Pandemi COVID-19

Kasus COVID Mulai Melandai, Mengapa Kematian Konsisten Tinggi?

Oleh: Irwan Syambudi - 22 Agustus 2021
Dibaca Normal 3 menit
Dewan Pakar IAKMI Hermawan sebut 122.633 bukan jumlah kecil. Tingginya kematian ini menunjukkan kegagalan dalam penanganan pandemi.
tirto.id - Dalam beberapa hari terakhir kurva penambahan kasus baru COVID-19 di Indonesia mulai melandai. Namun kasus meninggal konsisten di atas 1.000 tiap hari. Meski pemerintah mengklaim hal itu disebabkan data kematian terdahulu dan baru dilaporkan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa kasus kematian COVID-19 di Indonesia sangat tinggi dan yang terlihat adalah fenomena gunung es.

Tren melandainya penambahan kasus COVID-19 itu bisa dilihat berdasarkan data sepekan terakhir. Setidaknya sejak 14 Agustus 2021 penambahan kasus baru ajeg di bawah 30 ribu kasus. Angka itu setidaknya membuat grafik agak landai, jika dibandingkan mulai 6 Juli 2021 lalu yang nyaris selalu terjadi penambahan kasus di atas 30 ribu bahkan pucaknya mencapai 56.757 kasus pada 16 Juli 2021.

Namun tren penurunan itu tak terjadi pada penambahan kasus kematian, yang sejak 16 Juli 2021 sampai 19 Agustus 2021 ajeg di atas 1.000 kematian tiap hari. Pada 18 Juli 2021 sempat terjadi penurunan di angka 1.128, tapi sehari setelahnya kembali meningkat menjadi 1.492 kematian.

Pada 19 Agustus 2021 secara kumulatif ada 3.930.300 orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 dan 122.633 meninggal dunia.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Siti Nadia Tarmizi bilang penyebab angka kematian yang konsisten di atas 1.000 per hari itu lantaran masih adanya data kematian dari hari-hari sebelumnya yang baru dilaporkan.

“Ada data rapelan yang di-update sehubungan banyak kasus aktif tanpa hasil sudah lebih dari 21 hari,” kata Nadia saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (19/8/2021).


Fenomena Gunung Es Angka Kematian

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan 122.633 bukanlah angka yang kecil. Kalaupun data yang dilaporkan tiap hari itu adalah data yang telat, maka menurutnya data riil jauh lebih banyak. Ia menyebut ini sebagai fenomena gunung es, bahwa yang terlihat atau dilaporkan lebih sedikit dari pada yang tidak atau belum terlapor.

“[Angka kematian yang tinggi] tidak bisa dipungkiri, ini fenomena gunung es,” kata Hermawan kepada reporter Tirto melalui sambungan telepon, Kamis (19/8/2021).

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan yang mempertahankan argumen bahwa penyebab tingginya angka kematian adalah karena adanya data yang telat dilaporkan, malah menjadi tanda tanya menurut Hermawan. Kenapa angka kematian tiap hari konstan di atas 1.000, tetapi selalu di bawah 2.000 per hari?


Namun bagaimanapun itu, kata dia, tingginya angka kematian ini telah menunjukkan kegagalan dalam penanganan pandemi. Pertama adalah karena terjadinya keterlambatan deteksi, sehingga orang-orang yang tak terdeteksi terlambat mendapatkan penanganan sehingga di antaranya meninggal.

Yang kedua, kata Hermawan, menunjukkan kualitas penanganan COVID-19 itu sendiri, bahwa karena adanya kelebihan kapasitas pasien mengakibatkan penanganan stagnan dan di saat yang sama infrastruktur dan sumber daya kesehatan tidak siap. Sehingga penanganan COVID-19 di Indonesia jadi sorotan.

“Itu sebabnya angka kematian itu tidak serta merta dilihat sebagai suatu yang sepele. Angka kematian itu berbicara banyak terutama kaitan dengan kualitas penanganannya,” kata Hermawan.

Di satu sisi memang saat ini terjadi perlambatan penambahan kasus COVID-19 harian. Penurunan kasus ini menurutnya cenderung terjadi pada kota-kota besar di Pulau Jawa, setelah diberlakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM ) level 4 atau yang paling ketat.

Namun, yang masih menjadi kewaspadaan adalah pergeseran peningkatan kasus di luar Pulau Jawa, namun belum diikuti dengan kesiapan penanganan. Pertama yang jadi sorotan Hermawan adalah kapasitas testing, tracing, dan treatment (3T) yang masih rendah .

Berdasarkan data mingguan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional, sejumlah daerah di luar Pulau Jawa memiliki indikator penanganan pandemi yang memburuk, yakni dari aspek penambahan kasus, kesembuhan, dan kematian Covid-19 mingguan.

Di tengah situasi itu, yang menjadi kekhawatiran Hermawan adalah kemampuan respons daerah yang agak lemah, sehinga memungkinkan angka kasus COVID-19 rendah, tetapi angka kematian tetap tinggi karena banyak kasus yang tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan.

Kekhawatiran Hermawan itu memang masuk akal. Sebab di tengah lonjakan kasus COVID-19 di luar Pulau Jawa, angka testing nasional menunjukkan tren yang menurun setidaknya dalam 10 hari terakhir.

Pada 10-14 Agustus 2021 misalnya jumlah orang yang dites konsisten di atas 100 ribu. Namun kemudian menurun pada 15-19 Agustus 2021, dari lima hari hanya 2 hari yang mencapai 100 ribu lebih, tiga hari sisanya hanya berkisar 78-89 ribu orang yang dites.



Epidemiolog asal Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan dengan angka kematian yang begitu tinggi meski di tengah persoalan validitas pelaporan data dan rendahnya kapasitas, testing ini merupakan suatu yang mengkhawatirkan.

“Di tengah keterbatasan [pencatatan] itu angka kematian masih tinggi maka menurut saya ini angka kematian yang sesungguhnya lebih banyak dua atau tiga kali lipat,” kata Dicky melalui sambungan telepon.

Tingginya kematian ini, kata dia, memberikan pesan jelas bahwa terjadi masalah penanganan dari hulu sampai hilir. Tak hanya melulu soal fasilitas kesehatan yang mengakibatkan tingginya angka kematian di tengah pandemi, tetapi juga faktor dukungan ekonomi sosial itu turut mempengaruhi.


9 Provinsi Jadi Sorotan

Juru Bicara Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan perkembangan data COVID-19 di tingkat nasional telah menunjukkan tren perbaikan dibandingkan saat terjadinya lonjakan kasus beberapa waktu lalu. Ia menyebut kasus positif, kematian, dan BOR telah mengalami penurunan dalam 3-4 minggu terakhir. Kesembuhan pun juga mengalami peningkatan.

Wiku mengatakan terjadi penurunan kasus positif pada 25 provinsi atau 73 persen dari seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi yang paling banyak mengalami penurunan kasus positif adalah dari Jawa Barat turun 7.128 kasus; DKI Jakarta 5.201 kasus; Jawa Timur turun 4.407 kasus; Kalimantan Timur turun 2.959 kasus dan NTT turun 2.866 kasus.

“Penurunan kasus positif ini juga diiringi dengan penurunan positivity rate dari sebelumnya 23,57 persen pada 2-8 Agustus menjadi 21,48 persen pada 9-15 Agustus atau turun sebesar 2,09 persen,” ujarnya saat konferensi pers virtual, Kamis (19/8/2021).

Namun, sisanya yakni di 9 provinsi masih menunjukkan kenaikan kasus mingguan, yakni Jawa Tengah naik 2.952 kasus; Bali naik 1.094 kasus; Papua Barat naik 667 kasus; Kalimantan Tengah naik 553 kasus; Sulawesi Barat naik 295 kasus; Aceh naik 247 kasus,; NTB naik 208 kasus; Maluku naik 167 kasus; dan Jambi naik 41 kasus.

“Kita perlu berfokus pada 9 provinsi ini, karena artinya 9 provinsi ini menjadi penyumbang dari kenaikan kasus mingguan di tingkat nasional. Kenaikan kasus positif pada 9 provinsi ini juga perlu ditelaah lebih utamanya pada angka kematian, kesembuhan, kasus aktif, BOR, dan persentase posko terbentuk di wilayahnya,” kata Wiku.



Baca juga artikel terkait KASUS COVID INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight