tirto.id - Siang itu, Jumat (22/5/2026), suasana ruang pelatihan Rumah Belajar Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) di Karawaci mendadak riuh. Siswa SMK HS Agung Bekasi yang mengikuti pelatihan tampak serius memperhatikan materi jaringan telekomunikasi, sebagiannya mengarahkan ponsel mengabadikan momen.
Mereka terpukau melihat teknologi baru seperti menara kamuflase, sebuah dunia telekomunikasi modern yang belum pernah menyentuh ruang kelas. Di balik antusiasme itu, tersimpan kegelisahan nyata pihak industri: jurang kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan industri.
Ketika industri melesat bersama serat optik, banyak sekolah vokasi kedapatan masih gagap, berkutat pada jaringan kabel usang, dan melahirkan lulusan yang bahkan enggan merantau demi mengejar karier.
“Banyak sekolah yang minta kunjungan industri. Dari situ akhirnya kita buka program ini,” kata CSR Analyst TBIG, Revfath Rizqon Safaat.
Program pendidikan dan pelatihan itu sejatinya telah dimulai sejak 2014. Awalnya hanya melibatkan tiga SMK di Semarang, Surabaya, dan Palembang. Saat masa COVID-19 datang, sistem pelatihan terpaksa beralih menjadi daring menggunakan learning management system (LMS). Sejak saat itu, program berkembang pesat hingga menjangkau 64 sekolah di 14 provinsi.
Mayoritas peserta berasal dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), disusul jurusan elektro dan mesin. Mereka dibekali materi teknis hingga pelatihan soft skill sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.
“Masih banyak yang belum tahu fiber optik,” ujar Revfath.
Padahal, teknologi fiber optik kini menjadi tulang punggung jaringan telekomunikasi modern. Di lapangan, kebutuhan industri bergerak serba cepat. Sementara di banyak sekolah, pembelajaran masih berkutat pada jaringan LAN konvensional.
“Survei di beberapa daerah menunjukkan mereka masih fokus di jaringan kabel biasa. Bahkan alatnya ada, tapi enggak bisa mengoperasikan,” ujarnya.
Revfath menegaskan kesenjangan itulah yang coba dipangkas melalui pelatihan industri. Materi disusun bersama para subject matter expert (SME) perusahaan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Bukan hanya soal teknis pemasangan jaringan, tetapi juga budaya kerja industri.
Mulai dari SMK3L, business process, komunikasi dasar, hingga core value perusahaan diajarkan kepada para siswa.
“Kita enggak cuma melatih hard skill, tapi juga soft skill,” katanya.
Bagi sekolah, pengenalan langsung terhadap dunia industri menjadi penting karena siswa yang mengikuti kunjungan merupakan lulusan kelas 12 yang segera memasuki dunia kerja.
“Yang ikut kunjungan ini kelas 12 karena mereka sudah lulus dan akan terjun ke dunia industri. Jadi mereka perlu mengenal perangkat-perangkat apa saja yang ada di perusahaan ini,” kata Agung.
Program pelatihan tersebut berfungsi sebagai basis perekrutan tenaga kerja. Selain membekali peserta dengan sertifikat resmi dan penilaian performa, kandidat dengan capaian nilai tertinggi biasanya akan diprioritaskan dalam proses seleksi rekrutmen perusahaan.
“Biasanya yang ikut pelatihan itu yang akan direkrut. Di pelatihan itu dapat sertifikat dan ada nilainya. Mungkin yang nilainya tertinggi yang diseleksi untuk direkrut,” ujarnya.
Pada 2025, tercatat ada 1.569 peserta yang mengikuti pelatihan. Namun, hanya 145 orang yang dinyatakan lulus sesuai standar perusahaan setelah melewati pre-test, post-test, dan evaluasi kehadiran.
Dari jumlah itu, hanya 84 orang yang akhirnya terserap ke dunia kerja atau magang di perusahaan mitra. Persoalannya ternyata bukan semata kemampuan teknis.
“Banyak yang enggak mau ditempatkan di luar domisili,” ujar perwakilan perusahaan.
Fenomena itu, menurutnya, menjadi tantangan baru dalam dunia ketenagakerjaan generasi muda. Banyak lulusan SMK memilih tetap berada di daerah asal dibanding merantau untuk bekerja.
“Ada yang dari Jember ditawari ke Jakarta enggak mau. Ada juga yang maunya tetap di Palembang,” katanya.
Padahal, perusahaan telah menyiapkan berbagai fasilitas bagi peserta magang lintas daerah, mulai dari uang saku, transportasi, hingga tempat tinggal.
Namun, bagi sebagian siswa dan keluarga, meninggalkan kampung halaman tetap bukan keputusan yang mudah.
Kesulitan Sekolah

Ketua Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK HS Agung sekaligus ketua pelaksana kunjungan, Iskandar Zain Agung, mengatakan selama ini sekolah kesulitan mencari perusahaan yang benar-benar linear dengan kompetensi siswa TKJ.
“Biasanya kita kunjungan industri ke perusahaan manufaktur yang tidak sejalan dengan jurusannya. Makanya kita pilih TBIG karena TKJ itu tentang jaringan, dan ini baru pertama kali ke sini,” kata Agung.
Menurutnya, hubungan sekolah dengan perusahaan bermula dari jejaring Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kabupaten Bekasi. Dari forum guru TKJ tersebut, sekolah mulai mengenal program pelatihan dan kurikulum industri yang dimiliki perusahaan.
“Awalnya kita dijembatani MGMP Kabupaten Bekasi. Sebelumnya kita susah mencari perusahaan yang linear dengan jurusan TKJ. Harapannya ke depan anak-anak bisa direkrut ke sini,” ujarnya.
Di sisi lain, kunjungan industri justru membuka wawasan baru bagi siswa mengenai teknologi telekomunikasi yang sebelumnya belum mereka pahami secara mendalam.
Salah satu siswi SMK HS Agung, Nisa Putri (18), mengaku baru mengetahui berbagai jenis tower telekomunikasi, termasuk tower kamuflase yang dibuat menyerupai lingkungan sekitar.
“Baru pertama ke sini, jadi tahu jenis tower itu apa saja, termasuk tower kamuflase. Ini menambah hal baru dan kayaknya kita perlu tambah belajar lagi, misalnya tentang coding,” ujarnya.
Potret kisah dari penuturan para siswa, keluhan pihak sekolah, hingga fakta di lantai industri ini akhirnya menyingkap fakta selama ini yang menyelimuti wajah pendidikan vokasi di Indonesia. Ada kenyataan pahit yang harus didekap bahwa kurikulum sekolah kerap berjalan lambat, tertinggal beberapa langkah di belakang derap kebutuhan industri yang melesat cepat.
Ruang kelas gagap merespons zaman, sementara dunia kerja hari ini mamandang selembar ijazah kelulusan tak lagi cukup menjadi jaminan masa depan.
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































