tirto.id - Indonesia Investment Authority (INA) membukukan dana kelolaan (assets under management/AUM) sebesar Rp146,2 triliun dalam lima tahun beroperasi. Dalam periode yang sama, lembaga sovereign wealth fund Indonesia itu telah merealisasikan investasi kumulatif Rp74,5 triliun bersama para mitra investasinya.
Chief Executive Officer (CEO) INA, Oki Ramadhana, mengatakan capaian tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia yang terus bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
“In a snapshot, 5 tahun INA untuk Indonesia capai investasi kita dan kinerja kita, total assets under management Rp146 triliun, tumbuh 1,9 kali dibandingkan tahun pertama kita beroperasi," ujar Oki dalam acara media briefing di Tamu, Jakarta, Rabu (1/07/2026).
Oki merinci porsi AUM tersebut sebagian besar berasal dari INA sendiri, sementara sisanya disumbang oleh mitra investasi yang ikut menanamkan modal.
“Kalau kami break it down, Rp110,2 triliun itu dari INA, kemudian Rp36 triliun itu dari mitra investasi kami. Jadi, all partners itu actually grow 4,5 kali dibandingkan tahun pertama kami operasional,” jelasnya.
Sementara itu, dari total investasi kumulatif Rp74,5 triliun, sebesar Rp33,3 triliun berasal dari dana INA dan Rp41,2 triliun merupakan investasi yang dihimpun dari investor mitra.
Dari sisi alokasi sektor, porsi investasi kumulatif INA masih didominasi sektor transportasi dan logistik dengan porsi 44,0 persen, disusul sektor digital dan kecerdasan buatan sebesar 29,6 persen. Sementara itu, energi hijau menyumbang 9,8 persen, kesehatan 9,2 persen, advanced materials 5,5 persen, dan sisanya 1,9 persen tersebar di sektor-sektor potensial lainnya.
Pertumbuhan AUM ini turut ditopang oleh perluasan portofolio ke sektor advanced materials sebagai respons atas kebutuhan hilirisasi industri nasional. Oki menyebut langkah ini krusial mengingat Indonesia masih tertinggal dari sisi hilirisasi industri.
“Advanced material and manufacturing. These are very critical sector for Indonesia,for our industry. Kita yang kurang adalah industrialisasi. Kita yang cuma ekspor raw material aja, we can consistently grow at 5 persen,” katanya.
Di sisi tata kelola, INA turut mengklaim skor Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) dari asesmen independen Global SWF berada di level tertinggi di antara sesama sovereign wealth fund dunia. Oki menyebut capaian ini sebagai salah satu fondasi kepercayaan investor global terhadap lembaganya.
“GSI skornya sudah 72 persen and that is the highest. One of the highest score for GSI,” ujar Oki.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































