Menuju konten utama

Lagu Tertentu Bisa "Nyangkut" di Kepala Seharian, Kenapa Begitu?

Kenapa lagu dua menit bisa nyangkut berhari-hari di pikiran? Simak penjelasan ilmiah fenomena earworm dan cara ampuh mematikan melodinya seketika.

Lagu Tertentu Bisa
Ilustrasi Musik. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Timothy, bukan nama sebenarnya, pernah punya pengalaman menyebalkan sekaligus kocak. Dia bukan penggemar musik pop dan bahkan tidak pernah mendengarkan lagu-lagu hits zaman sekarang. Namun, suatu hari, saat sedang menggeser gelombang radio di mobil, dia tak sengaja mendengarkan potongan lagu "Shake It Off" milik Taylor Swift selama dua menit.

Hasilnya? Melodi dua menit itu mendadak "nyangkut" di kepalanya dan terus berputar berulang-ulang hingga tiga bulan penuh. Timothy bahkan berseloroh, jangan-jangan lagu itu dirancang oleh ilmuwan menggunakan teknologi kontrol pikiran rahasia. Pasalnya, dia cuma mendengar lirik "shake, shake, shake" barang 2 menit, tapi lagu itu tidak mau pergi dari kepala.

Pengalaman mendengarkan potongan lagu, entah dari radio atau video singkat di media sosial, lantas melodinya mengalun tanpa henti di kepala adalah hal yang dialami oleh lebih dari 90% orang di dunia.

Tenang, walaupun kadang bikin jengkel karena melodi lagu seakan tak bisa hilang, ini sama sekali bukan tanda gangguan jiwa atau kelainan otak.

Fenomena ini biasa disebut earworm (lagu yang nyangkut di kepala), dan ini adalah respons alami dari otak kita saat memproses musik.

Mengapa Lagu Tertentu Sangat Mudah “Nyangkut” di Otak?

Fenomena lagu yang tiba-tiba berputar sendiri di kepala ini dalam dunia medis dikenal dengan banyak nama, mulai dari earworm, obsesi musik, hingga istilah kerennya: Involuntary Musical Imagery (INMI) atau Stuck Song Syndrome (SSS).

Sederhananya, earworm itu seperti "gatal" di dalam otak kita. Uniknya, lagu yang nyangkut biasanya bukan satu lagu utuh, melainkan cuma potongan pendek berdurasi 15–30 detik, biasanya bagian refrain atau lirik yang terus diulang-ulang.

Bagian yang menempel ini umumnya merupakan hook utama yang mudah dinyanyikan tanpa perlu berpikir keras. Struktur melodi sederhana dengan alur nada naik-turun yang mudah ditebak membuat otak jauh lebih gampang merekam dan memutarnya kembali secara otomatis.

Ilustrasi Lirik Lagu Nasional

Ilustrasi Lirik Lagu Nasional. foto/istockphoto

Proses melekatnya lagu ini berkaitan erat dengan cara kerja ingatan manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam studi Euser dkk. (2016), keterikatan pada sebuah lagu bisa dipicu baik oleh emosi maupun asosiasi momen tertentu. Musik berfungsi sebagai sarana penyimpan ingatan yang sangat kuat, terlebih jika lagu tersebut diputar berulang kali di media sosial atau sedang menduduki puncak tangga lagu.

Ketika musik fisik berhenti diputar, sistem penyimpanan otak yang disebut lingkaran fonologis tetap bekerja menghubungkan korteks pendengaran ke area memori dan emosi. Otak secara otomatis merespons kekosongan ritme tersebut dengan memutar kembali pita rekaman internal.

Celakanya, semakin keras seseorang berusaha menekan lagu tersebut agar hilang dari pikiran, dorongan memutarnya justru makin besar. Ini adalah proses mental unik yang dikenal sebagai teori proses ironis.

Bagi kebanyakan orang, momen lagu nyangkut ini ditanggapi secara santai atau bahkan dianggap hiburan gratis saat beraktivitas. Namun, tingkat kenyamanan tiap orang bisa berbeda-beda.

Riset Arthur (2023) menyebutkan bahwa kondisi stres, cemas, hingga kebiasaan sering mendengarkan musik dapat meningkatkan frekuensi munculnya fenomena earworm ini. Bahkan, bagi penderita gangguan obsesif-kompulsif (OCD), pita rekaman lagu berulang ini bisa terasa sebagai pikiran tak diundang yang sangat mengganggu aktivitas harian.

Trik Sains Bebaskan Otak dari Putar Ulang Lagu yang Sama

Saat melodi yang nyangkut di kepala mulai mengganggu konsentrasi, fenomena ini sebenarnya bisa kita hentikan. Mengutip penjelasan Cleveland Clinic, ada beberapa cara sederhana berbasis sains untuk memutus putaran lagu di dalam pikiran.

Cara pertama yang paling mudah adalah mendengarkan lagu tersebut sampai selesai dari awal hingga akhir. Seperti disebutkan di muka, bagian lagu yang nyangkut biasanya cuma potongan pendek berdurasi 15 sampai 30 detik. Otak terus memutarnya karena merasa lagu itu belum selesai. Dengan mendengarkan versi lengkapnya, kita memberi tahu otak bahwa melodi tersebut sudah berakhir.

Cara kedua adalah mengalihkan perhatian pikiran. Kita bisa mencoba mendengarkan lagu lain dengan irama yang berbeda, menonton film, berjalan santai, atau mengisi teka-teki silang. Aktivitas yang membutuhkan sedikit fokus ini bakal membuat otak lupa pada potongan lagu yang tadi.

Ilustrasi Me Time

Ilustrasi Me Time. foto/istockphoto

Ada juga trik unik yang terbukti secara penelitian, yaitu mengunyah permen karet. Menurut Beaman, Powell, dan Rapley (2014), gerakan rahang saat mengunyah ternyata bisa mengganggu jalur ingatan suara di otak, bagian yang sama yang sedang dipakai otak untuk memutar lagu tersebut.

Pada dasarnya, lagu yang nyangkut di kepala adalah hal yang sangat wajar. Tidak perlu merasa aneh atau seperti mengalami gangguan kejiwaan. Dalam penelitian Taylor, dkk. (2014), sekitar 98 persen orang pernah mengalami earworm. Lagi pula, dengan sedikit trik sederhana seperti mengunyah permen karet, kita bisa dengan mudah mengambil alih kembali fokus pikiran dari lagu yang seakan tidak mau pergi.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus