Menuju konten utama

Kemenkeu Waspadai Lonjakan Harga Minyak Imbas Perang Israel-Iran

Realisasi asumsi makro APBN 2025 berpotensi meleset, terutama terkait harga minyak.

Kemenkeu Waspadai Lonjakan Harga Minyak Imbas Perang Israel-Iran
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan pada konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (23/5/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menyoroti kenaikan harga minyak mentah dunia imbas meningkatnya eskalasi perang antara Israel dan Iran.

Pada hari pertama pecahnya perang antara kedua negara itu pada 15 Juni 2025, harga minyak mentah Brent sudah mengalami kenaikan hingga 8 persen dari yang sebelumnya hanya berada di kisaran harga 70 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

"Untuk Brent, bahkan terjadi kenaikan lonjakan bahkan tertinggi sempat mencapai 78 US dolar per barel. Naik hampir sekitar 9 persen," katanya dalam Konferensi Pers APBN Kita Juni 2025, di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (17/6/2025).

Meski harga minyak mentah Brent kembali terkontraksi menjadi 75 dolar AS per barel, namun lonjakan harga minyak mentah dunia ini cukup menjadi bukti bahwa harga komoditas global sangat rentan terhadap gejolak geopolotik.

Selain harga komoditas, nilai tukar, suku bunga dan arus modal asing juga sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang kembali meningkat karena eskalasi perang antara Israel dan Iran yang semakin memanas.

Sayangnya, semakin panasnya hubungan kedua negara itu juga berpotensi mempengaruhi realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

"Apa yang sekarang sedang berlaksung di Timur Tengah, yaitu perang antara Israel dengan Iran, ini adalah situasi APBN yang kita semuanya tahu asumsinya saja sangat bisa dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global dan kejadian perang di satu belahan dunia yang lain," tambah Sri Mulyani.

Bagaimana tidak, dengan kini kebutuhan minyak Indonesia masih harus dipenuhi oleh pasokan impor, lonjakan harga minyak dunia berpotensi membuat APBN semakin tertekan.

Ani, sapaan Sri Mulyani, menjelaskan, dengan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) mencapai 82 dolar AS per barel dan adanya pelemahan rupiah yang terjadi beberapa waktu terakhir, secara tahun berjalan (year to date/ytd) kenaikan harga minyak mentah mencapai 70,05 persen.

Namun, kenaikan harga ini dinilai masih di bawah harga asumsi APBN 2025, degan realisasi lifting minyak hanya sebesar 567 ribu barel per hari.

"Kita harapkan nanti dari Menteri ESDM dan SKK (Migas), akan menyampaikan moga-moga lifting minyak bisa naik menembus di atas 600 (ribu barel per hari) lagi, lifting gas di 987,5 ribu setara minyak per barrel per hari, di bawah asumsi kita 1.005.000 barrel setara minyak per hari," pesan Ani, kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Baca juga artikel terkait APBN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana