Menuju konten utama

Kabar Mobilisasi Becak ke DKI dan Inkonsistensi Ucapan Anies-Sandi

Lurah Pekojan, Jakarta Barat, Tri Prasetyo memastikan tidak ada mobilisasi becak dari luar Jakarta yang beroperasi di daerahnya.

Kabar Mobilisasi Becak ke DKI dan Inkonsistensi Ucapan Anies-Sandi
Mamad (50), tukang becak di Pasar Angke, Tambora, Jakarta Barat yang telah mendaftakan becaknya ke Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Kamis (25/1/2017). tirto.id/Hendra Friana.

tirto.id - Beberapa tukang becak di Pasar Cipluk, Tanah Pasir, Jakarta Utara, menyangkal kabar datangnya truk-truk pengangkut becak dari luar DKI ke wilayah tersebut. Mereka justru heran dan mempertanyakan dari mana datangnya informasi simpang-siur itu.

Hoax ya mungkin itu. Kami enggak ada yang lihat, kalau ada pasti juga langsung disuruh pulang sama Dishub,” kata Aziz, koordinator becak di Pasar Cepluk saat ditemui Tirto, Senin (29/1/2018).

Pernyataan Aziz ini adalah respons atas kabar simpang siur ihwal adanya sejumlah truk yang mengangkut becak ke Jakarta. Kedatangan becak-becak ini disebut terjadi di kolong flyover Bandengan saat pendataan becak tengah dilakukan Dinas Perhubungan dan Transportasi Pemprov DKI Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Hal senada juga diungkapkan Mamad (50), tukang becak dari Pasar Angke, Tambora, Jakarta Barat. Bersama beberapa rekannya, ia mengaku terkejut ketika mengetahui dalam salah satu media memberitakan soal becak-becak yang baru didatangkan ke Jakarta pada saat pendataan. Padahal, menurut Mamad, dirinya telah menarik becak puluhan tahun di Pasar Angke.

Mamad pun menjelaskan perbedaan bentuk becak Pasar Angke dengan becak-becak dari luar kota. Menurut dia, becak yang biasa beroperasi di Pasar Angke biasanya tidak ada kap yang bisa dibuka dan ditutup.

“Semua di sini begitu. Kalau hujan, ya kehujanan. Panas, ya biarin saja kepanasan. Dari dulu enggak boleh [ada kap]” kata dia.

Demi memastikan lebih jauh benar-tidaknya kabar tersebut, Tirto menghubungi Lurah Pekojan, Jakarta Barat, Tri Prasetyo. Menurutnya, para tukang becak di beberapa kelurahan di Tambora, Jakarta Barat, serta Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara memang dikumpulkan di kolong flyover Bandengan untuk didata pada Kamis hingga Jumat pekan lalu.

Lokasi pendataannya terbagi menjadi dua: becak dari Kecamatan Penjaringan berada di depan Jalan Kertajaya, sementara becak dari kelurahan Pekojan di depan Jalan Jembatan Dua.

“Semuanya tidak ada yang dari luar daerah. Yang dari Jawa memang ada, orang Tegal dan Pemalang dan lain-lain itu. Tapi mereka yang sudah puluhan tahun ngebecak di Pekojan. Becaknya enggak ada yang dari Jawa,” kata dia saat dihubungi Tirto.

Sebelumnya, kata Prasetyo, dirinya juga mendapat kabar adanya truk-truk pengangkut becak yang datang ke kolong flyover Bandengan sebelum pendataan. Namun, setelah turun ke lapangan dan mengklarifikasi ke petugas Dishub DKI, informasi tersebut tidak benar.

“Enggak ada tuh becak-becak baru. Yang ada cuma yang lama-lama di sekitar Tambora,” kata Lurah Pekojan menjelaskan.

Sejumlah warga yang ditemui Tirto, di sekitar flyover Bandengan juga menyampaikan hal serupa. Piih (51), tukang ojek yang sehari-hari mangkal di kolong flyover Bandengan juga mengaku tak pernah menyaksikan adanya truk pengangkut becak yang datang ke sana.

Sesaat sebelum pendataan oleh Dishub DKI tersebut, Piih mengaku hanya melihat para tukang becak keluar dari berbagai gang dan bergerombol di samping perlintasan sebidang kolong flyover yang ditutup.

“Saya di sini aja ngeliatin pada dateng sekitar jam 8 sudah pada kumpul. Ya memang jarang-jarang sih. Pada dikasih stiker apa gimana, itu ada yang saya kenal juga. Rata-rata orang sini semua,” kata Piih bercerita.

Respons Anies-Sandi Dinilai Tak Konsisten

Sayangnya, kesimpangsiuran kabar mobilisasi becak tersebut diperparah dengan pernyataan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Mula-mula, Anies membenarkan laporan soal adanya gelombang becak ke Jakarta yang ia terima dari Kepala Satpol-PP DKI, Yani Wahyu pada Kamis pagi. Beberapa hari setelahnya, tanpa konfirmasi lebih lanjut, Sandiaga menyebut bahwa becak-becak itu sengaja dimobilisasi agar Jakarta tak stabil.

“Sudah ada beberapa laporan yang masuk. Enggak mungkin tukang becak yang dari daerah itu bisa kayuh sendiri ke sini,” kata Sandiaga, di RPTRA Taman Sawo, Cipete Utara, seperti kutip Antara, Minggu (28/1/2018).

Padahal, saat dihubungi Tirto, Kasatpol PP, Yani Wahyu juga mengaku belum tahu pasti kebenaran informasi dari anak buahnya itu. “Baru laporan awal. Dari Kasatpol PP Jakarta Barat. Katanya mau ada yang masuk. Tapi saya belum terima laporan lagi,” kata Yani.

Yani juga memberikan penekanan saat mengucapkan “katanya” dalam penjelasan tersebut. Hal yang sama juga ia sampaikan ketika ditanya di mana saja mobilisasi becak itu terjadi. “Apa betul atau enggak, kan nanti mesti dicek. Sampai saat ini sih belum ada laporan,” kata Yani.

Pengamat Komunikasi Politik, Lely Arrianie, menilai seharusnya Anies dan Sandi tidak reaktif menanggapi isu soal mobilisasi becak masuk Jakarta, karena akan menimbulkan setidaknya dua konsekuensi. Pertama, kata dia, jika informasi itu tidak benar, berarti Anies-Sandi turut menyebarkan hoax. Kedua, hal itu justru menggambarkan inkonsistensi mereka terhadap keberpihakan pada rakyat kecil.

“Saya kira itu prejudice yang tidak tepat. Toh kalau pun ada becak yang masuk, itu kan respons dari stimulus yang diberikan Anies-Sandi dalam kebijakannya memperbolehkan becak. Jadi jangan berprasangka,” kata dia.

Seharusnya, kata Lely, Anies-Sandi mengklarifikasi kabar tersebut dan memberikan penjelasan yang clear kepada publik. Sebab, pernyataan-pernyataan yang hanya didasarkan prasangka justru akan membuat perdebatan penataan becak menjadi kontraproduktif dengan tujuan membangun Jakarta bagi semua kelas sosial.

“Harusnya diarahkan lebih pada ke penataannya, seperti bagaimana mereka dijadikan angkutan untuk pariwisata. Apakah dia nantinya berada di Monas, dimodifikasi becaknya menjadi lebih bagus dengan ciri khas budaya Betawi, atau mau seperti apa,” kata doktor lulusan Universitas Padjajaran ini.

Dengan begitu, kata dia, masyarakat bisa menilai apakah kebijakan terhadap becak sekedar langkah politik, atau keberpihakan Anies-Sandi terhadap masyarakat kecil. "Ini yang saya lihat sering luput dari pernyataan-pernyataan mereka ke media," kata dia menambahkan.

infografik balada becak

Baca juga artikel terkait BECAK atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Abdul Aziz & Maulida Sri Handayani