Kargo Bikin Untung Maskapai, Penumpang Terbang Bersama Durian

Oleh: Ringkang Gumiwang - 8 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Jasa kargo dalam angkutan penerbangan orang jadi bisnis sampingan maskapai penerbangan.
tirto.id - Senin siang (5/11), suasana landas pacu di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu mendadak ricuh. Penumpang pesawat Sriwijaya Air yang dijadwalkan menuju Jakarta pukul 10.50 WIB itu, tiba-tiba turun dari pesawat.

Dalam video yang diunggah, petugas dan penumpang bahkan sempat adu mulut. Beberapa orang, lalu mencoba mendamaikan “Hei..hei..hei.. sudah.. sudah.. sudah.. sudah," kata salah seorang dari kerumunan.

Kericuhan yang terjadi di landas pacu dipicu dari bau durian yang menyengat di dalam kabin pesawat. Pesawat Sriwijaya Air pada hari itu memang tengah membawa durian di bagasi pesawat. Penumpang pun protes karena baunya yang menyengat, dan dianggap berbahaya buat penerbangan.

Penumpang memaksa petugas untuk menurunkan durian dari pesawat. Permintaan mereka akhirnya dilakukan pihak Sriwijaya Air. Akibat kejadian itu, keberangkatan pesawat menjadi tertunda sekitar satu jam.

Sriwijaya Air lalu memberikan klarifikasi. Menurut mereka, mengangkut durian di pesawat merupakan hal yang biasa dalam penerbangan, dan tidak menyalahi aturan.

“Mengangkut durian dalam penerbangan itu hal biasa bagi setiap maskapai, sejauh dikemas dengan baik dan masuk ke dalam kargo sesuai dengan SOP,” kata Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air Group Retri Maya kepada Tirto.


Kargo yang dibawa Sriwijaya kala itu pun masih dalam batas aman, yakni sekitar 3 ton atau jauh dari kapasitas berat maksimum untuk lepas landas pesawat terbang atau biasa disebu Maximum Take Off Weight (MTOW).

Setiap jenis pesawat memiliki MTOW berbeda, Boeing 737-800 misalnya memiliki MTOW 78,96 ton. Artinya, massa yang diangkut di pesawat mencakup awak pesawat dan barang bawaannya, penumpang dan barang bawaannya, kargo, oli mesin pesawat, bahan bakar, cairan hidrolik dan perlengkapan serta pernak-pernik yang ada di pesawat seperti oven, makanan dan lain sebagainya tidak boleh lebih dari 78,96 ton saat akan lepas landas.

Maya juga merinci kargo yang diangkut Sriwijaya kala itu tidak seluruhnya durian. Dari total massa kargo 3 ton, durian hanya sekitar 2 ton. Ia menegaskan bahwa informasi berat durian yang diangkut mencapai 3 ton adalah tidak benar.

Artinya persoalan beban pesawat bukan jadi persoalan asalkan tidak melebihi WTOW. Bagaimana dengan barang yang berbau menyengat seperti durian?

Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan juga memastikan bahwa pesawat yang mengangkut barang-barang berbau khas, seperti durian tidak melanggar aturan. Namun, ada SOP yang harus dilakukan agar tidak mengganggu penumpang.

“Yang harus diperhatikan adalah proses pengemasannya sampai dengan loading cargo itu ke bagasi pesawat, harus sesuai dengan SOP yang berlaku,” kata Plt Dirjen Perhubungan Udara M. Pramintohadi Sukarno kepada Tirto.

Protes keras dari penumpang terhadap durian yang diangkut pesawat bukan tanpa sebab. Selain persoalan bau, durian yang diangkut pesawat mengingatkan pada memori kelam kecelakaan Mandala Air pada September 2005 silam.

Kecelakaan yang menyebabkan 100 penumpang dan 49 warga tewas dikaitkan karena Mandala Air membawa 2 ton durian, sehingga menyebabkan pesawat kelebihan berat. Namun, dirut Mandala Air kala itu mengklaim tidak ada durian di pesawat.

Namun, simpang siur penyebab kecelakaan Mandala Air itu kini sudah jelas. Dalam laporan KNKT Indonesia, kelebihan beban bukan penyebab jatuhnya Mandala Air. Ini artinya mematahkan dugaan bahwa durian 2 ton yang menyebabkan Mandala Air kelebihan beban, dan akhirnya jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan.


Keuntungan dari Kargo


Pesawat penumpang ditujukan untuk melayani penumpang beserta barang yang dibawanya. Jika membawa barang yang kecil atau ringan, penumpang bisa menaruh di kabin. Namun apabila ukurannya besar dan berat, maka barang tersebut akan ditaruh di bagasi pesawat.

Namun, bagasi yang disediakan setiap pesawat umumnya tidak pernah penuh. Alhasil, sisa ruang bagasi itu kerap digunakan maskapai untuk melayani jasa kargo atau ekspedisi guna menambah pundi-pundi pendapatan.

“Umumnya [yang diprioritaskan] adalah penumpang dan bagasinya. Namun, maskapai boleh saja menerima barang dari bukan penumpang,” tutur Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal INACA Bayu Sutanto kepada Tirto.

Jurus maskapai memanfaatkan ruang bagasi yang tersedia untuk melayani jasa kargo bukan tanpa alasan. Sebab, margin untung dari tiket penumpang terbilang kecil. Menurut asosiasi pengangkutan udara internasional atau International Air Transport Association (IATA), rata-rata margin bersih maskapai global hanya 4,7 persen. Nilai ini tipis bila dibandingkan dengan usaha lain, sehingga maskapai perlu memaksimalkan pemasukan.

Sebaliknya, margin untung dari kargo udara justru maksimal lantaran seluruh biaya operasional pesawat ditanggung sepenuhnya dari tiket penumpang. Untuk itu, hal yang wajar jika maskapai mulai giat mencari cara untuk meningkatkan pemasukan dari jasa kargo.

Infografik Kargo Udara


Garuda Indonesia merupakan salah satu maskapai yang fokus meningkatkan pendapatan dari kargo. Keseriusan Garuda menggarap kargo juga terlihat dengan adanya direktur yang khusus menangani kargo mulai 2015.

“Potensi pasar kargo udara ini besar, apalagi dengan e-commerce yang tengah berkembang. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga kargo udara sangat diperlukan,” tutur Ikhsan Rosan, Sekretaris Perusahaan Garuda Indonesia kepada Tirto.


Fokus Garuda terhadap bisnis kargo membuat pendapatan kargo maskapai terus meningkat. Pada September 2018, pendapatan kargo Garuda mencapai US$178 juta, naik 4 persen dari periode yang sama 2017 sebesar US$171 juta.

Meski pendapatan kargo cukup positif, namun belum cukup kuat untuk Garuda lepas dari kerugian. Pada September 2018, Garuda mencatatkan rugi sebesar US$110,23 juta, turun 50 persen dari periode yang sama 2017 sebesar US$221,9 juta.

Praktisi aviasi Marisa Garcia dalam tulisannya berjudul “When Airlines Worry More About Cargo Than They Do About Passengers” menyebutkan kargo di mata maskapai lebih disukai ketimbang para penumpang.

Berbeda dengan penumpang, kargo tidak pernah mengeluh soal keramaian atau berharap ada perlakuan khusus. Kargo juga tidak gaduh saat dalam penerbangan, dan bayaran untuk jasa kargo juga menjanjikan.


Rata-rata sumbangan kargo terhadap pendapatan maskapai mencapai 15-20 persen. Meski kecil, pendapatan kargo yang masuk ke kantong maskapai langsung menjadi profit lantaran biaya operasional pesawat sudah ditanggung oleh penumpang.

“Selain itu, tidak seperti penumpang yang sensitif terhadap kenaikan harga tiket, konsumen kargo justru siap membayar layanan ekspedisi dari maskapai secara premium,” tutur Marisa dikutip dari Skift.

Apa yang disebutkan Marisa tidak melenceng. Baru-baru ini Garuda juga menaikkan tarif kargonya sebesar 15 persen. Kenaikan tarif itu juga didorong dari melemahnya kurs rupiah dan meningkatnya harga avtur. Bagi maskapai penerbangan, kargo memang menyenangkan, tapi bagi penumpang bisa tidak menyenangkan seperti yang terjadi pada penumpang Sriwijaya Air di Bengkulu.

Baca juga artikel terkait MASKAPAI PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra