KSP Sebut Ketidakpastian Global Picu Kenaikan Harga di Indonesia

Reporter: Andrian Pratama Taher - 17 Mei 2022 11:06 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Edy mengklaim, perekonomian Indonesia justru mengalami perbaikan di tengah ketidakpastian global.
tirto.id - Kantor Staf Presiden (KSP) mengklaim kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok saat ini akibat dari ketidakpastian global mulai dari pandemi COVID-19, konflik Rusia-Ukraina, berbagai kebijakan di negara maju, hingga pengaruh cuaca. Kenaikan harga komoditas pangan hingga energi pun berdampak tidak hanya di dalam negeri, tetapi dunia internasional.

"Jika kondisi ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, serta memberi tekanan fiskal. Mengingat APBN banyak digunakan untuk menyediakan dukungan bantalan sosial bagi masyarakat, khususnya kelompok tidak mampu" kata Tenaga Ahli Utama KSP, Edy Priyono, Selasa (17/5/2022).

"Selain itu, pengurangan jumlah uang beredar di negara maju juga bisa menekan pasar keuangan melalui pelemahan rupiah, dan berisiko pada meningkatnya tingkat bunga," tambahnya.

Edy mengklaim, perekonomian Indonesia justru mengalami perbaikan di tengah ketidakpastian global. Ia mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan I 2022 yang menyatakan perekonomian Indonesia tumbuh kuat sebesar 5,01 persen (year to year). Edy menyebut, pertumbuhan ekonomi positif itu didukung oleh peningkatan permintaan domestik, tetap terjaganya kinerja ekspor dan bergairahnya aktivitas ekonomi seputar lebaran.

"Perputaran ekonomi pada Idulfitri juga ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan di Triwulan I," ucapnya.

Edy juga mencatat, konsumsi rumah tangga justru tumbuh, yakni sebesar 4,34 persen (year to year) meski ada kenaikan harga pangan. Angka pertumbuhan konsumsi ini jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada triwulan IV 2021 sebesar 3,55 persen (year to year).

Ia menilai, kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga didukung oleh kebijakan pelonggaran mobilitas, seiring dengan pandemi yang terkendali dan berlanjutnya akselerasi vaksinasi. "Dan yang harus dicatat, juga karena percepatan penyaluran perlindungan sosial untuk memberikan dorongan bagi penguatan daya beli masyarakat," tegasnya.

Akan tetapi, lanjut Edy, penguatan konsumsi rumah tangga juga memicu kenaikan inflasi pada April 2022, sebesar 0,95 persen (month to month) atau 3,47 persen (year to year).

"Tingginya inflasi tersebut juga bertepatan dengan momen Ramadan 2022 yang secara siklus memang terjadi peningkatan permintaan," jelasnya.

Edy optimis perekonomian Indonesia di masa depan akan terus menguat karena pemerintah terus melakukan akselerasi dan perluasan vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang semakin luas, serta memberikan berbagai stimulus berupa bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat.

Hasil kinerja pemerintahan Jokowi kembali dinilai menurun. Terbaru, lembaga survei Indikator merilis data bahwa angka kinerja presiden kembali turun di bawah 60 persen. Pada survei 5-10 Mei 2022 kepada 1.228 responden dengan margin error 2,9 persen itu, kinerja presiden berada di angka 58,1 atau turun dari hasil survei sebelumnya pada April 2022 yang mencapai 64,1 persen.

Dalam survei tersebut juga mencatat bahwa keluhan tertinggi adalah harga kebutuhan pokok meningkat (28,1 persen), kemudian disusul bantuan tidak merata (10,7 persen) dan pengangguran (8,4 persen).

Angka kepuasan presiden di bawah 60 persen sempat terekam beberapa kali yakni saat survei awal April 2022 (59,9 persen) dan Juli 2021 (59,3 persen) dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, jika dihitung sejak awal periode kedua Jokowi, angka di bawah 60 persen terjadi pada rentang Juni 2015-Maret 2016 kecuali survei pada Januari 2016.


Baca juga artikel terkait EKONOMI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Fahreza Rizky

DarkLight