Menuju konten utama

Megibung Saat Ramadhan: Tradisi Bali Menyatukan Perantau

Tradisi megibung awalnya diperkenalkan oleh Raja Karangasem yang bernama I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1692 Masehi.

Megibung Saat Ramadhan: Tradisi Bali Menyatukan Perantau
Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pulau Dewata menyuguhkan cara yang berbeda untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan. Salah satu dari tradisi Bali yang diadopsi menjadi cara berbuka puasa adalah Megibung atau makan secara bersama-sama pada satu wadah yang sama. Sambil melahap makanan yang tersaji, orang-orang tersebut dapat berbincang satu sama lain meskipun tidak saling mengenal.

Menjelang berbuka puasa pada Minggu (8/3/2026), Masjid Baitul Makmur tampak ramai. Dari halaman masjid, tercium aroma rempah dan kambing guling yang sedang dimasak. Beberapa pengurus masjid bergerak menata daun-daun pisang di halaman masjid. Nantinya, nasi berempah dan kambing guling yang telah dimasak akan diletakkan di sana.

Selang beberapa saat, azan dikumandangkan sebagai tanda waktu berbuka puasa telah tiba. Jemaah yang sudah berkumpul di lapangan depan masjid mulai masuk ke dalam, lalu duduk di sepanjang daun pisang tersebut secara berhadap-hadapan. Mereka mulai memakan hidangan yang diletakkan di atas daun pisang tersebut dengan lahap, bahkan tandas dalam waktu singkat.

Buka puasa di Masjid Baitul Makmur

Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Namun, bukan hanya perut kenyang yang dirasakan oleh jemaah yang bertandang ke Masjid Baitul Makmur petang hari itu. Mereka saling berbincang dengan rasa kekeluargaan dan keakraban yang tinggi seusai makan. Momen tersebut cukup langka dan hangat untuk dirasakan.

“Kehangatannya dapat, terlebih sama-sama perantau. Saya baru pertama kali merasakan pengalaman megibung begini, baru di masjid ini saja. Ternyata seru berbuka puasa dengan cara begini,” kata Ida (37), salah satu jemaah yang merasakan Tradisi Megibung di masjid Baitul Makmur, Minggu (8/3/2026).

Ida datang ke Masjid Baitul Makmur bersama dengan suaminya, Sakuri (45), serta dua orang anaknya. Kedatangan Ida sebenarnya tidak disengaja karena dia baru saja menjemput anaknya yang pulang dari pondok pesantren. Saat mendekati jam berbuka puasa, dia mencoba untuk berhenti di Masjid Baitul Makmur untuk beribadah sejenak.

“Saya melihat antusiasme masyarakatnya tinggi. Sangat meriah dan seru sekali. Kalau bisa, setiap tahun diadakan terus,” ucapnya.

Cerita lainnya datang dari Olive (35) yang berasal dari Jember. Berbeda dengan Ida dan keluarganya, Olive rutin mengunjungi Masjid Baitul Makmur untuk berbuka puasa dengan Tradisi Megibung. Dia mengaku senang karena dapat berkenalan dengan orang-orang lainnya yang berasal dari berbagai daerah.

“Saya merasa sangat senang bisa megibung bersama dan bersilahturahmi dengan semua orang. Bukan hanya di desa setempat saja, tetapi semua kalangan juga datang ke sini. Ini keistimewaan yang luar biasa, tetap membawa konsep dan tradisi Bali untuk diterapkan dalam buka bersama,” ungkap Olive.

Buka puasa di Masjid Baitul Makmur

Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Olive melihat antusiasme yang cukup tinggi datang dari jemaah Masjid Baitul Makmur terhadap buka puasa dengan cara Megibung tersebut. Hal tersebut terlihat dari porsi yang disediakan oleh panitia pada Minggu (8/3/2026), yakni 1.000 porsi nasi berempah dan kambing guling.

“Semoga akan ada lagi. Saya merasa senang karena ramai dari semua kalangan,” imbuhnya.

Tradisi Turun Temurun di Pulau Dewata

Tradisi Megibung awalnya diperkenalkan oleh Raja Karangasem yang bernama I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1692 Masehi. Saat itu, Raja Karangasem telah menaklukkan raja-raja yang ada di tanah Lombok dalam ekspedisinya. Ketika beristirahat dari peperangan, sang raja meminta semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar.

Untuk umat Hindu, tradisi ini biasanya dilangsungkan ketika terdapat upacara adat dan keagamaan di suatu tempat, misalnya upacara pernikahan, tiga bulanan, atau hajatan lainnya. Namun, tradisi ini lantas diadopsi dan dipertahankan oleh umat muslim yang berada di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar.

Masjid yang telah berdiri sejak 1987 ini memulai Tradisi Megibung sejak tahun 2017, dengan merangkaikan Megibung dengan kegiatan besar Festival Ramadan. Menurut Sekretaris Yayasan Baitul Makmur Denpasar, Mohammad Ali, mengungkap Tradisi Megibung mirip dengan kenduri atau jamuan makan bersama untuk memohon berkah atas suatu peristiwa.

“Karena kita ada di Bali, kita ingin merawat tradisi, mengangkat kearifan lokal sehingga kebiasaan yang ada di muslim juga identik dengan apa yang khas di Pulau Bali ini. Kita sama-sama makan, dalam kondisi setara dan bersama-sama bahagia. Itu yang kita tuju untuk buka bersama setiap tahunnya,” terang Ali ketika ditemui Tirto di Masjid Baitul Makmur Denpasar, Minggu (8/3/2026).

Buka puasa di Masjid Baitul Makmur

Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Ali mengatakan, antusiasme jemaah dalam mengikuti Megibung terbilang tinggi, bahkan jemaah cenderung menunggu Megibung untuk diadakan di Masjid Baitul Makmur setiap tahunnya. Akibat antusiasme tersebut, pihak masjid mengadakan tiga sampai empat kali Megibung dalam satu tahun dengan hidangan sebanyak 800 hingga 1.000 porsi.

“Hari ini adalah seri ketiga dengan tiga kambing guling, luar biasa antusiasme jemaah untuk hadir di sini. Ini memang suatu bentuk dari pengurus untuk memberikan kebahagiaan bagi jemaah yang ingin berbuka puasa bersama,” tuturnya.

Persiapan untuk rangkaian Festival Ramadan sudah dilaksanakan lima bulan sebelum bulan Ramadhan. Tidak hanya takmir atau pengurus masjid saja yang terlibat, tetapi juga pemuda dan remaja, serta para ibu-ibu. Ali menyebut, pihak Desa Tegal Kertha dan lingkungan setempat, serta pecalang juga mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan menyambut bulan suci tersebut.

Dalam Masjid Baitul Makmur, lokasi Megibung tersebar ke tiga titik, yakni lobi masjid, di lantai satu bagian dalam, serta outdoor. Dengan persebaran lokasi tersebut, Ali mengeklaim jumlah tempat yang disediakan cukup memadai untuk melaksanakan kegiatan Megibung di lingkungan masjid.

“Akibat antusiasme tersebut, terkadang lebih banyak jemaah daripada ketersediaan untuk iftar atau takjil. Itu memang tinggi antusiasme dari jemaah. Oleh sebab itu, pada saat akhir tahun, kami melakukan evaluasi untuk mencari solusi dan letak kendala dari pelaksanaan kegiatan,” ujar Ali.

Buka puasa di Masjid Baitul Makmur

Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Sementara itu, Yus Subianto, Ketua Festival Ramadan Masjid Baitul Makmur, mengungkap menu yang disediakan pihak masjid dalam acara Megibung beragam setiap momennya. Namun, yang paling sering digunakan adalah kambing guling, nasi biryani kebuli, dan nasi mandi. Pada Minggu (8/3/2026), menu yang digunakan adalah nasi kambing guling dengan total 1.500 porsi.

“Kami tidak menduga ada banyak yang datang, bahkan dari luar Denpasar Barat. Ada yang dari Jimbaran, dari Gianyar, bahkan beberapa yang kemarin dari Nusa Dua juga ada,” beber Yus.

Yus mengungkap, pemilihan menu nasi biryani dan kambing guling dikarenakan menu tersebut tidak biasa tersedia di warung-warung setempat dan memiliki harga yang cukup mahal. Pihak masjid ingin memberikan kesempatan bagi warga yang kurang mampu atau jarang mengonsumsi makanan itu untuk mencobanya di bulan Ramadan.

“Filosofi dari megibung ada gotong royong, keadilan, dan kepedulian. Maka, kami sebagai umat Islam yang ada di Bali, tinggal di Bali, melaksanakan suatu kebaikan yang sudah dilaksanakan dari nenek moyang penduduk Bali sendiri,” katanya.

Buka puasa di Masjid Baitul Makmur

Kegiatan megibung yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Bali, Minggu (08/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Masjid Baitul Makmur masih akan melaksanakan Tradisi Megibung pada tahun mendatang. Yus berharap, Masjid Baitul Makmur bisa menjadi teladan bagi jemaahnya, serta membawa pesan yang terkandung dalam filosofi Megibung itu sendiri atau semuanya setara karena makan dari wadah yang sama.

“Ini adalah hasil dari kebaikan, menawarkan sesuatu yang baik pada semuanya, dan tidak memandang apa pun posisinya. Bagi jemaah, mereka cenderung menikmati kebersamaan itu. Makan di alas yang saja, duduk bersama, sehingga menimbulkan rasa kebersamaan dan kepedulian untuk orang lain,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang