tirto.id - Peh Cun adalah tradisi Cina yang diselenggarakan setiap hari 100 penanggalan imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan Peh Cun adalah pesta air yang diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan. Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya, ia akan melempar kue yang bernama tiong cu pia. Bagi perempuan yang ditaksir jika ia senang ia akan melemparkan kue sejenis ke arah laki-laki yang menyukainya. Dari sinilah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kalijodo karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh.
Sejak masa-masa penjajahan Belanda, Kalijodo dikenal sebagai tempat orang mencari cinta. Perempuan yang akan menjadi gundik disebut Cau Bau. Cau Bau dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan pelacur. Mereka bukan bertujuan untuk melacur, tapi perempuan tersebut menghibur dan mendapatkan uang atas pekerjaannya. Pengunjung kalijodo bukan hanya dari etnis Tionghoa tetapi juga pelbagai suku yang mencari hiburan di situ.
Kalijodo semakin terkenal sejak penutupan kramat tunggak. Lokasi kalijodo yang ada saat ini, sebenarnya bukanlah lokasi semula melainkan berada di seberangnya. Tetapi karena digusur pada tahun 2000an akhirnya mereka membeli rumah-rumah penduduk yang ada di seberangnya dan kini terus berkembang menjadi kawasan kalijodo yang dikenal sekarang.
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Masuk tirto.id





























