Kepala Bappenas Keluhkan Jumlah Insinyur di Indonesia Masih Minim

Oleh: Damianus Andreas - 22 November 2018
Dibaca Normal 1 menit
Minimnya jumlah insinyur ini menghambat kemajuan industri,” kata Bambang.
tirto.id - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia masih banyak kekurangan insinyur. Sebab, dari sekitar 100 ribu lulusan insinyur, hanya sekitar 5 ribu yang bekerja secara profesional sesuai di bidangnya.

“Angka ini termasuk insinyur-insinyur di luar ITB (Institut Teknologi Bandung). Minimnya jumlah insinyur ini menghambat kemajuan industri,” kata Bambang dalam acara diskusi yang diadakan alumni ITB di Energy Building, Jakarta pada Kamis (22/11/2018).

Minimnya jumlah insinyur itu, lanjut Bambang, turut menghambat sejumlah industri seperti infrastruktur dan manufaktur. Oleh karena itu, Bambang mengatakan perlu adanya reformasi secara struktural sehingga mampu memberikan nilai tambah dan bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Apabila ada banyak insinyur yang berkecimpung di sektor manufaktur, maka hal itu bisa membuat Indonesia lebih maju. Pasalnya, kata Bambang, kunci pertumbuhan ekonomi saat ini terletak pada sektor jasa dan manufaktur.

Ia juga menyayangkan pertumbuhan di industri manufaktur masih kalah dibandingkan industri telekomunikasi, transportasi, dan jasa lain, serta infrastruktur. Pasalnya, sejak 2014, pertumbuhan industri manufaktur tidak pernah tercatat lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi.

Dalam kesempatan itu, Bambang tak hanya mendorong agar memperbanyak jumlah insinyur saja, tetapi juga mengimbau agar memperbanyak jumlah wirausahawan. Sebab, menurut Bambang, karakteristik dari negara maju adalah harus memiliki banyak wirausahawan.

“Tidak ada negara maju karena banyak PNS. Ini pengamatan saya sendiri. Maka harus terus didorong agar lebih banyak wirausahawan yang sektornya menjadi basis dari nilai tambah,” ungkap Bambang.

Berdasarkan perhitungan Bambang, potensi pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia saat ini hanya bisa berada di kisaran 5,3 persen. Apabila ingin menaikkan angka tersebut, Bambang menekankan perlu adanya pengoptimalan terhadap sumber daya dan kebijakan untuk melakukan reformasi struktural.

“Kalau mau pertumbuhan ekonominya lebih dari 5,3 persen, harus berfokus pada sektor manufaktur dan jasa modern,” ucap Bambang.


Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Alexander Haryanto