Pandemi COVID-19

Kisah Pasien COVID Meninggal Tak Dapat RS, Berkejaran dengan Ajal

Oleh: Irwan Syambudi - 29 Juni 2021
Dibaca Normal 4 menit
LaporCOVID-19 mencatat periode 14 - 28 Juni 2021 ada 10 laporan pasien meninggal karena tidak dapat RS di sejumlah daerah.
tirto.id - Laporan kasus pasien COVID-19 yang meninggal lantaran tak dapat perawatan rumah sakit bertambah tiap hari di berbagai daerah. Mereka berjibaku, berkejaran dengan ajal mencari rumah sakit yang kosong dan bisa menampung agar bisa selamat.

Kamis (24/6/2021), Ainun Nitsa panik sejak siang. Ia menelpon puluhan rumah sakit di Kota Surabaya yang bisa menampung pasien COVID-19 bergejala. Pamannya yang berusia sekitar 50 tahun dinyatakan positif COVID-19 dan mengalami gejala sesak napas.

Setelah menelpon sana sini, pamannya akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Namun, tak langsung masuk, ia harus mengantre di Instalasi Gawat Darurat (IGD), baru sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB pamannya bisa masuk IGD, ia dapat tindakan pertama, Ainun pun lega.

Namun ternyata hari itu masih panjang, sepupunya yang menunggu sang paman di rumah sakit berkirim kabar sekitar pukul 21.00 WIB. Pamannya harus dirujuk ke rumah sakit lain, karena kondisinya butuh perawatan intensif, tetapi rumah sakit tersebut tak ada lagi ruang perawatan yang kosong.

Ainun kembali bergegas, sepupunya mengandalkan Ainun untuk menghubungi relasi yang ia punya di rumah sakit. Ainun adalah mahasiswa ilmu kesehatan yang bekerja sebagai tenaga lepas di salah satu rumah sakit milik pemerintah di Surabaya.

“Saya kontak rumah sakit seluruh Surabaya, sampai Gresik dan Jombang. Sudah saya nego-nego tetap saja tidak ada [yang mau terima rujukan]. Ada 20 lebih rumah sakit yang saya telpon termasuk di luar Surabaya. Rumah sakit rata-rata bilang kalau daftar tunggu di IGD masih banyak dan tidak bisa bantu, apalagi di ruang isolasi kemungkinan kosong beberapa hari lagi,” kata Ainun kepada reporter Tirto melalui sambungan telpon, Senin (28/6/2021).



Karena tak ada rumah sakit yang bisa menerima rujukan, pukul 12 malam akhirnya sang paman dibawa pulang. Ia dirawat di rumah dengan tabung oksigen yang dibeli sendiri dengan kapasitas terbatas. Tiap dua jam dipakai, oksigen harus diisi ulang.

Sembari bertahan dengan kondisi yang kritis dan ketergantungan dengan oksigen, Ainun terus berupaya menghubungi rumah sakit, ia berkejaran dengan waktu. Namun hasilnya nihil, sejumlah rumah sakit yang mulanya menjanjikan ketersediaan ruang perawatan nyatanya semuanya masih dalam kondisi penuh.

Akhirnya, sang paman tak kuat lagi menunggu lebih lama. Pada Sabtu (26/6/2021) saat oksigen dilepas untuk diisi ulang, ia meninggal dunia.

Di Jawa Barat, kasus serupa juga terjadi. Seorang pasien lanjut usia terkonfirmasi positif COVID-19 di Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut meninggal dunia pada Rabu (23/6/2021) lantaran kesulitan mendapatkan pelayanan medis akibat penuhnya rumah sakit.

Ikbal Gozali, saudara almarhum bilang sebelumnya pasien mengalami sesak nafas dan sudah berupaya dibawa ke rumah sakit. Tapi semua rumah sakit penuh, tak bisa lagi menampung pasien COVID-19.

“Kondisi saudara saya sesak, susah masuk makanan, cari ruangan ke rumah sakit di perkotaan semua menyatakan sudah penuh,” kata Ikbal seperti dilansir Antara.

Saudaranya tersebut awalnya dinyatakan positif COVID-19 kemudian diminta isolasi mandiri, namun dalam dua hari kondisinya memburuk. Puskesmas setempat meminta agar pasien menunggu.

“Sudah lapor ke puskesmas, tapi katanya harus menunggu, disuruh diberi oksigen tapi tidak dikasih oksigennya," kata dia.

TENDA DARURAT UNTUK PERAWATAN PASIEN COVID-19 DI RSUD BEKASI
Sejumlah petugas medis berjalan usai melakukan perawatan pasien di tenda darurat yang dijadikan IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/6/2021). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/aww.


LaporCOVID-19, koalisi untuk keterbukaan data, lapor warga, kajian, dan advokasi terkait COVID-19 dalam dua pekan terakhir menerima sejumlah laporan adanya pasien COVID-19 yang meninggal karena tak mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Relawan LaporCOVID-19 Windyah memaparkan laporan yang masuk makin hari terus bertambah. Mulai 14 sampai 28 Juni 2021 saja ada 10 laporan yang tersebar di sejumlah daerah.

Sejumlah laporan pasien COVID-19 meninggal karena telat mendapatkan perawatan tersebut di antaranya terjadi pada seorang laki-laki yang meninggal pada 24 Juni 2021 di IGD di sebuah RS di Garut dan mengalami penurunan kondisi kesadaran selama di IGD.

Kemudian seorang laki-laki meninggal di sebuah RS di Depok pada 21 Juni 2021 setelah melakukan pencarian, mengontak 95 Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu. Lalu seorang perempuan di DKI Jakarta meninggal pada 25 Juni 2021 di IGD salah satu rumah sakit di Jakarta lantaran ruang isolasi sudah penuh.

“Ini baru laporan yang masuk ke LaporCOVID-19 saja. Kanal kita enggak terlalu dikenal di daerah-daerah, jadi pasti ada banyak kematian yang belum kita capture,” kata Windyah, Senin (28/6/2021).


Rumah Sakit Kewalahan

Sekretaris Jenderal Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Lia Partakusuma tak memungkiri makin banyak laporan pasien COVID-19 meninggal dunia lantaran tak dapat ditangani oleh rumah sakit. Menurutnya memang hal ini tak lepas dari situasi di rumah sakit yang dalam beberapa hari terakhir makin penuh.

“Pasien tidak bisa ditangani karena penuh. Di IGD itu sudah banyak yang dijadikan tempat untuk isolasi dan yang di tenda juga banyak. Sehingga kalau kami menerima [pasien] lagi, kami sudah bingung mau ditaruh di mana. Tenaga kami juga masih terbatas. Itu yang menjadi kendala,” kata Lia kepada reporter Tirto melalui sambungan telpon.

Situasi saat ini, terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sudah cukup kritis. Penanganan di rumah sakit stagnan, mereka yang menunggu di tenda darurat maupun IGD tak bisa digeser ke ruang isolasi untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sementara tiap hari pasien terus bertambah.

Oleh sebab itu perawatan atau pemeriksaan pun akhirnya dilakukan baik di IGD maupun tenda darurat yang ada di luar rumah sakit.

“Jadi ini stagnasinya itu sudah di luar RS, bukan di dalam RS lagi. Dan sampai di luar RS yang harus kami tangani. Jadinya yang kami screening langsung kami pisahkan masuk ke tenda, kami amati dan di situ juga kita lakukan terapi semampu kami,” ujarnya.

Situasi demikian, kata Lia, tak hanya terjadi di Jabodetabek, tapi hampir terjadi di seluruh provinsi di Pulau Jawa. “Tidak hanya di Jabodetabek, di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta juga sudah ada juga laporan-laporan mereka yang mau ke rumah sakit itu sudah sulit dapat RS. Jadi sudah mulai banyak di daerah-daerah,” kata Lia.

Akibatnya, lantaran terjadi stagnasi dan penuh, memang dia bilang ada sejumlah rumah sakit yang akhirnya melakukan penutupan IGD sementara. Informasi penutupan IGD ini menurutnya semata-mata agar pasien dapat segera dapat mencari rumah sakit lain untuk mencari pertolongan.

Di sisi lain, rumah sakit saat ini terus berupaya untuk mengurai stagnasi di antaranya adalah dengan melakukan pemilihan terhadap pasien-pasien yang hanya bergejala sedang hingga berat. Kemudian mempercepat perawatan pasien, gejalanya sudah membaik maka diminta untuk meneruskan isolasi diri di rumah.

“Agar ada kesempatan bagi yang lain untuk bisa masuk RS, karena kami juga stres untuk memilih mana yang harus masuk dan mana pasien yang harus pulang. Terus terang ini membuat kami sedih ketika ada yang bilang ini konspirasi,” ujarnya.


TENDA DARURAT UNTUK PERAWATAN PASIEN COVID-19 DI RSUD BEKASI
Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/6/2021). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/aww.

Kasus Aktif Melonjak Bikin BOR Kritis

Penambahan kasus aktif atau pasien yang membutuhkan perawatan atau isolasi dari hari ke hari jumlahnya makin melonjak. Pada hari Minggu (27/6/2021) total kasus aktif sebanyak 207.685. Sehari kemudian jumlahnya menjadi 218.476.

Kasus aktif yang tercatat pada Senin (28/6) ini merupakan rekor kasus aktif tertinggi sepanjang pandemi di Indonesia sejak kasus pertama diumumkan pada Maret 2020. Selain itu, kasus aktif tersebut menjadikan tertinggi ketiga di Asia setelah Iran dengan 248.065 kasus aktif dan India dengan 572.963 kasus aktif.

Dengan kasus aktif yang terus melonjak ini, kondisi bed occupancy rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur RS rujukan COVID-19 makin kritis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan [PDF] per 27 Juni 2021 terdapat enam provinsi yang memilliki BOR di atas 80 persen yakni DKI Jakarta 93 persen; Banten 91 persen; Jawa Barat 89 persen; Jawa Tengah 87 persen; dan DI Yogyakarta 86 persen.

Sedangkan jika dilihat lebih detail lagi terdapat 37 kabupaten/kota yang memiliki BOR di atas 90 persen.




Baca juga artikel terkait COVID-19 INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight