Menuju konten utama

Lomba Video New Normal Rp168 M Bentuk Glorifikasi yang Kebablasan?

Pemerintah berupaya menurunkan kurva pandemi Corona di Indonesia lewat pendekatan sosialisasi video berhadiah ratusan miliar rupiah.

Lomba Video New Normal Rp168 M Bentuk Glorifikasi yang Kebablasan?
Petugas keamanan dengan masker dan pelindung di wajahnya berjaga di Tangcity Mall, Kota Tangerang, Banten, Senin (22/6/2020). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

tirto.id - Kementerian Dalam Negeri menebar dana Rp168 miliar kepada pemerintah daerah yang menang lomba video inovasi the new normal alias kelaziman baru. Kebijakan yang bersifat glorifikasi ini segera menuai kontroversi.

Peserta lomba mencapai 2.517 video dari 34 provinsi, 403 kabupaten/kota, dan 23 kabupaten tertinggal. Poin penilaian bertumpu kreativitas dan tatanan baru sesuai prinsip the new normal ala pemerintah: ‘Produktif dan Aman dari COVID-19’.

Selain Kemendagri, tim penilai berasal juga dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, Kementerian Perdagangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Lomba video terbagi ke dalam tujuh sektor di empat klaster (provinsi, kota, kabupaten dan kabupaten tertinggal). Di antaranya ada sektor pasar tradisional, pasar modern, restoran, hotel, pelayanan terpadu satu pintu, tempat wisata, dan transportasi umum. Pemenangnya telah diumumkan Senin (22/6/2020) lalu.

Pemenang pertama mendapatkan hadiah Rp3 miliar, pemenang kedua Rp2 miliar, dan pemenang ketiga Rp1 miliar. Dengan empat klaster untuk tujuh bidang yang dilombakan, didapatlah total hadiah sebesar Rp168 miliar.

Para pengkritik menilai uang sebesar semestinya dipakai untuk keperluan lain, apalagi saat ini penerimaan minim sementara pengeluaran sangat besar untuk menanggulangi dampak pandemi COVID-19.

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan program ini dibutuhkan. “Video itu hanya sarana trade off biar ada insentif dan manfaat buat publik, sekalian sosialisasi,” sebut Yustinus.

Ia mengatakan anggaran hadiah berasal dari pos Dana Insentif Daerah (DID). Total anggaran DID dari Kemenkeu sebesar Rp13,5 triliun. “Itu DID buat daerah agar bisa digunakan untuk menangani COVID-19. Mari dorong dan awasi, biar dipakai dengan benar dan tepat,” katanya.

Video Pasar Phula Kerti Bali sebagai pemenang sektor pasar tradisional tingkat provinsi telah dirilis di sosial media. Durasi video kurang dari dua menit. Isinya didominasi pernyataan pejabat setempat yang memaparkan aturan jual-beli di pasar mengacu the new normal dan inovasi aplikasi belanja.

Indonesia Belum Siap

Pemerintah Indonesia sudah menyatakan ingin berdamai dengan Corona lewat serangkaian aturan kelaziman baru di berbagai sektor. Setelahnya, pemerintah juga membuat garis waktu bagi bidang tertentu untuk beraktivitas saat new normal. Kecuali bidang pendidikan yang masih melarang pembelajaran tatap buka.

Glorifikasi the new normal lewat lomba video dilakukan saat terjadi kenaikan kurva pandemi COVID-19 di Indonesia. Sejak kasus pertama 2 Maret lalu, kasus Corona di Indonesia mencapai 47.896 per 23 Juni. Dari jumlah itu, ada 19.241 kasus sembuh dan 2.535 meninggal.

Setelah kelaziman baru diluncurkan, terjadi peningkatan kasus per hari berkisar 1.000, berdasar laporan Gugus Tugas. Padahal, dalam kelaziman baru telah dibuat pengetatan protokol seperti menjaga jarak dan menggunakan masker.

Konsep kelaziman baru sendiri sejak awal memang menuai kritik dari berbagai kalangan. Indonesia dinilai belum saatnya berdamai dengan Corona dan justru perlu terus melawan Corona, menurut Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Legislator, ormas keagamaan, selebritas hingga organisasi buruh juga menolak konsep the new normal.

Infografik Responsif

Infografik Langkkah Jokowi Menuju New Normal. tirto.id/Sabit

Kesiapan pemerintah dalam menanggulangi pandemi sejak tahap awal memang compang-camping.

Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Doni Monardo, mengakui pada awal pandemi hanya ada satu hingga empat laboratorium pengujian sampel tes swab. Tim bentukan pemerintah juga tanpa ahli epidemiologi di tahap awal. Setelah berjalan, mereka baru merekrut ahli dan mampu mengkoordinasikan 200 laboratorium.

“Saat ini rata-rata spesimen yang diperiksa per hari mencapai lebih 20 ribu spesimen yang diikuti dengan jumlah penambahan kasus yang menunjukkan masih ada penularan di masyarakat," kata Doni dikutip dari Antara.

Setelah pandemi berlalu selama empat bulan, pemerintah melakukan pendekatan untuk melandaikan kurva Corona berdasar pada sebuah perlombaan, yang diikuti oleh daerah dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Dalam waktu dekat, Kementerian Dalam Negeri masih melanjutkan lomba-lomba lain. Misalnya ada lomba melandaikan kurva pandemi. Hadiahnya berasal dari DID seperti lomba video the new normal.

Baca juga artikel terkait NEW NORMAL atau tulisan lainnya dari Zakki Amali

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz