tirto.id - Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Nathan Kacaribu, menampik anggapan bahwa turunnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) September 2025 menjadi sebesar 115,0 terjadi karena insentif yang diguyur pemerintah sejak semester I 2025 tidak efektif.
Menurutnya, stimulus memberikan dampak cukup besar pada konsumsi masyarakat, yang terlihat dari peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara yang mengalami peningkatan didorong oleh diskon tarif angkutan yang diberikan pemerintah.
“Gimana nggak efektif? Wong Q2-nya (kuartal II) kan orang banyak jalan-jalan dan itu konsumsi kan (tumbuh) cukup resilient,” kata dia, dalam Media Gathering APBN 2026, di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2025).
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif di semester I 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 25,93 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 613,78 juta perjalanan. Peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara ini pun menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih bisa berada di level 4,97 persen (yoy).
Meski begitu, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) itu mengakui bahwa perlambatan ekonomi yang terjadi di kuartal II 2025 akan membuat produk domestik bruto (PDB) kuartal III tumbuh melambat di kisaran 5,1 persen.
“Makanya tadi walaupun Q3 kelihatannya sih akan cukup resilient, mungkin sekitar 5, 5,1, tapi kalau untuk …. karena ekspor kita masih bagus untuk Q3-nya,” lanjutnya.
Memasuki semester II 2025, pemerintah kembali menggulirkan paket-paket ekonomi untuk mengerek pertumbuhan lebih tinggi, termasuk salah satunya melalui penempatan dana segar ke bank-bank pelat merah hingga paket stimulus 8+4+5 yang digulirkan September kemarin. Melalui paket-paket stimulus itu, Febrio yakin perbaikan akan segera terjadi di Oktober hingga akhir Desember nanti.
Bahkan, dengan didukung oleh Indeks PMI manufaktur yang terus mengalami ekspansi, Febrio optimis di akhir tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus level 5,5 persen.
“Sementara untuk Q4, ekspor terus bagus, PMI tetap expansif walaupun kemarin kondisi September, tetap expansif lho Septembenya to? Nah, terus kita lihat nanti dengan tambahan stimulus, kita melihat Q4 itu bisa di sekitar 5,5,” tegas Febrio.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































