Menuju konten utama

Kisruh Rapat DPR di Turki, Baku Hantam hingga Ada Korban Luka

Rapat DPR di Turki kisruh, para anggota dewan saling baku hantam hingga ada korban luka yang dilarikan ke rumah sakit.

Kisruh Rapat DPR di Turki, Baku Hantam hingga Ada Korban Luka
Suasana sidang di Parlemen Turki berubah menjadi 'arena adu jotos' seteleh kericuhan terjadi di antara anggota DPR dari Partai AK dengan anggota oposisi. (REUTERS/Stringer)

tirto.id - Kisruh terjadi di rapat DPR Turki setelah perombakan kabinet terjadi pada Rabu, 11 Februari kemarin. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengganti sejumlah menteri salah satunya adalah Akin Gurlek. Hal inilah yang mendasari kisruh tersebut.

Video pertikaian antar anggota DPR Turki viral dan langsung menjadi pemberitaan internasional. Beberapa orang bergerombol, kemudian ada yang terlibat aksi saling pukul hingga membuat korban luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Penyebab Kisruh di Rapat DPR Turki

Pemerintah tidak memberikan alasan resmi atas keputusan reshuffle kabinet tersebut. Juru bicara Istana Putih hanya menyebutkan bahwa para menteri sebelumnya “meminta dibebastugaskan”.

Dalam reshuffle itu, Erdogan memerintahkan Akin Gurlek menggantikan Yılmaz Tunc yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan telah menjadi anggota parlemen sejak 2007.

Erdogan juga menunjuk Mustafa Ciftci, gubernur Provinsi Erzurum, sebagai Menteri Dalam Negeri yang baru, menggantikan Ali Yerlikaya, mantan gubernur Istanbul yang sebelumnya diangkat sebagai menteri.

Penunjukan Akin Gurlek memicu ketegangan di parlemen. Sebelumnya, sebagai kepala jaksa Istanbul, Gurlek menangani berbagai kasus besar terhadap politisi dari partai oposisi utama, Republican People's Party (CHP).

Oposisi menilai proses hukum tersebut bermotif politik. Ketika Gurlek akan diambil sumpahnya sebagai menteri, anggota parlemen dari CHP mencoba menghalangi proses tersebut, sedangkan anggota dari partai pemerintah, Justice and Development Party (AK Party), membelanya.

Keributan pun pecah, dengan aksi saling dorong dan pukul, hingga ketua parlemen menghentikan sidang selama 15 menit untuk meredakan situasi. Setelah sidang dilanjutkan, Gurlek akhirnya tetap diambil sumpahnya.

Ketegangan ini tidak lepas dari penangkapan ratusan pejabat dari kota-kota yang dipimpin CHP dalam kasus dugaan korupsi. Salah satu yang paling menonjol adalah Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, yang dianggap sebagai rival utama Erdogan.

Imamoglu ditahan sejak penangkapannya pada Maret 2025. Pada November 2025, Gurlek mengajukan surat dakwaan setebal 4.000 halaman yang menuduh Imamoglu memimpin jaringan korupsi besar.

Ia menuntut hukuman penjara lebih dari 2.000 tahun. Dakwaan ini memicu demonstrasi jalanan terbesar di Turki dalam satu dekade.

Para pendukung Imamoglu menyebut kasus itu sebagai upaya politik untuk melemahkan oposisi, sedangkan pemerintah menegaskan bahwa peradilan berjalan secara independen.

Perombakan kabinet ini terjadi di tengah situasi politik yang sensitif, termasuk pembahasan kemungkinan perubahan konstitusi serta upaya perdamaian dengan kelompok militan Kurdistan Workers' Party (PKK) untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.

Parlemen diperkirakan akan meloloskan reformasi yang mendukung proses tersebut, sehingga dinamika politik Turki saat ini berada dalam fase yang cukup tegang dan menentukan.

Sebelumnya, demonstrasi besar terjadi di Turki setelah penangkapan Ekrem İmamoğlu, wali kota Istanbul yang juga tokoh utama oposisi dan calon kuat untuk kursi presiden di masa depan. Ribuan orang turun ke jalan di kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, dan Izmir.

Penangkapan Imamoglu terjadi pada 19 Maret 2025 atas tuduhan korupsi dan keterlibatan dengan organisasi terlarang. Tuduhan ini dipandang oleh banyak warga dan pendukung oposisi sebagai langkah politik untuk menjegal karier politiknya, bukan murni masalah hukum.

Baca juga artikel terkait DPR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra