Menuju konten utama

Kepala Barantin Yakin Prospek Dagang RI-China Makin Mengkilap

Abdul Kadir Karding optimistis kunjungan Otoritas Bea Cukai China (GACC) ke tanah air bakal membuka lebih banyak peluang ekspor bagi Indonesia.

Kepala Barantin Yakin Prospek Dagang RI-China Makin Mengkilap
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding. Foto/Dok. Barantin.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding yakin prospek perdagangan ekspor-impor RI dengan China akan semakin membaik ke depannya. Apalagi dengan rencana kedatangan Otoritas Bea Cukai China, General Administration of Customs China (GACC) pertengahan Juli ini.

Hal ini ditegaskan Karding usai melakukan pertemuan audiensi dengan eksportir Macaca hingga Sarang Burung Walet (SBW), Rabu 1 Juli kemarin.

Kedatangan GACC akan membahas banyak prospek ekspor yang bisa dilakukan, termasuk komoditi tumbuhan dan ikan. Namun, secara khusus GACC juga datang untuk menyelesaikan isu kadar aluminium pada SBW yang dianggap melebihi ambang batas. Akibatnya ada belasan perusahaan yang terkena suspend ekspor sarang burung walet ke China.

Karding menjelaskan persoalan kandungan aluminium pada SBW yang sedang ditangani hanya bersifat sementara dan sudah berada pada tahap akhir penyelesaian.

"Barantin secara aktif terus melakukan langkah pembenahan, mulai dari memperkuat komunikasi dengan China, membenahi regulasi," kata Karding dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

"Kedatangan GACC ke Indonesia justru akan semakin bisa membuka lebarnya ekspor ke China," lanjut dia lagi.

Data Barantin menunjukkan terdapat 75 perusahaan SBW terdaftar di Barantin, 50 perusahaan terdaftar di China Import Food Enterprises Registration (CIFER), dan 25 perusahaan masih dalam proses pendaftaran CIFER.

Hingga bulan Juni 2026 terdapat 4.204 rumah walet yang telah teregistrasi, dan 104 rumah walet dalam proses registrasi.

Dalam lanskap ekspor, sektor tumbuhan memimpin perolehan nilai ekspor secara signifikan dengan komoditas sawit dan turunannya yang menembus nilai lebih dari Rp32,03 triliun, diikuti kopi biji sebesar Rp6,9 triliun, dan pinang biji senilai Rp2,9 triliun. Sektor hewan didorong oleh komoditas sarang burung walet (SBW) dengan nilai ekonomi mencapai Rp3,6 triliun.

Tenaga Ahli Barantin bidang Komunikasi, Moksa Hutasoit menjelaskan, pihaknya memang terus menyerap masukan dari sejumlah pelaku usaha untuk bisa memaksimalkan ekspor-impor ke negara sahabat. Dengan komunikasi yang baik, tata kelola dan permasalahan di lapangan dapat diketahui langsung oleh Kepala Badan Karantina untuk bisa memperbaiki regulasi.

"Tujuan Kepala Badan Karantina membuka ruang komunikasi memang untuk menyerap masukan langsung dari pelaku usaha sehingga tata kelola bisa diperbaiki yang bisa meningkatkan perekonomian negara," kata Moksa terpisah.

Penulis: Tim Media Servis