Klaim Trump Menang karena Golput: Tepatkah untuk Pilpres 2019?

Ilustrasi pemilu AS. AP/Alex Brandon
Oleh: Husein Abdulsalam - 15 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Golput disinyalir akan merontokkan suara Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019. Kekhawatiran belaka?
tirto.id - Para politikus pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin tampak ketar-ketir merespons wacana golput sebagian pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pasalnya, Ma'ruf sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dipandang sebagai otak di balik pemenjaraan Ahok. MUI-lah yang memfatwa pernyataan Ahok soal surah Al-Maidah ayat 51 sebagai penghinaan terhadap Al-Quran sehingga memiliki konsekuensi hukum.

Menanggapi isu tersebut, Ketua Umum PSI Grace Natalie membujuk agar para pendukung golput mengurungkan niatnya. Sebelumnya, PSI gencar mendorong Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. PSI juga dikenal sebagai pengusung sekaligus simpatisan garis keras Ahok.

Grace mengatakan, "Jangan ketika tidak terakomodir, lalu golput, itu jangan. Kami juga punya aspirasi berbeda, tapi kami tetap dukung Jokowi.”

Kata golput pun jadi buah bibir, diberitakan berbagai media dan mengisi ceruk percakapan media sosial.

Pendukung Jokowi pada Pilpres 2014 yang berencana abstain pada pilpres tahun depan dipadankan dengan warga Amerika Serikat (AS) yang golput pada Pilpres AS 2016.

Kata Budiman, “Hillary kalah oleh Trump dlm pilpres (menurut sistem Electoral College) karena banyak pendukung Sanders yg memutuskan Golput..(Tolong renungkan. Siapa yg diuntungkan jika sebagian pendukung pak @jokowi golput?)," cuit anggota DPR dari fraksi PDIP Budiman Sudjatmiko, tak lama sebelum Jokowi-Ma'ruf Amin mendaftar ke KPU, Jumat (10/10/2018).

Kalangan golput di negeri Paman Sam dituduh telah membuat capres Demokrat Hillary Clinton keok, sehingga secara tak langsung memuluskan jalan Donald J. Trump ke Gedung Putih. Hillary juga disebut-sebut gagal memenangkan suara simpatisan Bernie Sanders, kandidat independen yang kalah dalam pemilihan primary di Partai Demokrat.


Kekhawatiran Belaka atau Kisah nyata?

David, 31, tinggal di New Jersey. Pada Pilpres AS 2016, David awalnya ingin memilih Hillary Clinton, tapi dia malah golput. David mengira Clinton pasti menang.

"Saya menyesal tidak memilih, Saya tak pernah menyangka Donald Trump akan menang," ujar David sebagaimana dilansir oleh Guardian.

Dalam pilpres di AS, presiden tidak dipilih secara langsung oleh pemilih, melainkan oleh "Electoral College" atau elektor yang ditunjuk partainya masing-masing di tiap negara bagian. Apabila kandidat presiden yang diajukan Demokrat meraup suara pemilih (popular vote; PV) terbanyak, para elektor Demokrat akan memberikan suara untuk Hillary Clinton. Suara yang diberikan para elektor disebut sebagai suara elektoral (electoral vote; EV). Jumlah elektor berbeda-beda, menyesuaikan populasi di tiap negara bagian.


Di tempat tinggal David, New Jersey, Clinton memang menang. Mengutip dari New York Times, di sana Clinton mengantongi 2,1 juta PV, mengalahkan Trump yang memperoleh 1,6 juta. Dari New Jersey, Cinton sukses meraup 14 EV. Hasil ini tidak begitu mengejutkan sebab dalam enam Pilpres AS sebelumnya, kandidat presiden dari Demokrat selalu menang di New Jersey.

Namun, hanya menang di New Jersey saja jelas jauh dari cukup untuk menjadi orang nomor satu di negeri adidaya AS. Secara keseluruhan ada 538 EV di Pilpres AS. Untuk bisa menang, seorang kandidat harus mengantongi setidaknya 270 EV.

Clinton mengantongi 222 EV dari Washington D.C. dan 18 negara bagian lainnya. Washington Post melaporkan bahwa kebanyakan negara bagian tersebut merupakan kantung suara Demokrat yang padat penduduk dan berada di garis pantai AS.

Sedangkan Trump menang telak di 26 negara bagian lainnya. Dari situ, Trump menyabet 227 EV. Masih berdasarkan laporan Washington Post, kecuali Iowa dan Ohio, negara-negara bagian tersebut merupakan kantung suara Republikan, partai mengusung Trump. Pada dua Pilpres AS sebelumnya, Barrack Obama yang diusung Demokrat selalu menang di Iowa dan Ohio.

Di samping 44 negara bagian plus ibukota Washington D.C., Clinton dan Trump bersaing ketat di 6 negara bagian lainnya. Selisih suara kemenangan (Margin of Victory; MoV) masing-masing kandidat di negara-negara bagian itu lebih kecil dari 2 persen.

Sebelumnya, enam negara bagian tersebut dimenangkan Obama. Celakanya, di Pilpres 2016 Clinton hanya mampu mengamankan dua negara bagian, New Hampshire dan Minnesota. Sedangkan Trump mampu merebut kemenangan di 4 negara bagian lainnya, yakni Florida, Michigan, Wisconsin, dan Pennsylvania. Dari situ, 14 EV diambil Clinton dan 75 EV lainnya direbut Trump.

Secara keseluruhan, Clinton mendapat 232 EV, sedangkan Trump menyabet 306 EV. Walhasil, Clinton keok.


Apa Dalih Kekalahan Hillary Cinton?

Clinton memang kalah, tetapi perolehan PV Clinton lebih banyak dari Trump. Clinton memperoleh sekitar 65,8 juta PV, sementara Trump mendapat 62,9 juta PV.

Bukan pertama kalinya presiden AS memperoleh PV lebih rendah dari rivalnya. Sebelumnya, George W. Bush (2000), John Quincy Adams (1824), dan Rutherford B. Hayes (1876) juga kalah di bilik suara tapi memenangkan electoral college.

Clinton akhirnya menyalahkan sistem EV. Total EV yang bisa diperoleh dari Wisconsin, Michigan, dan Pennsylvania adalah sebesar 46. Apabila 46 EV itu dimasukkan dalam kantong suara Clinton, Clinton bakal menang di Pilpres AS 2016. Namun, Clinton tampaknya memang tidak mampu bermanuver banyak di tengah sistem EV yang telah diterapkan sejak abad ke-19 itu.

Alih-alih mengevaluasi kinerja tim dan performanya sendiri selama kampanye, Clinton memilih untuk menyalahkan segelintir pemilih Sanders yang membelot ke Trump dan warga AS yang golput.

Dalam survey PEW Research Center yang diselenggarakan pada 29 November-12 Desember 2016, sebanyak 37 persen responden golput mengaku berafiliasi ke Clinton. Sedangkan 30 persen lainnya ke Trump.

Sementara itu, sebanyak 35 persen pemilih Demokrat dan 32 persen pemilih Republik mengaku golput berdasarkan riset Survey Monkey dan Fivethirtyeight pada 9-10 November 2016 terhadap 99.377 warga AS yang terdaftar sebagai pemilih.

Hasil riset lembaga-lembaga itu menggambarkan bahwa persentase pemilih potensial Clinton yang akhirnya golput lebih banyak dari kalangan yang condong ke Trump yang akhirnya golput. Perbedaannya sebenarnya tipis. Namun di tengah persaingan yang begitu ketat, perbedaan tipis itu amat berarti bagi kemenangan Trump.

Di sisi lain, Clinton juga perlu melihat bahwa lumbung suara Obama seperti Ohio, Wisconsin, Pennsylvania, dan Michigan juga gagal dikuasai Demokrat.

"Clinton yakin dia kalah di Wisconsin, Michigan, Ohio, Pennsylvania kebencian (bigotry) berkuasa di negara-negara bagian pedalaman," tulis analis politik Washington Post Marc A. Thiessen.

"Ada satu masalah dalam analisisnya: jutaan orang kulit putih yang akhirnya memilih Donald Trump, pernah dua kali mencoblos Barack Obama dengan bangga. Ada hampir 700 kabupaten di Amerika Serikat yang dua kali memenangkan Obama dan sepertiganya berbalik memenangkan Trump pada 2016."

Suara Demokrat di Michigan rontok. Pada Pilpres AS 2012, Obama meraup 2,56 juta PV, sementara Clinton pada 2016 hanya mendapat 2,26 juta. Di lain pihak, suara Republikan sebetulnya cuma jalan di tempat. Mitt Romney, pesaing Obama pada 2012, memperoleh 2,11 juta PV, sedangkan Trump meraup 2,27 juta. Sementara Demokrat kehilangan sekitar 300 ribu suara, Republik hanya mampu menaikkan 160 ribu suara.

Suara Demokrat juga remuk di Wisconsin. Clinton hanya mampu menyabet 1,38 juta PV, turun sekitar 300 ribu suara dari yang diperoleh Obama pada 2012. Trump memperoleh 1,405 juta PV, tak terpaut jauh dari perolehan Romney (1,408 juta) di tahun 2012.



Clinton pun tidak mampu meraup simpati dari pendukung Sanders kendati Sanders resmi mendukung Clinton setelah kalah di primary. Riset Guru Besar Ilmu Politik University of Massachussetts Brian Schaffner terhadap 50 ribu responden yang dihimpun Cooperative Congressional Election Study (CCES), menyebutkan bahwa sebanyak 12 persen pendukung Sanders membelot ke Trump. Di Wisconsin, Michigan, dan Pennsylvania jumlah pembelot itu lebih banyak dari selisih suara kemenangan (MoV) Trump.



Di Pennsylvania, sebanyak 16 persen (117.100 orang) pendukung Sanders malah memilih Trump. Di negara bagian tersebut, MoV Trump hanya 44.292.

Jurang lebar antara jumlah pembelot Sanders dengan MoV Trump juga mencolok di Michigan dan Wisconsin. Di Michigan, MoV Trump sebesar 10.704, sementara jumlah pembelot Sanders 47.915. Sedangkan di Wisconsin, pembelot Sanders sebanyak 51.317, jauh dari MoV Trump yang sebanyak 22.748.

Namun, hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Clinton pun semestinya tahu bahwa pada Pilpres AS 2008, saat dia kalah di ajang primary Demokrat, 25 persen pendukungnya malah menyalurkan suaranya untuk John McCain, kandidat presiden yang diusung Republikan.

Di Pilpres AS 2016, Clinton juga mendapat limpahan suara dari 12 persen pendukung Republikan yang membelot dari capres Mitt Romney. Hasil analisis Schaffner mengungkap sebanyak 34 persen pendukung John Kasich dan 11 persen pendukung Marco Rubio, dua pesaing Trump dalam primary Republikan, mencoblos Clinton.

Kasich dan Rubio sendiri menolak mendukung Trump, menurut laporan The Atlantic. Dalam Pilpres AS 2016, mereka bersama puluhan tokoh Republikan lainnya masuk kategori Never Trump Republican (NTR). Bahkan, sesepuh partai seperti George H.W. Bush, George W. Bush, dan Mitt Romney menjadi punggawa barisan NTR.

"Saya ingin cucu-cucu saya melihat bahwa saya tidak bisa mengabaikan ucapan dan tindakan Mr. Trump yang menampakkan karakter dan temperamen yang tidak cocok sebagai pemimpin dunia merdeka," ujar Romney, kandidat presiden dari Republikan pada Pilpres AS 2012, seperti dilansir The Wall Street Journal.

Analisis Clinton bahwa ia kalah karena para pemilih sudah dikuasai kebencian tentu tak bisa menjawab mengapa angka golput begitu tinggi, apalagi soal kenapa sebagian pendukung Sanders yang umumnya dikenal liberal dan progresif membelot ke Trump. Melampiaskan rasa kekalahan karena kandidat pujaan gagal menang di primary dengan mencoblos calon partai seberang jadi hal yang lumrah.

Pertanyaan serupa nampaknya juga layak diajukan ke para politikus pro-Jokowi yang mengecam golput: bagaimana jika kelak Jokowi kalah bukan karena golput, tapi lantaran sebagian pendukungnya membelot ke Prabowo?

Jika itu terjadi, dalih "para pemilih telah dikuasai kebencian" ala Hillary tentu sekadar argumen tumpul.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight