Meester Cornelis Babat Alas Jatinegara

Oleh: Petrik Matanasi - 31 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Dari dialah ada nama jalan Meester Cornelis di Jakarta.
tirto.id - Di zaman penjajahan, sudah ada orang terpelajar di Makassar. Tak tanggung-tanggung, dia adalah raja yang berkuasa di Tallo. Karaeng Pattingalloang namanya. Orang ini bisa jadi adalah orang Indonesia pertama yang punya koleksi peta kuno, globe, dan teropong bintang karena minatnya pada ilmu pengetahuan. Dia memilikinya bukan melulu untuk pamer.

Sezaman dengan Karaeng Pattingalloang, di Betawi juga ada pribumi terpelajar, Cornelis Senen. Dia bukan seorang raja seperti Pattingalloang, melainkan guru agama dan penerjemah. Tak semua orang pribumi bisa jadi guru di tahun 1600an.

“Cornelis Senen berasal dari keluarga orang kaya dari Selamon di Pulau Lontar, Kepulauan Banda,” tulis Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016). Menurut Willard Hanna dalam Hikayat Jakarta (1988), “mungkin sekali ia seorang peranakan Portugis dan dibesarkan dengan menganut kepercayaan Kristen.”

Jika Pattingalloang lahir sekitar 1601 menurut Th. van den End dalam Ragi Carita 1 (1980), Senen terlahir tahun 1600. Dia tiba ke Betawi tahun 1621, “setelah pulau-pulau [sekitar Banda] itu diduduki Belanda.” Belanda yang dimaksud adalah maskapai dagang Hindia Timur alias Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang dikenal sebagai pemonopoli rempah-rempah. Senen datang bersama-sama orang Banda lainnya—termasuk yang dijadikan budak.

Belakangan, orang-orang Banda juga punya kampungnya sendiri di Jakarta, yakni Kampung Banda. Di tahun 1600an, wilayah tersebut masih tergolong sebagai “di luar kota.” Bagi masyarakat di kampung itu, kemudian, Senen dianggap tokoh masyarakat, mirip Tuan Guru yang sangat dihormati di daerah-daerah berbasis Islam. Bedanya, Senen adalah guru agama Kristen.

Menurut Pendeta Heurnius, seperti ditulis Heuken, “Senen pandai dan Saleh.”

“Ia membuka sekolah pertama untuk anak pribumi di Jakarta (1632).” Selain itu, “ia juga menjadi pengkhutbah dalam bahasa Melayu dan Portugis.” Sebagai orang terhormat dalam bidang agama dan kemasyarakatan, ia pun disapa Meester (baca: mister).

Menurut catatan Th. van den End, dia menjadi “guru jemaat bagi penduduk Kampung Banda di Batavia. Tetapi ia adalah seorang yang bijaksana dan saleh dan oleh karena itu ia diberi tugas lebih luas yaitu pelayanan bagi orang-orang Merdeka dan Portugis.” Kegiatan lainnya, di sela-sela mengajar, “ia meninjau sekolah-sekolah, mendidik dan menguji guru-guru dan memeriksa calon-calon baptisan, berkhotbah dan memberi katekisasi.”

Meski begitu, predikat pendeta penuh tak pernah melekat padanya. “Ia diangkat menjadi calon pendeta, dan itu jabatannya sampai kematiannya,” tulis End. “Karena beberapa pendeta Belanda iri, maka Cornelis tidak diangkat menjadi pendeta, walaupun lulus ujian dan didukung oleh Gubernur Jenderal.”

Versi lain, seperti ditulis End, “Dalam ujian itu ternyata pengetahuannya kurang. [...K]arena ia tidak menikmati pendidikan gaya barat dan tidak mengenal seluk-beluk pemikiran teologika barat, ia tidak dapat diberi kedudukan yang setingkat dengan pendeta-pendeta Belanda.”

Meski demikian, pendeta-pendeta kebanyakan dan orang-orang Belanda juga menghormatinya. Kebetulan, pemerintah VOC di Betawi mula-mula banyak yang menentang pengangkatannya. Orang-orang Belanda yang punya otoritasnya, nampaknya juga “tidak suka kalau seorang Mardijker [bekas budak yang sudah merdeka] menjadi anggota majelis.”

“Meester Cornelis bersabar dan bekerja terus tanpa memprotes,” kata End. Senen tetaplah “gembala jemaat yang sangat baik. Ia berbakat juga, belajar bahasa Portugis degan baik sekali. Mengenai bahasa itu maupun mengenai anggota-anggota jemaat Merdeka dan Melayu selalu minta nasihatnya.”

Status calon pendeta hingga akhir hayatnya itu bukan masalah baginya. “Ia tetap memimpin umatnya dan menerjemahkan buku-buku agama ke dalam bahasa Melayu,” tulis Heuken.

Selain sebagai guru agama dan penerjemah, Senen pernah juga dipercaya “menjabat Wijkmeester untuk Kampung Bandan,” tulis Heuken. Rumah Senen berada di Tijgergracht, kini Jalan Pos Kota.” Luas tanahnya mencapai 5 km2, diantara sungai Cipinang dengan Sungai Ciliwung. Tahun 1672, ketika dijual nilainya 215 rijkdaalder.

Lahan itu baru saja dimilikinya ketika dia meninggal di tahun 1661. “Tahun 1656, sekitar lima tahun sebelumnya kematiannya, Meester Cornelis Senen memperoleh hak menebang pohon di tepi Sungai Ciliwung, jauh sebelah selatan kota. Daerah seluas 5 km2 itu menjadi miliknya pada tahun 1661,” tulis Heuken.

infografik meester cornelis


Sosok Meester Cornelis Senen belakangan menjadi nama wilayah, Meester Cornelis—yang kini disebut Jatinegara. Di lahan yang dibuka oleh Senen, belakangan juga pernah jadi kampung orang-orang Bali. Terkait atau tidak, nyatanya di kawasan Jatinegara terdapat sebuah kelurahan bernama Bali Meester. Tak jauh dari Bali Meester juga ada bekas kampung orang-orang Melayu yang kini dikenal Kampung Melayu.

Namun, Anda keliru jika mengaitkan nama Senen dengan Pasar Senen. Pasar Senen muncul setelah 1733, ketika Justinus Vinck membeli lahan di kawasan Waltevreden. Vinck mendirikan dua pasar di lahannya, yang belakangan menjadi Pasar Senen dan Tanah Abang. Maka, dulu Pasar Senen disebut Vincke Passer. Ia disebut Pasar Senen karena beroperasi di hari Senin.


Dalam sejarahnya, kawasan Jatinegara alias Meester Cornelis pernah jadi kawasan militer kolonial. Menurut Heuken, Gubernur Jenderal van Imhoff “membangun tangsi di alam segar untuk melatih tentara. Kawasan tersebut dulunya satu-satunya kawasan yang harus dilalui untuk menuju ke Bogor.

Pasukan terkenal yang pernah ditempatkan di situ adalah Resimen Wurttemberg dari Jerman pada 1798. Sekolah Artileri, untuk melatih pasukan meriam, dibuka pada 1805. Sekolah calon perwira dan bintara juga pernah diadakan di sana (1819-1826). Di awal abad XX, ia pernah diadakan lagi untuk beberapa angkatan saja. Salah satu perwira yang pernah sekolah militer di Jatinegara adalah salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia (TNI), Oerip Soemohardjo.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani