Kasus Robot Gedek: Konspirasi atau Memang Aksi Keji?

Oleh: Faisal Irfani - 15 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dua dekade silam, Jakarta dihebohkan oleh kasus pembunuhan berantai dengan Robot Gedek sebagai pelaku utama. Korbannya belasan anak yang dicabuli dan dibunuh.
tirto.id - Jakarta, 22 tahun silam, tak ubahnya San Fransisco dalam film Zodiac (2007) besutan David Fincher. Ketakutan menyelimuti hampir seisi kota karena kasus pembunuhan berantai. Media lokal dan nasional sibuk mewartakan, polisi panik mencari pelaku, dan masyarakat dipenuhi perasaan was-was; siapa tahu salah satu dari mereka jadi korban berikutnya.

Bedanya, jika di Zodiac si pelaku nampak mempersiapkan semua aksi brutalnya secara rapi, pelaku pembunuhan di Jakarta melakukan kekejaman sekenanya.

Publik mengenal pelaku pembunuhan berantai di Jakarta dengan nama Siswanto, atau biasa dikenal dengan Robot Gedek.

Anak-anak dan Sayatan di Perut


“Setelah itu, wis, pokoknya lega saja. Terus kepingin lagi.”

Bagi Robot, seperti yang ia utarakan kepada Gatra, membunuh adalah perkara sensasi. Tidak ada motif dendam atau mencari popularitas. Ia cuma ingin memenuhi hasratnya. Tak lebih, tak kurang.

Kasus Robot mencuat ke permukaan pada 1997. Ia ditangkap polisi lantaran menjadi terdakwa sodomi dan pembunuhan terhadap sejumlah anak jalanan.

Tabi Robot berbeda: ia bukanlah siapa-siapa. Ia bukan anggota gangster, bukan kriminal tulen. Ia sebatas, mengutip Kompas, “manusia terpinggirkan yang terdampar di riuh rendahnya Jakarta.”

Majalah Gatra dalam “Awas, Pemangsa Bocah” yang terbit pada 2010 mendeskripsikan sosok Robot seperti berikut: gelandangan berkaki timpang, berpostur pendek, tidak kekar, bungkuk, dan berjalan pincang. Gatra juga menyebut bahwa kepala Robot Gedek teleng, alias menggeleng tanpa sebab—inilah yang menyebabkan ia dipanggil “Robot Gedek.”


Menurut catatan polisi, Robot melakukan aksi bengisnya dalam kurun waktu 1994 sampai 1996. Korbannya delapan anak jalanan di Jakarta. Empat mayat korban ditemukan di Kemayoran, Jakarta Pusat, sisanya di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kondisi mereka seragam; bekas jeratan di leher, sayatan di perut, dan anusnya terdapat bekas luka terkena benda tumpul.

Polisi sempat kewalahan mengusut pembunuhan berantai ini. Hampir dua tahun, polisi, catat Gatra, “seperti menemui jalan buntu”. Polisi memperoleh titik terang usai korban kedelapan (namanya Kasikin) ditemukan. Ditambah lagi, polisi mendapatkan keterangan beberapa saksi. Dari keterangan tersebut, ketemulah nama Robot.

Mulanya polisi ragu dengan nama Robot. Pasalnya, secara fisik Robot dianggap “tidak seperti seorang pembunuh”. Namun, setelah melakukan pengecekan berkali-kali, polisi akhirnya meyakini bahwa pelaku pembunuhan adalah Robot.

Upaya pencarian Robot pun segera dilakukan. Tapi, polisi tak menemukan Robot di Jakarta. Berdasarkan informasi yang polisi dapatkan, Robot pulang ke kampung halaman di Ketandan, Batang, Jawa Tengah.

Polisi, masih menurut Gatra, lalu menciduk Robot ketika ia sedang mengemis di stasiun kereta api di Tegal.

Pada 1997, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Robot. Ia kemudian dimasukkan ke LP Nusakambangan, Cilacap. Satu dekade berselang, Robot Gedek tewas akibat serangan jantung.

Mengenai pembunuhan berantai yang dilakukan Robot tersebut, Erlangga Masdiana, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa anak-anak ditargetkan jadi korban karena “mereka tidak punya kekuatan untuk melawan.”

Menutupi Pelaku Lain?


Robot memang sudah ditangkap, tapi pembahasan mengenai kasus ini terus bergulir. Muncul dugaan, Robot bukanlah pelaku pelaku pembunuhan berantai. Ia hanya korban salah tangkap dan tumbal untuk menutupi keberadaan pelaku yang asli.

Usman Hamid, yang saat itu masih bekerja di KontraS, mengatakan bahwa Robot tidak mempunyai kemampuan membunuh karena di samping ia kurang waras, Robot juga dikenal sebagai pribadi yang lugu.

Lantas siapa yang diasumsikan jadi pelaku asli pembunuhan berantai ini?

Namanya Baekuni, alias Babe. Pada 2010 silam, catat Liputan 6, Babe ditangkap polisi setelah ditetapkan jadi tersangka pembunuhan berantai terhadap 14 anak. Motifnya: korban menolak hasrat seksual Babe. Cara Babe menghilangkan nyawa mereka juga sama: menjerat leher korban dengan tali rafia hitam. Setelah korbannya tak bernyawa, Babe menyalurkan hasrat seksualnya. Sebagian besar korban Babe dimutilasi.

Teori yang beredar seperti ini: yang membunuh anak-anak itu bukan Robot, melainkan Babe. Ia menjadikan Robot sebagai tameng atas perilaku bengisnya.

Hal ini bisa dilihat dari, pertama, Babe merupakan satu-satunya saksi yang memberatkan Robot dalam persidangan. Waktu itu, Babe memakai nama Sunarto. Ia mengatakan kepada hakim bahwa ia melihat Robot melakukan aksi brutalnya di dekat bekas Bandar Udara Kemayoran sekitar pukul 01.00. Dalam persidangan, Sunarto alias Babe mengaku sebagai pedagang baju bekas di Pasar Jiung, Kemayoran.


Faktor kedua, seperti dituturkan Febry Irmansyah, pengacara Robot, sekalipun Robot mengakui kesalahannya, akan tetapi keterangannya patut diragukan mengingat Robot punya masalah kejiwaan. Ketiga, ada korban Babe yang punya identitas sama dengan korban Robot. Korban bernama Rio, misalnya.

Namun, tuduhan itu ditolak kuasa hukum Babe, Rangga Rikuser. Menurut Rangga, Babe memang kenal Robot. Namun, hanya sebatas teman seprofesi di jalanan. Rangga juga menambahkan bahwa Babe tak pernah jadi saksi dalam kasus Robot.

Sementara itu, Boy Rafli Amar, Kabid Humas Polda Metro Jaya, bersikukuh apabila Babe dan Robot Gedek sama sekali tidak memiliki keterkaitan. Bahkan keputusan hakim dalam memvonis Robot Gedek, menurutnya atas dasar pembuktian.

Infografik Robot Gedek


“Jadi tidak serta merta kita menuduh Robot Gedek,” kata Boy, sebagaimana diwartakan Detik. “Tolonglah hormati proses peradilan yang sudah lewat itu.”

Pernyataan Boy dibenarkan Edward Syah Pernong, saat itu menjabat Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Pusat. Edward menegaskan, Robot dan Babe adalah dua kasus yang berbeda. Menurut Edward, dalam mengusut kasus Robot, polisi telah menerapkan sistem identifikasi berdasarkan prinsip ilmiah guna mengidentifikasi tersangka.

Setelah itu, sebagaimana dilaporkan Gatra dalam “Dua Babe, Dua Tempus,” polisi lalu “melakukan pengumpulan data secara total, akurat, prosedural, hati-hati, serius, faktual, utuh, berhubungan, dan mencari kebenaran.”

Dalam mengungkap perkara Robot, terang Edward, ada tiga hal yang dikulik penyidik: bukti langsung, bukti penghubung, dan bukti pencari. Polisi menemukan bekas sperma Robot di TKP. Kemudian, sidik jari Robot juga teridentifikasi pada pisau cutter yang tertinggal di TKP.

Beberapa barang milik korban juga ditemukan pada Robot. Belum lagi keterangan dari saksi yang menyaksikan korban selalu bersama Robot. Faktor yang menambah keyakinan Edward ialah pengakuan dari Robot sendiri yang mengaku telah membunuh beberapa anak. Plus, Robot menyebutkan beberapa tempat kejadian di mana ia melakukan aksi-aksinya.

“Dari segi lokus, korpus, tempus, dan modus antara Robot dan Babe berbeda,” ujar Edward.

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf