Kisah Jon Gnarr, Pelawak Iseng Ikut Pemilihan Walikota dan Menang

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 10 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Warga ibukota Islandia amat muak dengan elite politik usai krisis finansial 2008. Lahir “protest vote”, yakni siapapun, komedian sekalipun, akan disokong ke balai kota asal bukan borjuasi mapan.
tirto.id - Entah apa yang menyebabkan pasangan Nurhadi-Aldo bisa meraih popularitas dalam waktu singkat. Ada yang menilai keduanya hadir di waktu yang tepat: saat orang-orang muak dengan polarisasi Cebong-Kampret, ketika orang-orang butuh sosok alternatif yang punya kemampuan pemersatu sekaligus lucu.

Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik boleh punya basis penggemar yang luas. Pengikutnya di media sosial juga sudah melampaui jumlah pengikut akun resmi beberapa parpol nasional. Tapi Nurhadi dan Aldo adalah sosok yang fiktif. Pemenang pilpres tahun ini tetaplah antara junjungan si Cebong atau si Kampret.

Jon Gnarr berbeda. Pria asal ibukota Islandia Reykjavik ini berkarier sebagai pelawak. Pada suatu hari ia mendirikan sebuah partai parodi untuk menyindir elite-elite mapan. Tapi dukungannya menguat, hingga partainya benar-benar ikut pemilu lokal. Hasilnya pun mengejutkan semua orang: Jon dan partainya menang.

Jon Gunnar Kristinsson lahir pada 2 Januari 1967. Sally McGrane dari New York Times melaporkan ayahnya adalah seorang polisi dan mantan pekerja dapur restoran. Tapi sang ayah bukan sosok yang bisa dijadikan teladan, sehingga Jon mengubah nama tengahnya menjadi “Gnarr”, sesuai panggilan ibunya, dan tak lagi memakai nama belakang “Kristinnsson”.

Jon tumbuh sebagai remaja bandel. Pada usia 11 tahun ia menyatakan sekolah itu sia-sia belaka sebab tak menunjang cita-citanya sebagai badut sirkus atau perompak. Menginjak usia 13 tahun ia bergabung ke band punk lokal. Setahun kemudian ia dikirim ke sekolah asrama namun keluar pada usia 16 karena tak tahan.

Ada beberapa profesi bergaji pas-pasan yang pernah Jon jalani. Ia juga aktif di organisasi aktivisme seperti Greenpeace. Ia akrab dengan Bjork sebelum Bjork terkenal dan punya band bernama Sugarcubes. Jon sering ikut tur band sambil menulis puisi atau lirik lagu.

Karya tulisnya juga berisi banyolan, yang kemudian ia jadikan sebagai modal untuk mengawali karier di dunia stand-up. Jon juga melawak di stasiun radio, menulis sekaligus membintangi serial komedi di televisi, serta berperan sebagai aktor pendukung di beberapa film komedi.

Keputusannya untuk merambah dunia politik berawal dari krisis finansial yang melanda Islandia pada 2008 (hingga berakhir pada 2011). Tiga bank swasta terbesar di Islandia mengalami default (gagal bayar) akibat sulit membiayai utang jangka pendek dan gagal mengurus deposito di Belanda dan Inggris.


Islandia adalah negara kecil dengan perekonomian yang juga mini. Populasinya mentok di kisaran tiga ratus ribuan. Krisis finansial segera berpengaruh terhadap berbagai aspek dalam kehidupan warga. Tak terkecuali politik.

Masyarakat muak dengan kemapanan elite. Mereka yang berada di akar rumput tiba-tiba punya kewajiban untuk ikut membayar deposan Inggris dan Belanda. Jon merasakan kegelisahan yang sama. Pemikirannya sederhana, sekaligus mewakili keheranan warga Islandia lainnya:

“Mengapa aku harus membayar uang yang tak pernah kupegang?” ujarnya kepada Sally.

Pada akhir 2009 Jon mendirikan Partai Terbaik (Besti flokkurinn). Beberapa temannya ikut bergabung, yang sama-sama tidak punya latar belakang politik. Tujuannya untuk memparodikan politik Islandia secara satire, demi warga Islandia yang lebih gembira.

Ian Birrell dari Guardian melaporkan bagaimana partai membuat semacam disclaimer bahwa janji-janji kampanye partai hanya guyonan. Misalnya, partai blak-blakan menyatakan semua partai arus utama itu diam-diam korup, sambil berjanji akan korup juga tapi tidak dengan diam-diam.

Partai memparodikan kata-kata yang sering dilontarkan para politisi di Islandia, idiom-idiomnya, dan jargon-jargonnya. Warga Islandia terhibur. Jumlah simpatisan melonjak dalam waktu singkat, persis bagaimana pasangan Nurhadi-Aldo mampu meraih popularitas tak lama setelah akun di Facebook mereka mengudara.

Perkembangan positif ini awalnya berlangsung dalam skala yang normal. Lalu, beberapa bulan kemudian, terjadi perubahan situasi yang tidak Jon prediksi sebelumnya: menguatnya aspirasi agar partai ikut pemilu elektoral Reykjavik pada akhir Mei 2010.

Partai Terbaik populer karena warga Reykjavik sedang dilanda krisis kepercayaan terhadap parpol dan politikus arus utama. Hal ini menyadarkan Jon untuk membawa partai ke arah yang lebih serius. Setelah berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Partai Terbaik memutuskan untuk benar-benar maju ke pemilu.

Tugas terberat Jon adalah bagaimana meyakinkan masyarakat dan awak media bahwa partainya telah berubah menjadi partai serius untuk kepentingan pemilu, namun tak akan meninggalkan sisi humorisnya.

Contohnya dalam janji kampanye. Mereka menjanjikan penyediaan handuk gratis di semua kolam renang, satu ekor beruang kutub di kebun binatang kota, satu Disneyland di taman Vatnsmyri, dan parlemen nasional bebas narkoba pada 2020.


Janji-janji tersebut bukan guyon belaka. Pemanasan global membuat banyak beruang kutub yang kehilangan rumahnya di Arktik, berenang ke Islandia, dan berhadapan dengan moncong senjata para pemburu. Maka solusinya adalah dengan menangkap dan mengirim mereka di kebun binatang.

Soal handuk gratis, visinya adalah untuk menarik lebih banyak turis ke Reykjavik. Kolam renang di kota ini memiliki pemandian air panas alami yang mengandung belerang. Akreditasi Uni Eropa mensyaratkan pengelola mesti menyediakan handuk gratis ke pelanggan. Aturan ini dimanfaatkan Jon untuk kampanye, yang nanti ia harapkan turut membantu bisnis lokal.

Strategi ini sukses menarik dukungan massa. Hasil pemilu lokal tahun 2010 menyatakan partai meraih 34,7 persen suara. Jon dan kawan-kawan pun berhak atas enam dari 15 kursi di Dewan Kota Reykjavik.

Tapi partai tidak berhenti di pencapaian itu. Palagan selanjutnya adalah pemilihan walikota (pilwalkot). Jon berhadapan dengan Hanna Birna Ksirstjansdottir, politisi kawakan dari Partai Kemerdekaan (Sjálfstæðisflokkurinn) yang beraliran tengah-kanan. Sementara itu Partai Terbaik didukung oleh partai-partai tengah-kiri.

Kejutan pun datang untuk kedua kali: Jon menang. Ia bertanggung jawab memimpin Reykjavik, ibukota dan kota terbesar di Islandia, hingga 2014.

Kembali merujuk laporan New York Times, Sally meminta pendapat Gunnar Helgi Kristinsson, profesor ilmu politik di University of Iceland, soal pencapaian unik Jon. Gunnar menyebutnya sebagai “protest vote”. Apalagi pada April 2008 muncul laporan yang secara detil menelanjangi kelalaian serta kronisme ekstrem di pemerintahan elite Islandia.


Pada akhirnya, lanjut Gunnar, orang-orang siap untuk mendukung siapapun asal bukan menjadi bagian dari kemapanan politik setempat. “Orang-orang tahu Jon Gnarr adalah pelawak yang baik, tetapi mereka tidak tahu apa-apa tentang sikap politiknya. Sebagai komedian, kau tak tahu ia sedang serius atau bercanda.”

Menanggapi hal ini, Jon berkata persis seperti di masa kampanye dahulu, saat ia berhadapan dengan masyarakat yang menganggapnya sedang membanyol belaka: “Hanya karena sesuatu itu lucu, bukan berarti hal tersebut tidak serius.”

Infografik Jon Gnarr Rev
Infografik Jon Gnarr


Independent pernah melaporkan Jon juga kesal dengan awak media yang menuduhnya hanya seorang bodoh yang tak menganggap segala sesuatunya dengan serius. Pledoinya:

“Ayolah, aku ayah dari lima anak, aku telah memakamkan kedua orangtuaku, aku tak tertawa saat menjalani hal-hal tersebut. Anak-anak yang kubesarkan tumbuh menjadi orang normal. Aku bisa serius saat dibutuhkan.”

Jon merealisasikan keseriusannya dengan memenuhi janji-janji kampanye Partai Terbaik selama menjabat sebagai walikota—termasuk membagi handuk gratis ke para pengelola kolam renang di Reykjavik.

Jon menampilkan dua wajah selama berkantor di balai kota. Tak lama setelah dilantik, ia tampil sebagai waria di parade gay. Ia memposting ucapan selamat liburan dengan mengenakan topeng Darth Vader bertopi Santa Claus. Ia juga mewacanakan agar Reykjavik merger dengan pemerintah kota tetangga, Kopavogur.


Itu wajah komedinya. Wajah serius ia tunjukkan dengan memprotes perlakuan represif pemerintah Cina terhadap pembangkang Liu Xiaobo. Sikap ini datang sebelum pengumuman Liu mendapat penghargaan Nobel Perdamaian 2010. Contoh lain adalah dengan memberi ijin pembangunan masjid pertama di Islandia yang selama ini bernasib tak jelas.

Kontributor Forbes Joseph Steinberg pernah meliput bincang-bincang bersama Jon di Hudson Union Society, New York, pada Juli 2014. Jon saat itu sudah menyelesaikan masa baktinya dan membagikan beberapa poin penting dari pengalamannya sebagai Walikota Reykjavik.

Pertama, jangan mudah meremehkan orang. Seorang pelawak bisa saja jadi walikota jika ia serius memperjuangkannya. Kedua, untuk bisa memenangkan pertarungan politik, pahami sentimen publik. Ubah sentimen itu menjadi kesempatan—sebagaimana Jon lakukan dengan krisis finansial Islandia.

Ketiga, jangan lupa bersenang-senang. Kegembiraan adalah yang membuat tim Jon mampu melewati masa-masa kampanye hingga selama memimpin Reykjavik. Keempat, senang-senang itu juga berarti lebih peka dalam memainkan satire, karena satire kerap jadi medium penyampai perasaan dengan lebih kuat ketimbang strategi pemasaran langsung.

Kelima, yang terakhir, sesuai dengan pepatah “sekali berarti sudah itu mati”. Jon sadar ia akan menjadi bagian dari politik arus utama yang dulu ia kritik habis-habisan jika ia meneruskan ambisi berkuasa melalui Partai Terbaik.

Maka, keputusan yang paling bijak adalah dengan membubarkan partai setelah ia merampungkan tugas sebagai walikota. Ia pun tidak mengincar jabatan untuk kedua kalinya. Partai Terbaik sudah melakukan misi utamanya: membawa perubahan, menjadi kekuatan yang nyata di luar lingkaran kekuasaan yang mapan.

Baca juga artikel terkait ISLANDIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf