Manusia Tidak Lahir dari Sperma Perenang yang Andal

Sperma manusia dilihat menggunakan mikroskop. FOTO/REUTERS
Oleh: Aditya Widya Putri - 3 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Manusia tidak terbentuk dari sperma sebagai perenang andal, sistem reproduksi perempuan menyeleksi sperma mana yang pantas bersatu dengannya.
Pendapat sains usang membuat mayoritas kita percaya bahwa pembuahan merupakan upaya dari sperma terkuat yang menang mengalahkan sperma lain dalam perlombaan renang menuju ovum. Perempuan lebih dianggap sebagai objek pasif.

Mereka yang percaya teori fertilitas tersebut digolongkan sebagai kelompok preformationist. Kelompok ini meyakini setiap spermatozoa berisi miniatur manusia (homunculus). Sementara sel telur hanyalah tempat sperma bertumbuh. Serupa taklid buta, beratus-ratus tahun mereka menutup mata pada kelompok epigenesist yang pandangannya bertentangan dengan homunculus sperma.

Berbagai studi pada 1700-an semestinya sudah mematahkan keyakinan preformationist. Fakta membuktikan mekanisme reproduksi pada perempuan juga berkontribusi membentuk individu baru. Agar terjadi pembuahan, diperlukan minimal satu sperma untuk bertemu ovum, dan mekanisme reproduksi perempuanlah yang menyeleksinya.

Jumlah sperma akan berkurang ketika melewati lingkungan asam vagina dan lendir serviks. Rute yang ditempuh sperma dari serviks mencapai rahim kira-kira sejauh 18 cm. Jika lolos, sperma tidak berjuang sendiri menghampiri ovum, melainkan dapat bantuan dari kontraksi rahim, ditarik menuju sel telur di saluran tuba fallopi.

Jika dibuat perbandingan, rute yang harus dilalui sperma untuk mencapai sel telur setara jarak mendaki Gunung Everest. Dari perjalanan itu ada lebih dari 50 juta sperma yang tersisih--kira-kira 20 persen jumlah penduduk Indonesia--dalam rangkaian reproduksi ini.

“Sistem reproduksi perempuan menyisihkan sperma dengan kelainan fisik agar tidak banyak sperma lolos ke saluran telur,” demikian penjelasan rinci dari Robert Martin, penulis buku How We Do It: The Evolution and Future of Human Reproduction (2013), di laman Aeon membantah mitos keperkasaan sperma.


Setelah sampai di saluran telur, mekanisme reproduksi perempuan hanya mengizinkan beberapa sperma lepas dan mendekati telur. Jika jumlah sperma terlalu banyak, maka akan muncul risiko pembuahan lebih dari satu sperma (polispermia) yang mengakibatkan keguguran.

Evolusi membuat serangkaian hambatan ketat pada saluran reproduksi perempuan untuk membatasi jumlah sperma yang mengelilingi telur. Artinya, peran perempuan dalam fertilisasi tidak pasif seperti yang diasumsikan banyak orang.

Meski mitos sperma adalah “perenang terhebat” sudah dibantah oleh berbagai penelitian, narasi maskulin itu masih bertahan. Bahkan ovarium juga digambarkan sebagai alat reproduksi yang memiliki stok ovum terbatas. Sementara testis selalu diungkapkan memproduksi sperma baru seumur hidup.

Jarang diungkap bahwa tingkat infertilitas pria juga sama besarnya dengan perempuan. Kemampuan membuahi akan menurun ketika ejakulasi mereka hanya menghasilkan kurang dari seratus juta sperma. Nyatanya, penelitian baru-baru ini juga mengungkap bahwa sperma tak pernah benar-benar berenang lurus menuju ovum.

Upaya Manusia Memahami Asal-Muasalnya

Antonie van Leeuwenhoek mungkin bukan orang pertama yang penasaran dengan isi air maninya sendiri. Tapi cuma dia manusia yang punya ide nyeleneh di abad 17-an, menampung hasil ejakulasi dan meneropongnya di bawah kaca preparat.

Kala itu manusia belum punya gagasan tentang reproduksi, mereka bahkan tidak tahu bahwa pembuahan tercipta dari sel-sel kehidupan pria dan perempuan (sperma-ovum). Leeuwenhoek yang kemudian mendapat predikat sebagai “Bapak Mikrobiologi” mengembangkan mikroskop dua dimensi pertama dengan pembesaran objek hingga 270 kali.

Lucunya hingga lebih dari 200 tahun manusia tidak berpikir untuk membuat pembaruan terhadap mikroskop. Lensa Leeuwenhoek menjadi penjelajah pertama dan satu-satunya di dunia mikroskopis untuk melihat koloni bakteri, bagian sel, termasuk sperma sebagai salah satu sel muasal manusia.

“Seperti belut di air,” begitu penggambaran Leeuwenhoek ketika pertama kali melihat sperma. Di bawah mikroskop dua dimensi, terlihat jelas sel dalam cairan air mani itu bergerak maju didorong oleh ekor.

Pada 1677 Leeuwenhoek meletakkan puzzle pertama teka-teki terbentuknya manusia. Tapi butuh lebih dari 170 tahun sebelum para ilmuwan akhirnya sepakat soal bagaimana manusia terbentuk. Bahkan konsep sel telur pada mamalia baru ditemukan 150 tahun kemudian (1827) oleh Karl Ernst von Baer.

Selama itu manusia belum benar-benar paham peran masing-masing dari sperma, juga ovum. Ilmuwan awal abad ke-19 memang telah mengamati tahap perkembangan pada telur katak yang membelah berulang kali. Tapi mereka tak punya konsep soal sel. Gagasan bahwa sel merupakan inti semua kahidupan baru dikemukakan tahun 1830-an oleh ilmuwan Jerman, Matthias Schleiden dan Theodor Schwann.


Sperma Tak Pernah Berenang Simetris

Begitu lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Sejak Leeuwenhoek menemukan sperma hingga 350 tahun kemudian kita merasa sudah paham dan percaya-percaya saja akan konsep pergerakan sperma yang ia tawarkan.

Nyatanya hingga sekarang misteri pembentukan manusia belum sepenuhnya terang. Peneliti gabungan dari Inggris dan Meksiko baru-baru ini mematahkan teori “sperma perenang” milik Leeuwenhoek. Lewat publikasi di Science Advances pada 31 Juli lalu mereka meletakkan puzzle anyar dari mekanisme pergerakan sperma.

“Alih-alih berenang lurus, sperma lebih tampak seperti ngebor,” kata Hermes Gadêlha, salah satu peneliti dalam studi tersebut, ahli matematika dari Universitas Bristol di Inggris.

Gadêlha dan rekan-rekannya merekonstruksi secara matematis pergerakan cepat ekor sperma dengan mikroskop tiga dimensi. Ukuran sperma telah menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti untuk mendalami sifat sel ini. Ekornya berukuran setengah lebar rambut, sementara gerakannya bisa lebih dari 20 pukulan renang dalam waktu kurang dari satu detik.



Tim peneliti memakai kamera super cepat yang mampu merekam lebih dari 55 ribu gambar dalam satu detik untuk menangkap gerakan sperma. Mereka memecah gerakan sperma menjadi dua komponen: kepala dan ekor. Hasil perekaman memperlihatkan bagian kepala bergerak 360 derajat, sementara ekornya bergerak ke satu bagian sisi asimetris.

“Seperti orang yang berenang dengan menggunakan satu sisi tubuh,” lanjut Gadêlha. Komponen ekor membuat pergerakan sperma berputar, tapi kepalanya berfungsi untuk menyeimbangkan sehingga sperma tetap berjalan ke depan.

Selama ini pergerakan 'ngebor' sperma yang terlalu cepat dan amat sinkron membikin ia terlihat berenang seperti belut jika diamati dari atas. Mekanisme kompleks antara ekor dan kepala menciptakan ilusi optik simetri bilateral dalam mikroskop dua dimensi.

Ternyata butuh waktu lebih dari 300 tahun lebih bagi manusia memahami satu bagian dari penciptaannya. Di masa depan mungkin saja definisi infertilitas pada pria berubah karena identifikasi sperma sehat--yang berenang dengan cepat--kini sudah tak digunakan.

Baca juga artikel terkait SPERMA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight