengurai kemacetan, sebagai masalah klasik di periode-periode sebelumnya, tapi juga menunjukkan bahwa hasil pembangunannya terlihat estetis.”

Jika dibandingkan dengan Sandiaga Uno, misalnya, Halili melihat Jokowi masih lebih unggul. Ia mengamati ada dua masalah utama.


Pertama, pencalonan Sandiaga sebagai wakil presiden tergolong agak terlambat. Waktu untuk membangun elektabilitas pun lebih mepet. Selama mendampingi Anies ia sibuk menjawab nyinyiran warga soal janji-janji semasa kampanye.

“Kedua, Sandi barangkali merasa usia mudanya otomatis bisa dipakai untuk menarik pemilih muda. Ini kurang tepat. Milenial kita itu tidak akan bereaksi jika tidak disentuh duluan. Representasi mereka juga bukan hanya cerminan usia.”

Pencapaian Jokowi tidak diraih secara instan. Kanal Presiden Joko Widodo pertama kali terdaftar di YouTube pada 6 Mei 2015, tak lama setelah ia dilantik sebagai orang nomor satu di Indonesia. Setelah sempat menganggur selama satu tahun, video pertama akhirnya diunggah pada 27 Juli 2016.

Tema kontennya beragam. Mulai dari kunjungan kerja ke daerah, meninjau atau meresmikan proyek infrastruktur, atau pidato di podium-podium. Untuk yang lebih personal, Jokowi mengunggah video vlog bertagar #JKWvlog. Vlog ini lebih banyak ditonton ketimbang video mengenai kebijakan pemerintah.

Halili mengamati porsi vlog bertagar #JKWvlog hampir sama besarnya dengan video terkait tugas Jokowi selaku presiden. Video-video serius tentang infrastruktur ditujukan untuk pemilih kelas menengah yang kritis. Sementara vlog bertagar #JKWvlog ditujukan untuk masyarakat Indonesia yang “melodramatis”.

“Orang-orang melodramatis ini suka disuguhi hal-hal yang privat, keseharian, menyenangkan. Contohnya saat dia menimang cucu. Itu kan menyentuh bagi banyak warga perdesaan, misalnya, yang memiliki perhatian tinggi dengan keluarga.”


Untuk urusan pendekatan kepada influencer, Jokowi sudah tancap gas sejak dua tahun silam. Pada Agustus 2016, contohnya, ia mengundang beberapa pesohor YouTube ke Istana Merdeka untuk beramah tamah.

Andovi da Lopez, Fathia Izzati, Cheryl Raissa, Natasha Farani, dan YouTuber lain yang kala itu sudah memiliki ratusan ribu subscriber diajak makan siang bersama. Para YouTuber tersebut, saat itu, rata-rata berusia 20 hingga 30-an.

Salah satunya adalah Arief Muhammad. Dalam vlognya ia merekam pernyataan Jokowi yang berkata bahwa percuma terus-menerus membuat konten serius tentang kebijakan pemerintah jika tidak ada yang menonton. “Yang kita buat, yang anak muda senang. Dunia remaja. Dunia anak muda.”

Dalam dua kesempatan lain Jokowi mengajak beberapa YouTuber untuk mengikuti kunjungan kerja. Rombongan diterbangkan ke Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Mereka diajak melihat pemandangan di sekitar waduk baru hingga melawat ke pos perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Khusus dengan Atta, pada April tahun lalu Jokowi pernah mengundangnya ke Istana Presiden. Atta tidak datang dan membuat vlog sendirian, melainkan bersama seluruh anggota keluarga Gen Halilintar.

Gen Halilintar adalah keluarga asal Minangkabau yang kini menetap di ibukota. Mereka populer bukan karena jumlah anaknya yang mencapai 11 orang, tapi karena sukses membangun kerajaan bisnis lintas-platform. Masing-masing anggota juga aktif sebagai YouTuber yang kini memiliki total belasan juta subscriber.


Pengaruh mereka besar untuk menjangkau khalayak luas, khususnya generasi muda. Halili tidak hanya mengkategorikannya sebagai milenial saja, karena sebagian di antaranya sudah mulai menua. Porsi pemilih yang tak kalah krusial, paparnya, adalah dari kalangan Generasi Z.

Mereka yang digolongkan sebagai Generasi Z adalah yang lahir antara tahun 1995-2010. Berbeda dengan Pilpres 2014, Halili mengamati banyak generasi Z yang sudah memiliki hak pilih pada Pilpres 2019 tapi belum memantapkan dukungan ke salah satu pasangan calon.

“Istilahnya swing voters atau undecided voters. Mereka ini jumlahnya banyak, dan memandang YouTuber seperti Atta sebagai influencer. Influencer ini tentu turut memengaruhi ke mana pilihan mereka pada pencoblosan nanti. Entah memantapkan, atau malah mengubah,” kata Halili.

Menariknya, Atta juga mengunggah foto bersama Sandiaga selang beberapa hari setelah mengunggah foto bersama Jokowi. Sandiaga nampaknya tak mau melewatkan kesempatan untuk menggaet dukungan dari barisan penggemar Atta.

Sandiaga sama-sama memakai hoodie hitam merek AHHA. Ia dan Atta berdampingan dalam pose hormat ala tentara ke arah kamera. Keterangan fotonya lebih panjang dibandingkan keterangan foto bersama Jokowi.

“ASHIAAAAAPPP!!!! Ceritanya Dua pengusaha mudaaa bertemu satu panggung... tapi tetep mudaan aku dikit... umur kita beda tipiss lah, cuman hampir 30 tahun lah bang, tpi yang ubanan aku ya.”


Halili kemudian teringat Ahmad Zaky, pendiri dan CEO situs jual-beli online BukaLapak. Zaky pernah terseret keributan online karena cuitannya di Twitter tentang minimnya dana riset dan pengembangan Indonesia, juga harapan agar presiden baru bisa menaikkan jumlahnya.


Infografik Hae gais This is yo presiden in da house
Infografik Hae gais This is yo presiden in da house. tirto.id/Nadya



Meski sudah mengakui kesalahannya serta meminta maaf, Zaky tetap dipandang telah menyerang Jokowi. Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, menilai Zaky seperti "kacang lupa pada kulitnya" karena selama ini Jokowi dinilai telah memberikan banyak bantuan pada BukaLapak.

Halili memandang Zaky dan Atta sebagai pebisnis yang sedang bermain di dua kaki. Keduanya punya imajinasi sendiri tentang cara mengembangkan usaha. Alih-alih bersikap fanatik pada salah satu paslon, mereka lebih memprioritaskan soal bagaimana cara untuk mengamankan investasi di masa depan.

“Politik, kan, sangat dinamis. Kadang berseberangan, kadang berkoalisi. Pilpres ini urusan lima tahunan. Meski ada jarak sampai dua digit sekalipun, elektabilitas kemarin itu belum final. Dari beberapa survei juga terlihat ada penurunan di paslon pertama, sementara paslon kedua mulai agak menanjak.”

Dalam kondisi yang demikian, lanjutnya, Atta maupun Zaky tidak mau terlalu gambling. Fokus utama Atta adalah rombongan penglaris baju-baju AHHA, juga jumlah pengikutnya di media sosial. Zaky pun demikian. Ia mesti menjaga pangsa pasarnya yang kebanyakan berasal dari konsumen kelas menengah.

“Jika menunjukkan keberpihakan yang terlalu dalam, yang dipertaruhkan adalah bisnis mereka. Justru dengan tidak terlalu ideologis atau fanatik, maka ruang untuk bertransaksi tetap terjaga seluas-luasnya.”

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight