Menuju konten utama
Byte

Legenda Ericsson R310 Sirip Hiu

Lewat R310, Ericsson mencoba menjual identitas. Mereka menyasar para petualang yang membutuhkan ponsel yang mampu menghadapi kondisi lingkungan ekstrem. 

Legenda Ericsson R310 Sirip Hiu
HP Ericsson Ikan Hiu R310. wikimedia/Digital Museum Swedia
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada awal tahun 2000, teknologi ponsel belum mengenal konsep smartphone yang elegan dan tipis seperti sekarang. Ponsel masih dipandang sebagai perangkat yang rapuh, mudah rusak jika terjatuh, tergores air, atau terkena debu.

Di tengah kekhawatiran tersebut, lahir revolusi kecil dalam bentuk Ericsson R310, sebuah ponsel yang menghadirkan filosofi ketangguhan. Dalam bahasa lokal, ponsel ini dikenal dengan nama yang lebih akrab, si “Sirip Hiu”, julukan yang dipicu oleh bentuk antena eksternal yang unik dan tidak terlupakan.

Kala itu, menggenggamnya adalah sebuah pengalaman sensorik yang tak terlupakan. Pertama, karena bobotnya. Di angka 173 gram, ia terasa berisi dan terkesan mantap. Kemudian, mata kita dimanjakan oleh palet warnanya yang menantang. Ericsson R310 hadir dalam pilihan warna yang berani: Bright Orange, Peak Yellow, Nautic Blue, dan Aquatic Green.

Bodinya juga dibalut oleh lapisan karet kuat. Teksturnya dirancang untuk cengkeraman anti-selip yang sempurna, bahkan ketika tangan Anda basah oleh keringat, hujan, atau lumpur.

Proyek “Marina” dan Visi Sang Petualang

Kelahiran R310 merupakan sebuah strategi yang dirancang selama dua setengah tahun. Di laboratorium Ericsson, pengembangan dimulai pada tahun 1997 dipimpin oleh Björn Andersson. Proyek ini diberi nama sandi internal “Marina”, mencerminkan ponsel yang tidak hanya bertahan di tengah air, tetapi juga mampu menghadapi segala kondisi lingkungan yang ekstrem.

Ericsson sebenarnya sudah memiliki ponsel tangguh yang diluncurkan tahun 1999, yaitu R250s PRO. Namun, R250s adalah “truk” pekerja murni. Dengan bobot masif 270 gram dan dimensi yang besar, ia secara spesifik ditargetkan untuk para pekerja konstruksi, pengrajin, dan profesional yang membutuhkan alat kerja di lingkungan ekstrem.

Ericsson R310 diluncurkan pada Februari 2000 di pameran CeBIT Hannover, Jerman. Ericsson mempresentasikannya sebagai instrumen komunikasi untuk petualang sejati. Jan Ahrenbring, Wakil Presiden Pemasaran Ericsson saat itu, merangkum visinya dengan berkata, “R310 ditujukan untuk orang-orang yang... nyaman di jalanan licin dan menikmati batu berlumpur dan salju tebal”.

Namun, ia melanjutkan bahwa R310 akan laku keras layaknya jip four-wheel drive, sepeda gunung, dan jam tangan penyelam. Ericsson tahu mereka sedang menjual identitas. Mereka paham bahwa sebagian besar pembeli R310 mungkin tidak akan pernah memanjat tebing, tetapi mereka ingin merasa bisa melakukannya, dan ingin dunia melihat mereka sebagai tipe orang yang siap bertualang.

Dengan harga awal sekitar 700 mark Jerman atau sekitar 305 dolar AS pada masa itu, R310 memosisikan dirinya sebagai ponsel premium yang dikhususkan untuk sektor profesional dan petualang kelas tertentu.

Sayangnya, Ericsson, yang kini merger dengan Sony, tidak pernah merilis sekuelnya.

HP Ericsson Ikan Hiu R310

HP Ericsson Ikan Hiu R310. wikimedia/Digital Museum Norwegia

Membedah Ketangguhan “Hiu”

Apa yang sebenarnya membuat R310 begitu legendaris dengan ketangguhannya? Jawabannya terletak pada anatomi desainnya yang tanpa kompromi. Jargonnya ialah tahan debu, guncangan, dan percikan air.

R310 dirancang jauh lebih ringan dan lebih ramping dengan ukuran 131 x 53 x 25 mm. Tulang punggungnya adalah rangka magnesium yang kokoh yang tertanam di dalam bodinya. Rangka metal inilah yang mampu menahan benturan dan guncangan.

Di sekitar bodi ponsel ada lapisan karet tebal yang menyerap energi benturan, sehingga tetap memantul walau di permukaan keras. Lapisan ini juga memberikan pegangan tetap nyaman saat basah atau berminyak.

Untuk ketahanan terhadap elemen, Ericsson menggunakan sistem segel berlapis. Di sekeliling penutup baterai dan titik-titik masuk lainnya, dipasang gasket silikon yang rapat. Perlindungan ini dapat mencegah air merembes ke dalam.

Rahasia terbesarnya terletak pada teknologi yang dipinjam dari dunia outdoor itu sendiri. Untuk melindungi komponen audio, tanpa meredam suara, Ericsson memasang membran Gore-Tex. Membran ini memungkinkan suara masuk dan keluar dengan jernih, tetapi sekaligus menolak penetrasi air. Gore-Tex sudah dipercaya para pendaki gunung untuk melindungi nyawa mereka dari badai.

Port interface untuk aksesori di bagian bawah ponsel juga tidak luput dari perhatian desainer. Porta paralel ini dilindungi dengan jaket karet yang dapat dibuka dan ditutup kembali, memastikan tidak ada celah yang membiarkan debu atau air masuk ketika tidak ada aksesori yang terhubung.

Pada September 2000, sebuah ulasan di The Guardian menjulukinya sebagai jawaban telekomunikasi untuk Jaws, film hiu legendaris. Ulasan itu menyarankan pembaca untuk bermain keepie-uppie (juggling bola) dengan Ericsson R310, memantulkannya dari batu atau mencelupkannya ke dalam segelas bir dan ia tetap berfungsi.

Tentu saja, mitologi publik sering kali melampaui realitas teknis. Ericsson sendiri jujur dan memberi catatan bahwa R310 adalah tahan air dan bukan kedap air (water resistant and not waterproof) dan tidak boleh terendam dalam air.

Namun, di tangan publik, ketangguhan ponsel ini memang teruji. Dibuktikan dengan video-video di YouTube yang menunjukkan R310 direbus dalam air mendidih dan tetap bekerja seperti biasa, mengukuhkan statusnya sebagai ponsel predator.

Jika ada satu fitur Ericsson R310 yang paling diingat dan langsung dikenal, itu adalah antenanya yang berbentuk seperti sirip hiu. Ericsson R310 tidak menyembunyikan antenanya. Ia mengubah sesuatu yang dianggap kelemahan menjadi fitur yang paling ikonik dan tangguh. Material karet yang membungkus antena ini memungkinkannya untuk menekuk dan berbelok tanpa rusak, dan kemudian kembali ke bentuk aslinya.

Dari sisi spesifikasi teknis, Ericsson R310 sama sekali tidak mengesankan jika dilihat dengan standar modern. Ponsel ini menggunakan tampilan monokrom dengan backlight berwarna hijau khas yang hanya mampu menampilkan lima baris teks. Ponsel ini tidak memiliki kamera, tidak memiliki Bluetooth, tidak memiliki koneksi data yang cepat.

Teknologi GPRS atau EDGE masih menjadi mimpi di masa itu. Kapasitas penyimpanan nomor telepon terbatas hanya 99 kontak, jauh lebih sedikit dari pendahulunya R250 PRO yang bisa menyimpan 250 nomor.

Namun keterbatasan ini dirancang dengan sadar. R310 adalah ponsel dengan fokus pada apa yang benar-benar penting: komunikasi suara yang jelas dan andal, pesan teks singkat, serta daya tahan baterai. Baterai lithium-ion 950 mAh ponsel ini mampu bertahan hingga enam jam delapan menit dalam kondisi percakapan aktif, atau hingga 160 jam dalam mode standby, lebih dari enam hari tanpa perlu diisi ulang.

Untuk seorang petani yang bekerja dari fajar hingga senja, atau nelayan yang berlayar berhari-hari, durasi baterai ini adalah berkah yang nyata.

Lain itu, keyboard R310 dirancang dengan tombol fisik yang besar, kokoh, dan mudah dioperasikan bahkan dengan memakai sarung tangan tebal.

Menu ponsel yang sederhana memungkinkan pengguna yang tidak tech-savvy untuk mengoperasikannya tanpa kesulitan. Fitur voice dial memungkinkan pengguna memanggil kontak hanya dengan suara, feature yang sangat berguna ketika tangan mereka penuh atau saat mengemudi. Sementara vibrating call alert memberikan notifikasi panggilan masuk tanpa suara, penting untuk pekerjaan yang memerlukan fokus atau keheningan.

HP Ericsson Ikan Hiu R310

HP Ericsson Ikan Hiu R310. wikimedia/Digital Museum Swedia

Jejak “Hiu” di Indonesia

Sekitar tahun 2000, saat R310 masuk ke pasar Indonesia, popularitasnya terjadi dengan cara yang organik dan bertahap. Tidak ada kampanye pemasaran masif seperti produk ponsel mainstream lainnya.

Pemakaian R310 tersebar di kalangan petualang dan pencinta outdoor. Mereka yang menyelam, mendaki gunung, menjelajahi hutan, atau melakukan eksplorasi memilih R310 karena tahu bahwa ketika pertualangan mereka berakhir dengan kejadian yang tidak terduga, ponsel terjatuh ke sungai, terhempas batu, atau tertanam di lumpur, R310 akan tetap hidup dan berfungsi.

“Ponsel terbaik yang pernah ada, saya punya 3 dari mereka dengan warna berbeda (oranye, kuning, dan biru). Sejak dihentikan (produksinya), sangat sulit menemukan aksesorinya di sini, di Indonesia,” ujar seorang penggemar bernama Herdi, dikutip forum GSM Arena.

Apa yang diungkapkan Herdi membuktikan bagaimana sulitnya mencari aksesori R310 , hingga melahirkan pasar kolektor premium hari ini. Penelusuran di platform e-commerce lokal menunjukkan sebuah ekosistem yang hidup.

Harganya pun bervariasi, mulai dari bahan kanibalan seharga 138.000 rupiah per unit, hingga unit mulus “original” yang dibandrol 3-5 jutaan. Dan yang lebih menakjubkan adalah pasar aksesorinya.

Aksesori langka yang dulu menjadi bagian dari paket pertualangan kini menjadi harta karun. Sarung kompas Ericsson R310s, misalnya, dibalut “original, mulus dan fungsional” bisa ditawarkan seharga 1,5 juta rupiah.

Begitu juga tabung Ericsson R310, wadah plastik kedap air yang legendaris, menjadi barang koleksi yang banyak dicari. Memburu dan memiliki Erricsson R310 juga bisa jadi pilihan alternatif untuk detoks digital secara radikal dari dampak negatif candu ponsel pintar.

Kiwari, di tengah dominasi fitur ponsel pintar yang tak ada habisnya, “Sirip Hiu” yang unik itu masih dibicarakan banyak orang dengan kenangan daya tahannya di medan berat.

Baca juga artikel terkait PONSEL atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Byte
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi