Menuju konten utama

Kisah Kru Pertamina Pride dan Gamsunoro Lintasi Selat Hormuz

Kru Pertamina Pride dan Gamsunoro berbagi pengalaman melintasi Selat Hormuz di tengah konflik. PIS menegaskan keselamatan awak kapal menjadi prioritas.

Kisah Kru Pertamina Pride dan Gamsunoro Lintasi Selat Hormuz
Kru Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro. foto/Dok. Pertamina International Shipping
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id -

Keberhasilan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), VLCC Pertamina Pride dan MT Gamsunoro, melintasi Selat Hormuz menjadi kisah penuh ketegangan sekaligus kebanggaan bagi para awak kapal.

Setelah berbulan-bulan bertugas di kawasan Teluk Arab di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik, seluruh kru akhirnya berhasil kembali menjalankan tugas dengan selamat.

Momen kepulangan kru Pertamina Pride disambut hangat jajaran manajemen PIS melalui konferensi video. Salah satu awak kapal, Rizqi Rafif, second officer Pertamina Pride, mengungkapkan rasa lega setelah berhasil keluar dari kawasan yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus berisiko di dunia.
"We are happy to be finally out of Hormuz," ujar Rizqi saat menyapa manajemen PIS merujuk keterangan resmi pada pada Rabu (4/8/2026).
Rizqi bersama 22 kru lainnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada 8 Juli 2026 dan tiba di perairan Cilacap pada 24 Juli. Dalam kesempatan yang sama, kru MT Gamsunoro yang lebih dahulu melintasi Selat Hormuz pada 25 Juni juga turut bergabung. Saat ini, Gamsunoro telah kembali melayani pelanggan pihak ketiga di perairan Singapura.
Di balik senyum para awak kapal, tersimpan pengalaman menegangkan ketika harus melewati jalur pelayaran yang berada di tengah konflik. Jika biasanya para pelaut menghadapi ombak besar, cuaca ekstrem, dan angin kencang, kali ini mereka juga harus berhadapan dengan ancaman akibat situasi keamanan yang tidak menentu.
Third Officer MT Gamsunoro, Daryl Josua Makaminang, mengaku situasi perang sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan awak kapal. Saat melintasi jalur selatan Selat Hormuz, kapal mendapat pengawalan dari Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Bahkan, sehari setelah kapal berhasil melintas, terjadi serangan terhadap kapal lain di kawasan tersebut.
"Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukur kami dapat melewati Selat Hormuz dengan selamat," katanya.
Selama pelayaran, kapal membutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk melintasi Selat Hormuz, termasuk empat jam melewati titik yang dinilai paling kritis. Pertamina Pride juga menghadapi durasi pelayaran yang hampir sama.
Selain ancaman keamanan, kru kapal juga menghadapi tantangan teknis berupa gangguan sistem navigasi GPS (GPS jamming) yang mengharuskan seluruh tim navigasi meningkatkan kewaspadaan.
"Kami sempat khawatir. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan harus mengikuti pihak yang mana. GPS juga mengalami jamming. Bisa dibilang kami sangat beruntung dapat melewati semuanya dengan selamat," ujar Rizqi.
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Surya Tri Harto, memberikan apresiasi kepada seluruh awak kapal yang dinilai mampu menjaga profesionalisme dan ketenangan selama bertugas di kawasan berisiko tinggi.
Menurutnya, keselamatan awak kapal selalu menjadi prioritas utama perusahaan dibandingkan aspek operasional lainnya.
"Keberhasilan ini bukan hanya soal disiplin operasional, tetapi juga tentang kemanusiaan. Sejak kapal memasuki kawasan Teluk, kami terus memantau perkembangan kondisi para kru. Keselamatan seluruh awak kapal selalu menjadi prioritas utama kami, bahkan sebelum kargo dan aktivitas operasional," ujar Surya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh pelaut yang tetap menjalankan tugas menjaga distribusi energi nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
"Bagi kami, kalian adalah pahlawan. Dalam kondisi normal saja para pelaut sudah harus menghadapi ombak, angin, dan lautan. Di Selat Hormuz, kalian menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Semoga seluruh kru selalu diberikan keselamatan dalam setiap pelayaran berikutnya dan situasi dunia dapat segera membaik," katanya.
Senada dengan itu, Komisaris Utama PT Pertamina International Shipping Anwar Saadi mengaku terus mengikuti perkembangan kondisi kedua kapal selama beberapa bulan terakhir.
"Selama beberapa bulan terakhir kami terus mengikuti perkembangan dan sangat mengkhawatirkan keselamatan para kru. Hari ini kami bersyukur melihat seluruh awak Pertamina Pride maupun Gamsunoro dalam keadaan sehat dan kembali dapat tersenyum," ujarnya.
Ia turut mengapresiasi dedikasi para nakhoda dan awak kapal yang berhasil menjaga keselamatan kru, kapal, dan muatan selama melewati kawasan konflik.
Setelah berhasil keluar dari kawasan Teluk, kedua kapal langsung menjalani persiapan untuk pelayaran berikutnya. MT Gamsunoro telah menjalani hull cleaning guna meningkatkan performa dan efisiensi pelayaran, sementara Pertamina Pride melakukan underwater hull cleaning sebagai bagian dari pemeliharaan armada.
Keberhasilan Pertamina Pride dan Gamsunoro melintasi Selat Hormuz menjadi gambaran ketangguhan insan maritim Indonesia dalam menjaga kelancaran distribusi energi nasional. Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, para awak kapal tetap menjalankan tugas dengan profesionalisme, keberanian, dan komitmen tinggi terhadap keselamatan pelayaran.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis