Membuka dan Mendengar Dunia dengan Aplikasi Disabilitas

Ilustrasi aplikasi digital untuk tunanetra dalam bentuk audio book dari Ayobaca.in. FOTO/Ayobaca.in
Oleh: Ahmad Zaenudin - 6 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Aplikasi-aplikasi disabilitas memang kian berkembang, tapi apakah sudah mampu membantu para difabel?
tirto.id - Louis Braille menjadi tuna netra sejak berumur 3 tahun. Ia terkenal sampai saat ini karena kemampuannya menciptakan sistem huruf Braille pada 1826. Braille mengubah huruf konvensional menjadi suatu kombinasi titik-titik timbul pada bidang datar. Penemuan huruf Braille membantu penyandang tuna netra mampu membaca dengan alat khusus.

Namun, alat atau teknologi terus berkembang. Braille kini tak hanya bisa digunakan via media kertas, tetapi juga perangkat teknologi, khususnya komputer.

Penyandang tuna netra, dapat menggunakan perangkat keras tambahan untuk dapat menggunakan komputer. Jurnal berjudul “Braille Touch: Mobile Texting for the Visually Impaired” karya Brian Frey dari Georgia Institute of Technology mengatakan beberapa perangkat tambahan antara lain Braille Sense Plus atau Refreshabraille 18. Perangkat-perangkat itu menterjemahkan teks konvensional jadi huruf Braille.

Sayangnya, harga perangkat tersebut relatif mahal. Harga Braille Sense Plus di kisaran $6.000 dan Refreshabraille 18 berharga $1.700. Teknologi ini kurang pas ketika digunakan pada perangkat berlayar penuh seperti tren di dunia smartphone, seperti mengambil foto selfie ataupun membaca linimasa Facebook.

Studi berjudul “How Blind People Interact with Visual Content on Social Networking Services” (2016) hasil kerja sama Facebook dan Cornell University, mengungkapkan bahwa penyandang disabilitas, khususnya tuna netra, berupaya menggunakan teknologi sama seperti orang-orang pada umumnya, seperti memainkan media sosial.



Wawancara mendalam terhadap 11 individu dan survei terhadap 60 responden tuna netra menghasilkan temuan bahwa semua responden memainkan Facebook. Sebanyak 60 persen responden memainkan Twitter dan 22 persen responden memainkan Instagram.

Penyandang tuna netra mem-posting foto, video, maupun mengupdate status. Namun, mereka melakukannya dengan intensitas yang lebih sedikit dibandingkan orang lain. Saat menggunakan smartphone, kaum tuna netra menggunakan fitur tambahan seperti screen reader dan screen magnifiers. Salah satu screen reader yang banyak digunakan ialah VoiceOver buatan Apple.

Melalui VoiceOver, kalangan tuna netra pengguna smartphone melakukan hampir segala kegiatan di perangkat itu. Memakai WhatsApp misalnya. Segala tombol yang ada di WhatsApp bahkan pesan yang ada di dalamnya, dibacakan oleh VoiceOver untuk sang tuna netra.

VoiceOver merupakan fitur pembaca segala tulisan maupun tombol yang ada di layar perangkat-perangkat Apple. Ia hadir secara langsung di perangkat Apple. Fitur ini mampu membaca 0,66 kata per menit dan hadir pertama kali di sistem operasi Mac, OSX 10.4, pada 2005 silam. Pada 2009 VoiceOver hadir pada perangkat iPhone dalam seri iPhone 3GS dan iPod varian Shuffle. Pada 2010, saat iPad pertama kali diluncurkan, VoiceOver juga disematkan pada perangkat ini.

Pada perangkat berbasis Android, VoiceOver diganti TalkBack. Di perangkat lawas Nokia, ada Nuance yang membantu kaum tuna netra.

Sayangnya, aplikasi seperti VoiceOver, TalkBack, maupun Nuance dianggap kurang dapat merepresentasikan apa yang terlihat di layar pada smartphone. Dalam konteks internet, penelitian ini menyebutkan bahwa konversi situsweb yang berbentuk dua dimensi sukar diinterpretasikan dengan efektif ke dalam bentuk satu dimensi suara.

“Menjadi lebih sukar pada situsweb dengan konten grafis, elemen dinamis, atau scrolling page yang tak terhingga,” sebut studi tersebut.



Disabilitas dan Aplikasi

Upaya menghadirkan teknologi digital untuk membantu para disabilitas sudah semakin berkembang. Misalnya saja, saat melakukan pencarian di Google dengan kata kunci “tuna netra” atau “tuna rungu”, muncul aplikasi-aplikasi yang dapat membantu mereka.

Publik di Indonesia pun tak ketinggalan membuat versi lokalnya. MAS Jawa T-Netra alias “Money Android Scanner jawaban Masalah Tunanetra” dan Deaf Communicator, adalah contoh aplikasinya. MAS Jawa merupakan aplikasi bagi penyandang tuna netra untuk memindai nilai mata uang dengan teknologi bernama OCR atau Optical Character Recognition. Ketika aplikasi diarahkan pada uang, aplikasi tersebut akan menyebut nilainya.



Aplikasi Deaf Communicator merupakan aplikasi yang membantu tuna rungu untuk mengetahui apa yang dibicarakan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, dapat digunakan bagi penyandang tuna netra berkomunikasi dengan orang normal.

“(Menggunakan Deaf Communicator) bisa mengetahui apa yang dibicarakan orang normal. Tuna rungu yang tak bisa bicara, bisa mengeluarkan suara,” kata Wendy Liga, pembuat aplikasi Deaf Communicator kepada Tirto.

Aplikasi-aplikasi yang membantu penyandang disabilitas buatan Indonesia umumnya merupakan hasil pengembangan kalangan mahasiswa. Wendi mengatakan bahwa Deaf Communicator merupakan tugas skripsi di STIKOM Dinamika Bangsa, Jambi. Ia terus mengembangkannya usai lulus kuliah.

“Itu dari skripsi kuliah, nyari topik yang bisa bantu masyarakat. Kebetulan pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan tuna rungu,” kata Wendy atas aplikasi yang memperoleh nilai B+.

MAS Jawa T-Netra pun serupa. Aplikasi tersebut dikembangkan oleh Yuyu Wahyudin dari Universitas Diponegoro. Aplikasi lainnya, bernama AMR, aplikasi pemindai bagi orang tuna netra, dikembangkan oleh Dudin Mukhtar dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Sayangnya, kedua sosok pencipta aplikasi tersebut tak menjawab ketika dihubungi.

Sebagai aplikasi buatan mahasiswa, pengembangan aplikasi masih terbatas. Wendy mengembangkan Deaf Communicator dengan uang pribadi. Padahal, membuat aplikasi seperti ini perlu waktu dan sumber daya yang tak sedikit. Wendy sampai harus datang ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di kotanya untuk mencoba aplikasi itu. Agar aplikasi dapat benar-benar bermanfaat bagi penyandang tuna rungu.


Baca juga artikel terkait DISABIITAS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight